alexametrics
Bursa Capres AS

Senator Perempuan Blasteran India-Jamaika Kejar Tiket dari Demokrat

Kamala Harris Mulai Kampanye
22 Januari 2019, 15:28:13 WIB

JawaPos.com – Pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) yang dihelat pada 2020 mulai menghangat. Kamala Harris menjadi kandidat terbaru Demokrat yang menyatakan kesediaannya memimpin AS. Bersamaan dengan Hari Martin Luther King Jr kemarin, senator AS itu mulai berkampanye untuk bertarung di pemilu internal partai.

Harris sengaja memilih Senin (21/1) sebagai waktu deklarasi. Itu dia lakukan untuk menghormati dua tokoh inspiratornya. Pertama, sosok pejuang hak sipil Martin Luther King. Kedua, Shirley Anita Chisholm, kandidat presiden perempuan kulit hitam pertama AS. Chisholm mengumumkan pencalonannya pada 25 Januari 1972.

“Sangat penting mengingat bahwa Amerika masih punya kekurangan. Namun, ada harapan untuk memperbaikinya,” ungkap dia seperti dilansir Washington Post.

Sebelum Harris, sebenarnya sudah ada dua senator perempuan lain yang menyatakan kesiapannya maju pilpres, yakni senator Elizabeth Warren dan Kirsten Gillibrand. Namun, sosok Harris jelas berbeda dengan mereka. Sebab, perempuan 54 tahun itu mewakili keberagaman dan minoritas di AS. Harris ada­lah keturunan imigran Jamaika dan India. Jika terpilih, dia bakal menjadi presiden perempuan pertama dan presiden keturunan Asia pertama.

“Keadilan, keberadaban, kesetaraan, kebebasan, dan demokrasi. Hal-hal tersebut bukan hanya kata-kata,” ungkapnya dalam pesan video deklarasinya. Sayang, Harris belum mempunyai popularitas secara nasional. Survei CNN pada September 2018 menyatakan bahwa 51 persen pemberi suara tak pernah mendengar nama dan kiprah Harris.

Perempuan kelahiran Oakland, California, itu justru punya beberapa kontroversi yang menghantuinya di dunia politik. Misalnya masa-masa saat dia berkarir sebagai jaksa -meski lahir dari rahim aktivis. Juga saat dia tak menuntut hukuman mati untuk pembunuh petugas kepolisian San Francisco Isaac Espinoza.

Namun, Harris juga mempunyai prestasi, terutama di bidang kesetaraan gender dan perlindungan anak. Lulusan Howard University itu juga punya peran penting dalam gerakan #MeToo sebagai sosok pertama yang meminta senator Al Franken mundur karena tuduhan pelecehan seksual. “Saya cinta negara saya. Karena itu, saya merasa punya tanggung jawab untuk memperjuangkan negara ini,” tegasnya. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (bil/c9/oni)

Senator Perempuan Blasteran India-Jamaika Kejar Tiket dari Demokrat