JawaPos Radar | Iklan Jitu

Jeritan Istri Fotografer Palestina di Syria: Mereka Membunuh Cintaku

21 Juli 2018, 16:10:59 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Jeritan Istri Fotografer Palestina di Syria: Mereka Membunuh Cintaku
Setelah bertahun-tahun berharap bahwa keluarga akan melihat Saied lagi, setelah bertahun-tahun berpegang pada harapan mereka akan melihat kerabat tercinta mereka lagi, kerabat Saied menerima konfirmasi bahwa dia meninggal (Al Jazeera)
Share this

JawaPos.com - Seorang fotografer Palestina pemenang penghargaan dari kamp pengungsi Yarmouk, Syria telah dipastikan tewas. Menurut keluarga dan teman-teman dekatnya, ia meninggal setelah penangkapannya oleh pasukan Pemerintah Syria.

Niraz Saied, yang dikenal karena mendokumentasikan kehidupan di dalam kamp di Damaskus selatan, ditangkap oleh pasukan yang setia kepada Presiden Bashar Al Assad pada Oktober 2015. Ia ditangkap, tak lama setelah dijanjikan keluar dari negara itu dengan aman oleh pemerintah.

Setelah bertahun-tahun berharap bahwa keluarga akan melihat Saied lagi, setelah bertahun-tahun berpegang pada harapan mereka akan melihat kerabat tercinta mereka lagi, kerabat Saied menerima konfirmasi bahwa dia meninggal sekitar berbulan-bulan yang lalu.

Jeritan Istri Fotografer Palestina di Syria: Mereka Membunuh Cintaku
Konfik Syria telah membunuh ribuan warga sipil dan mendorong pengungsian masal (Infografis: Kokoh Praba Wardani/JawaPos.com)

Kerabat yang memberitahu keluarga tersebut adalah Ahmed Abbassi, 26 tahun, seorang teman masa kecil dan rekan jurnalis foto, dan tinggal di Syria. Istri Saied, yang tinggal di Jerman menulis di Facebook suaminya, "Terbunuh di penjara rezim."

"Tidak ada kata-kata yang lebih sulit untuk ditulis selain ini," kata istri Saied, Lamis Al Khateeb beberapa hari lalu dilansir dari Al Jazeera.

"Mereka membunuh cintaku, suamiku, mereka membunuh Saied. Mereka membunuhmu belahan jiwaku," tambah Khateeb, yang melarikan diri dari Syria pada 2011.

Abbassi mengatakan, anggota keluarga Saied percaya dia disiksa sampai mati di dalam penjara di Damaskus selatan. "Setelah empat bulan ditahan, kami berhenti mendengar apa-apa tentang Saied," kata Abbassi.

Kerabat Saied mencoba untuk berkomunikasi melalui pemerintah namun gagal. Menurut Abbasi, mereka hanya dia saja dan menolak jika mereka menanyakan tentang Saied.

Pemerintah Syria biasanya tidak mengeluarkan sertifikat kematian bagi tahanan yang meninggal di dalam penjara. Selain itu mereka juga tidak mengirim mayat kembali ke keluarga untuk dimakamkan secara layak.

Saied lahir sebagai pengungsi generasi ketiga Palestina di Yarmouk, kamp pengungsi terbesar di Syria. Kakek-neneknya diusir dari desa mereka Awlam pada 1948 selama Nakba, atau malapetaka, mengacu pada pembersihan etnis Palestina oleh paramiliter Zionis dan penghancuran total dekat masyarakat Palestina.

Bersama dengan Abbassi dan tim aktivis pemuda, Saied mendokumentasikan kesulitan yang dihadapi oleh ribuan keluarga Palestina yang hidup melalui salah satu blokade perang paling mematikan.

"Kami mengambil foto dan memberikan kepada berbagai saluran berita dari apa yang kami lihat. Dari dampak pengepungan terhadap pertempuran di lapangan dan serangan udara pemerintah," kata Abbassi.

Singkat cerita, setelah meninggalkan Yarmouk, Saied menetap di daerah yang dikuasai pemberontak di Damaskus selatan. Sementara sembilan dari rekan-rekannya berangkat ke Turki dan akhirnya Eropa, Saied tidak dapat pergi, dihadapkan dengan penundaan pemerintah yang terus-menerus dalam memfasilitasi keberangkatannya.

Dia mulai mencari jalan keluar lain untuk bergabung dengan istrinya di Jerman, tetapi pada 2 Oktober 2015, pasukan keamanan Syria menggerebek kediamannya dan membawanya ke sebuah cabang intelijen di Damaskus.

(iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up