JawaPos Radar | Iklan Jitu

Jalani Pernikahan Bayaran, Pria Syria Bertahan Hidup di Pengungsian

21 Juli 2018, 13:45:12 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Jalani Pernikahan Bayaran, Pria Syria Bertahan Hidup di Pengungsian
Pengungsi Syria bertahan hidup di Turki (Getty Images)
Share this

JawaPos.com - Meskipun banyak cerita tentang perempuan pengungsi Syria di Turki yang dijual melalui pernikahan, namun belum banyak cerita tentang orang-orang Syria yang menjual diri mereka atas nama pernikahan. Alaa, salah satu pria Syria yang melakukannya.

Seperti dilansir Newsdeeply beberapa waktu lalu, Alaa tinggal di ruang bawah tanah di Istanbul, Turki bersama ibu dan saudara perempuannya. Sebagai pencari nafkah tunggal untuk keduanya, Alaa mengatakan, dia harus bekerja sebagai pelayan selama 12 jam sehari untuk membayar sewa dan tagihan.

Pria Syria 33 tahun tersebut mengaku, ia tidak mendapatkan cukup uang untuk membayar penyelundup ilegal yang dapat mengangkut keluarganya ke Eropa. Jadi dia mencari cara lain untuk mengumpulkan uang, yakni dengan menjual diri dengan melakukan pernikahan dengan seorang perempuan asal Kuwait usianya yang jauh lebih tua darinya.

"Saya tidak pernah berpikir bahwa suatu hari saya akan dipaksa untuk menjual tubuh saya kepada seorang perempuan yang tidak saya cintai. Seorang perempuan yang tidak mecintai saya juta namun saya tidak punya pilihan lain," kata Alaa.

Jalani Pernikahan Bayaran, Pria Syria Bertahan Hidup di Pengungsian
Pengungsi Syria bertahan hidup d pengungsian (The Reveal Site)

Meskipun ada contoh-contoh perempuan Syria yang dijual ke pernikahan di Turki dan didokumentasikan dengan baik, hanya sedikit yang diketahui tentang para pria Syria yang menjual diri mereka ke dalam pernikahan dengan perempuan yang lebih kaya.

Lembaga bantuan internasional dan organisasi hak asasi manusia belum mempublikasikan dokumentasi kasus-kasus pria Syria terpaksa menikah dengan perempuan lebih kaya seperti itu dalam pekerjaan mereka di Turki. Meskipun demikian, kisah-kisah orang-orang ini menjelaskan langkah-langkah ekstrim pengungsi Syria untuk bertahan hidup.

Alaa mengatakan, ia pertama kali bertemu dengan istri yang membelinya saat bekerja di sebuah restoran di distrik Sultanahmet yang terkenal di Istanbul. Perempuan 45 tahun itu dan keluarganya sering menjadi pelanggan.

“Suatu malam mereka meminta saya untuk bergabung dengan mereka untuk makan setelah usai jadwal kerja saya. Saya pikir mereka hanya orang baik," katanya.

"Namun ketika mereka menawarkan untuk menikahkanku dengan putri mereka dengan dibayar saya terkejut," ujar Alaa.

Setelah mereka mengajukan tawaran ke Alaa, keluarga calon istrinya waktu itu menghindari restoran tempat Alaa bekerja selama tiga hari. Pada saat mereka kembali, Alaa telah mengambil keputusan.

Mereka mencapai kesepakatan di mana keluarga akan membayarnya USD 10 ribu, yang akan membantu menutupi biaya penyelundupan keluarganya ke Eropa. Mereka juga setuju untuk membayarnya tambahan USD 500 per bulan, yang akan dia gunakan untuk menutupi sewa untuk ibu dan saudara perempuannya.

Keluarga pengantin hanya memiliki satu syarat, USD 10 ribu akan dibayarkan kepadanya secara penuh pada tahun kedua pernikahan, untuk memastikan kesetiaan kepada istrinya. Ketika ditanya mengapa dia berpikir pengantinnya memilih untuk menikah dengan cara ini, Alaa mengatakan, dia percaya dia tidak memiliki kesempatan untuk menikahi seorang pria dari Teluk, sebagian karena usianya.

