JawaPos Radar | Iklan Jitu

Afghanistan Kembali Bergejolak, Taliban Serang Militer

23 Januari 2019, 20:42:51 WIB
taliban, afghanistan,
Afghanistan kembali bergejolak. Taliban menyerang fasilitas pelatihan militer di Provinsi Maidan Wardak Senin (21/1) (The Indian Express)
Share this

JawaPos.com – Afghanistan kembali bergejolak. Taliban menyerang fasilitas pelatihan militer di Provinsi Maidan Wardak Senin (21/1). Aksi yang diawali dengan ledakan mobil Humvee itu disusul penembakan brutal. Belasan nyawa melayang. Sedangkan puluhan lainnya terluka. Selain personel keamanan, insiden itu mengakibatkan para kadet di area tersebut menjadi korban.

Serangan itu terjadi sekitar pukul 07.00 waktu setempat. Menurut The Guardian, ada sekitar 150 personel National Directorate for Security (NDS) di markasnya saat Taliban menyerang. Bangunan utama milik NDS itu, agaknya, memang menjadi sasaran aksi Senin pagi. Di gedung itulah selama ini para intelijen Afghanistan bersarang.

’’Musuh telah menyerang dan merenggut nyawa putra-putra terbaik bangsa kita,’’ ujar Presiden Afghanistan Ashraf Ghani sebagaimana dilansir Reuters. Dia mengecam keras aksi biadab yang sampai menimbulkan korban jiwa tersebut.

taliban, afghanistan,
Serangan itu terjadi sekitar pukul 07.00 waktu setempat. Menurut The Guardian, ada sekitar 150 personel National Directorate for Security (NDS) di markasnya saat Taliban menyerang (Reuters)

Sejauh ini, tidak ada laporan pasti tentang jumlah korban. CNN menyatakan, kira-kira ada 12 orang yang meninggal dalam peristiwa tersebut. Tapi, Reuters justru menyebutkan bahwa angka korban jiwa sudah mencapai ratusan.

’’Kami mendapat informasi bahwa korban jiwa mencapai 126 orang akibat serangan itu. Di antara mereka, ada delapan personel pasukan komando khusus,’’ ujar salah seorang pejabat Kementerian Pertahanan Afghanistan di Kabul.

Sharif Hotak, anggota parlemen Maidan Wardak, mengaku melihat 35 jenazah tentara di rumah sakit. Beberapa korban luka dikirim ke rumah sakit di Kabul untuk mendapatkan perawatan intensif. ’’Pemerintah sengaja menyembunyikan angka korban untuk menjaga moral militer Afghanistan,’’ katanya.

Jubir Taliban Zabihullah Mujahid memastikan bahwa serangan tersebut dilakukan kubunya. Pada saat yang sama, dia juga mengumumkan tentang negosiasi perdamaian yang berlanjut lagi di Qatar. ’’Pembicaraan antara pemimpin Taliban dan utusan AS sudah dimulai di Qatar,’’ ungkapnya beberapa jam setelah serangan terjadi.

Negosiasi damai Taliban dan pemerintah Afghanistan memang tersendat. Sebab, pemerintahan Ghani meminta ikut dalam perundingan. Permintaan tersebut langsung ditolak Taliban. Itu membuat tensi Afghanistan meninggi di ujung 2018. Hal itu membuat banyak orang mengkritisi keputusan Presiden AS Donald Trump yang menarik tentara bantuan dari negara tersebut.

’’Menarik personel, meski hanya berupa kata-kata, akan menghancurkan pilar yang sudah dibangun selama bertahun-tahun,’’ ujar John Allen, mantan komandan koalisi NATO di Afghanistan.

Editor           : Dyah Ratna Meta Novia
Reporter      : (bil/c7/hep)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up