JawaPos Radar

Catatan Mahasiswa Indonesia di Tiongkok

Merayakan Lebaran Versi Mahasiswa dan Pemerintah di Tiongkok

22/06/2018, 20:05 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Merayakan Lebaran Versi Mahasiswa dan Pemerintah di Tiongkok
()
Share this

JawaPos.com - Ramadan telah berlalu dan meninggalkan fitrah bagi setiap umat muslim di seluruh belahan bumi. Berbagai macam kegiatan bahkan tradisi pun dipersiapkan untuk menyambut hari kemenangan ini. Begitu juga di Tiongkok, khususnya di Nanchang, kota tempat saya menempuh pendidikan.

Ada cerita dan hikmah tersendiri bagi saya. Sebab, lebaran di Nanchang dilakukan di dua tempat dengan dua versi. Namun, dengan esensi dan nilai-nilai spritual yang tetap sama. Seperti ini ceritanya:

Merayakan Lebaran Versi Mahasiswa dan Pemerintah di Tiongkok

Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar…

Suara takbir dilantunkan oleh Muhammad Jarar, mahasiswa kedokteran asal Yordania di lapangan sepak bola kampus medical Universitas Nanchang, Sabtu (16/6) pagi. Sekitar seratus lebih mahasiswa muslim dari berbagai negara berkumpul untuk menjalankan salat Idul Fitri bersama.

Nuansanya tidak semeriah di Indonesia. Hanya saja, beberapa mahasiswa lokal yang kebetulan lewaat di area lapangan tiba-tiba singgah dan berkumpul melihat aktivitas ibadah kami. Beberapa yang sedang jogging di pinggir lapangan, tapi tidak peduli dengan aktivitas kami.

Sebenarnya, kami memastikan Idul Fitri jatuh pada Jumat. Pengumuman yang disampaikan Kamis (14/6) malam membuat kami sempat gundah. Setelah salat Isya apakah dilanjut tarawih atau tidak. Saya dan beberapa mahasiswa muslim dari Indonesia, Yaman dan Guinea duduk dan berdiskusi sambil menunggu informasi resmi dari Imam Masjid Nanchang.

Sekitar pukul 21.00 melalui pesan video, Imam masjid mengumumkan bahwa 1 Syawal jatuh pada Jumat (15/6). Namum, masyarakat muslim di Nanchang baru akan menjalankan salat Ied sehari setelahnya, Sabtu (16/6). Kenapa? Karena China Islamic Association (CIA) menetapkan 1 Syawal 1439 H jatuh pada Sabtu. Lebih lambat sehari dibandingkan Indonesia dan beberapa negara yang lainnya.

Merayakan Lebaran Versi Mahasiswa dan Pemerintah di Tiongkok

Imam masjid menyatakan bahwa otoritas setempat sudah menetapkan jadwal salat Idul Fitri pada Sabtu dan tidak dapat diubah secara mendadak. Itulah kenapa, mahasiswa asing Muslim yang ada di Universitas Nanchang menjalankan salat Ied sendiri. Terpisah dari Muslim lokal yang baru melaksanakan salat Ied pada Sabtu.

Setelah kami Salat Ied dan saling bermaaf-maafan, seorang teman menghampiri kami dan membagikan Hongbao lebaran. Hati yang mulai sendu seketika riang gembira. Kami pun berfoto bersama untuk mengenang adanya hari ini lalu kembali ke asrama dengan berjalan kaki.

Siang harinya, pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok Cabang Nanchang menggelar acara halalbihalal. Selain mahasiswa Indonesia, turut pula diundang pelajar dari Yaman, Nigeria, Guinea, Syiria dan Korea. Kami bersama-sama merayakan hari lebaran dengan menyantap lontong soto dan opor ayam. Makan bersama ini sedikit mengobati rasa rindu kami akan masakan khas lebaran di tanah air.

Sehari setelah kami melaksanakan salat Idul Fitri di kampus, giliran masyarakat Muslim lokal Nanchang yang merayakannya. Diawali dengan salat Ied di Masjid besar Honggutan. Mesjid itu baru diresmikan pada perayaan Idul Adha 2012 lalu. Saat persemian begitu ramai, didatangi ribuan orang  hingga memenuhi pekarangan sekitarnya.

Merayakan Lebaran Versi Mahasiswa dan Pemerintah di Tiongkok

Beberapa bendera berwarna hijau dan bertuliskan kalimat Laa ilaahaillallah di tancapkan di pagar masjid. Berbagai jajanan halal seperti sate domba, ayam guling, roti-rotian dan kurma siap memanjakan lidah jamaah yang datang. Pada Sabtu itu, semarak Idul Fitri benar-benar terasa.

Salat Ied dan rangkaiannya tidak luput dari perhatian petugas keamanan kota setempat. Terlihat beberapa polisi dengan pakaian hitam berjaga-jaga di depan pintu masuk lokasi masjid. Hal ini dilakukan oleh otoritas pemerintah setempat untuk memastikan kegiatan Idul Fitri dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan.

Sementara untuk menu makanan pada perayaan Lebaran di Tiongkok, biasanya masyarakat memiliki menu khas masing-masing di sejumlah wilayah. Perbedaan bahan makanan di sejumlah wilayah tersebut dikarenakan letak geografis yang berbeda. Warga di daerah utara lebih terbiasa makan daging sapi dan gandum.

Sedangkan Muslim di bagian Selatan, mereka makan nasi dan mengandalkan bahan makanan laut, ayam, bebek ataupun angsa. Secara keseluruhan, Muslim lokal Tiongkok sendiri selalu menyediakan Lamian (salah satu jenis mie tarik) sebagai menu wajib Hari Raya. Mirip dengan keberadaan lontong, opor, maupun ketupat di Indonesia.

Mie yang panjang dan berstektur lembut itu biasanya disajikan dengan kuah daging bercampur sayuran. Atau, bisa juga di goreng kemudian disajikan  dengan daging cincang dan saus tomat. Bagi orang Tiongkok, mie merupakan simbol panjang umur sehingga selalu menjadi menu special di setiap perayaan termasuk Idul Fitri.

 “Selamat lebaran dari kami yang saat ini sangat merindukan makasakan khas lebaran mama di rumah”.

Ditulis oleh:

Sitti Marwah

Master of International Relations Student at Nanchang University.

Head of PPIT Nanchang 2015-2017, PPI Tiongkok (ppidunia.org)

untuk JawaPos.com

(dim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up