alexametrics

Presiden Erdogan: Operasi militer Turki di Syria Tak Rampas Wilayah

21 Oktober 2019, 20:17:08 WIB

JawaPos.com – Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, membantah keras bahwa operasi militer yang dilakukan pasukannya di Syria demi merampas atau menguasai wilayah tertentu. Erdogan lantas menyebut tuduhan itu sebagai penghinaan baginya dan Turki.

Seperti diketahui, aksi militer Turki melawan pasukan Kurdi telah menuai kritik dan mendorong negara-negara NATO untuk menangguhkan penjualan senjata ke Turki. Namun, Erdogan membantah secara tegas bahwa operasi militer tersebut murni untuk memerangi teroris.

Bahkan, berbicara di sebuah forum pada Senin (21/10), Erdogan justru mengkritik sekutu Turki karena tidak mendukung apa yang disebutnya perang melawan teroris.

“Turki tidak sedang mengawasi wilayah negara mana pun. Kami juga tidak merampas dan menguasai wilayah tertentu. Kami menganggap tuduhan semacam itu sebagai penghinaan terbesar yang ditujukan kepada kami,” sebut Erdogan di Istanbul seperti dilansir Al Jazeera.

Turki menegaskan bahwa YPG sebagai teroris dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang telah dilarang. Mereka telah melakukan pemberontakan di Turki sejak 1984. Berdasar itu, Turki memutuskan untuk melakukan operasi militer untuk menumpas YPG di Syria. PKK sendiri masuk daftar hitam sebagai kelompok teroris oleh Turki, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Hanya saja, tindakan militer Turki terhadap pasukan Kurdi yang memainkan peran penting dalam perang melawan Negara Islam Irak dan kelompok Levant (ISIL, ISIS) telah menuai kecaman internasional dan mendorong beberapa negara NATO untuk menangguhkan penjualan senjata baru ke Turki. Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg telah berulang kali menyuarakan keprihatinan terkait operasi militer Turki yang mulai dilakukan pada 9 Oktober. NATO meminta pasukan Syrian Kurdish menjauh dari perbatasan Turki-Syria.

Erdogan sendiri menanggapi dengan marah kritik dari NATO. “Seluruh negara-negara Barat memihak para teroris dan telah menyerang kami, termasuk negara-negara NATO dan Uni Eropa,” tegas Erdogan. “Saya pikir Anda menentang terorisme dan teroris. Apa yang terjadi? Sejak kapan Anda mulai bergerak sejalan dengan terorisme,” kesal Erdogan.

NATO wajar mengkritik Turki. Seperti diketahui, Kelompok Syrian Kurdish adalah sekutu kunci AS dalam perang melawan ISIL.

Sejatinya, aksi militer Turki menemui lampu hijau bakal mereda. Pada pekan lalu, Turki mengumumkan penangguhan serangan selama 120 jam setelah kesepakatan dengan Wakil Presiden AS Mike Pence. Para pejuang Kurdi menarik diri demi peluang “zona aman” didirikan di sepanjang perbatasan.

Hanya saja, Menteri Luar Negeri Turki memperingatkan bahwa pihaknya akan melanjutkan operasi militer jika para pejuang Kurdi tidak mundur dari wilayah tersebut sebelum batas waktu gencatan senjata berlalu pada Selasa (22/10) malam.

“Kami memiliki 35 jam lagi. Jika mereka tidak mundur, operasi kami akan dilanjutkan,” sebut Mevlut Cavusoglu, Senin (21/10) di Istanbul. “Ini seperti yang kami sepakati bersama Amerika,” imbuhnya.

Editor : Edy Pramana



Close Ads