JawaPos Radar

Kejam, Para Senator AS Tetap Dukung Perang Yaman Terus Berlangsung

22/03/2018, 07:05 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Kejam, Para Senator AS Tetap Dukung Perang Yaman Terus Berlangsung
Akibat Perang Yaman banyak warga sipil jatuh sakit, kelaparan, hingga meninggal (Al Jazeera)
Share this image

JawaPos.com - Rencana Amerika Serikat (AS) mengakhiri dukungan militernya untuk Arab Saudi terhadap perang Yaman dipastikan batal. Dalam pemungutan suara yang dilakukan senat AS pada Selasa, (20/3), perbandingan suara yang diraih 55-44. Rupanya lebih banyak senator yang menginginkan dukungan militer AS terhadap Saudi.

Seperti dilansir dari VOA News Selasa, (20/3), pemungutan suara dilakukan pada hari yang sama dengan pertemuan Putra Mahkota Saudi Mohammed Bin Salman (MBS) dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.

Pemungutan suara tersebut dilakukan untuk pertama kalinya guna mengambil keuntungan dari sebuah ketentuan dalam Undang-Undang Kekayaan Perang 1973 yang memungkinkan senator untuk mengambil alih resolusi mengenai apakah akan menarik angkatan bersenjata AS dari sebuah konflik.

Sebelum pemungutan suara, beberapa senator menyebut konflik tiga tahun di Yaman sebagai malapetaka kemanusiaan. Senator Independen, Bernie Sanders mencatat kematian ribuan warga sipil, jutaan orang jadi pengungsi, kelaparan, dan potensi wabah kolera terbesar terjadi akibat Perang Yaman.

"Itulah yang terjadi di Yaman hari ini sebagai akibat dari perang yang dipimpin Saudi di sana," kata Sanders.

Sementara, Senator Mike Lee lebih mendukung terjadinya Perang Yaman tersebut. Ia menekankan, hal itu telah berlangsung beberapa lama, dan tidak diberi batas waktu, dengan cara apapun.

"Arab Saudi adalah mitra tak terpisahkan, dan tanpanya Amerika Serikat akan kurang berhasil," kata Lee.

Konflik di Yaman telah menewaskan lebih dari 13.500 orang. Mereka tewas akibat serangan udara. Sekitar 20 juta warga Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar, termasuk makanan dan air, dari populasi sebelum perang sebesar 28 juta, dan hampir 1 juta orang menderita kolera.

(ina/iml/trz/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up