JawaPos Radar | Iklan Jitu

Kisah Yeimy, Diperkosa Di Depan Suami Saat Perang Saudara di Kolombia

21 September 2018, 11:31:20 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
farc, kolombia, diperkosa,
Yeimy menangis, tangannya menutupi wajahnya beberapa kali tak mampu membayangkan saat suaminya diikat di tiang, mulut disumpal ketika kelompok bersenjata revolusioner Kolombia (FARC) memperkosanya (Jawapos)
Share this

JawaPos.com - Yeimy menangis, tangannya menutupi wajahnya beberapa kali tak mampu membayangkan saat suaminya diikat di tiang, mulut disumpal ketika kelompok bersenjata revolusioner Kolombia (FARC) memperkosanya. Suaminya Elkin dipaksa menyaksikan saat keempat anggota FARC memperkosanya 12 tahun lalu.

Elkin diculik oleh FARC di wilayah Tolima di Kolombia tengah setelah menolak membayar pajak revolusioner. Pilihan lainnya selain membayar pajak adalah dia menyerahkan putra mereka yang berusia enam tahun kepada pemberontak Marxis untuk menjadi bagian dari kelompok bersenjata itu.

Setelah menjelajahi hutan selama berhari-hari untuk menemukan kamp pemberontak, Yeimy memohon agar suaminya dibebaskan tetapi komandan FARC, menuntut tawaran yang mengerikan.

"Dia mengatakan kepada saya, 'Saya akan memilih empat anak buah saya dan mereka dapat melakukan apa yang mereka inginkan dengan Anda'," kata pria berusia 37 tahun itu dilansir dari Reuters Jumat (21/9).

Setelah mendapatkan kesepakatan untuk membebaskan suaminya, Yeimy melarikan diri bersama keluarganya ke Soacha, dekat Bogota, ibu kota Kolombia, yang menjadi rumah bagi puluhan ribu orang yang terlantar akibat konflik.

Namun, dua tahun kemudian para pemberontak yang menculik suami Yeimy menemukan mereka, mengklaim pasangan itu masih memiliki urusan dengan FARC, urusan yang disebut pajak revolusioner. Yeimy mengatakan mereka mengambil suaminya dan menembaknya.

Yeimy adalah salah satu dari ratusan perempuan yang datang untuk berbicara dengan korban lainnya tentang dugaan pelecehan seksual mereka selama lima dekade perang saudara Kolombia di Kolombia. Setelah kesepakatan damai 2016 dengan FARC, pemerintah membentuk Pengadilan Perdamaian Khusus (JEP) untuk mengadili kejahatan yang dilakukan oleh semua pihak dalam konflik.

"Yeimy telah memulai sesi terapi dengan seorang psikolog untuk mengatasi rasa takutnya sehingga dia dapat bersaksi di depan pembela umum," kata Sonia Tarquino, yang menjalankan program korban di Soacha.

Juru Bicara FARC menolak mengomentari tuduhan kejahatan perang sejak kesepakatan damai, mereka mengatakan kasus-kasus ini akan didengar oleh JEP. Tapi bulan lalu, tiga asosiasi korban mengirimkan 2.000 kasus pelecehan seksual yang terdokumentasi ke JEP.

Pusat Nasional Memori Historis Kolombia memperkirakan 15.687 orang menjadi korban kekerasan seksual selama konflik, di tangan kelompok paramiliter sayap kanan, pasukan keamanan dan gerilyawan.

Kelompok-kelompok bersenjata menggunakan kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, untuk menanamkan rasa takut di masyarakat. Ini digunakan sebagai cara untuk memaksakan kendali mereka atas suatu daerah dan sebagai bentuk hukuman.

(iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up