Dalam pernikahan bayaran itu, terang Alaa, pernikahan hanya berisi banyak hubungan seks. Apalagi di dalam budaya konservatif Arab hubungan seks di luar nikah dilarang.

Setelah upacara pernikahan yang sederhana, Alaa dibawa istrinya ke kompleks perumahan mewah di Istanbul. Ini adalah pertama kalinya dalam beberapa tahun dia tinggal di sebuah tempat yang diterangi oleh sinar matahari alami.

“Saya senang di rumah baru. Tapi sayangnya, istri saya memperlakukan saya seolah-olah saya adalah barang yang dia beli," kata Alaa.

"Pernikahan saya hanya seperti perbudakan. Lebih parah lagi keluarga istrinya tidak memenuhi janji kesepakatan itu. Lebih dari setahun setelah mereka menikah, keluarga itu menunda atau menunda pembayaran setiap kali dia meminta uang," ujar Alaa.

Akhirnya, dia meninggalkan rumah istrinya dan mengancam untuk tidak kembali sampai dibayar penuh. Daripada menyerahkan tuntutannya, istrinya malah mengajukan gugatan cerai dan menolak untuk membayar jumlah yang telah disepakati sebelumnya.

"Saya bahkan menemukan bahwa mantan istri saya menikahi seorang warga Syria lain setelah perceraian kami," kata Alaa.

Sementara Alaa didekati oleh keluarga istrinya secara langsung, pria Syria lainnya memilih menjalani pernikahan bayaran melalui perantara. Pihak ketiga ini juga telah terlibat dalam mengatur perkawinan perempuan Syria di Turki dengan pria Turki atau pria dari negara Teluk lainnya.

Ahmad, 30 tahun, seorang pengungsi Syria tinggal di Istanbul sejak ia meninggalkan Damaskus dua setengah tahun lalu. Ia mengaku didekati oleh tetangganya, Umm Mohammad, yang menawarkan untuk menemukan dia istri yang kaya.

Umm Mohammad merupakan perempuan Syria yang menerima komisi sekitar USD 1.000 untuk setiap perjodohan yang dia buat.

Ahmad mengatakan, pada awalnya dia menolak untuk menjalani pernikahan tersebut. Namun ketika situasi keuangannya memburuk karena dia tidak dapat menemukan pekerjaan, dia menerima pernikahan bayaran itu dengan seorang perempuan dari Arab Saudi.

Menurut Ahmad, ia tidak pernah memberitahu keluarganya tentang pernikahannya dengan perempuan 37 tahun itu. "Saya tahu saya tidak akan diperlakukan dengan baik karena saya miskin," katanya.

Namun Ahmad memutuskan untuk menganggapnya sebagai pekerjaan. Keluarga calon istrinya akan membayar biaya hidupnya di samping gaji USD 700 per bulan, setengah dari yang ia akan kirim ke keluarganya di Syria. Tapi dia akan menjadi tahanan.

"Istri saya tidak akan membiarkan saya meninggalkan rumah. Ia mengancam mnegusir saya keluar jika saya melakukannya. Saya adalah seorang tahanan," kata Ahmad.

Ia juga tidak diizinkan untuk mengambil pekerjaan atau bahkan menelepon teman.
Hidupnya hanya berputar di sekitar melayani istrinya dan tidak ada orang lain.

"Akhirnya istrinya hamil setahun pernikahan mereka. Berita itu membuatnya sangat bahagia dan memperkuat tekatnya untuk tinggal bersama istrinya meskipun perlakuan kasar yang dia terima," ujar Ahmad.

Orangtua Ahmad bercerai dan ia tidak ingin anaknya tumbuh dalam keluarga yang berantakan. Satu bulan sebelum tanggal jatuh tempo, istri Ahmad pergi ke Eropa untuk melahirkan di rumah sakit di sana.

Dia mengatakan, ia berharap untuk mendapatkan paspor asing untuk anak mereka yang tidak memenuhi syarat untuk kewarganegaraan Arab Saudi karena hukum kerajaan menyulitkan perempuan yang menikahi orang asing tanpa kewarganegaraan.

”Istri saya melahirkan seorang bayi laki-laki. Kami menamainya Ahmad. Dia menelepon kalau ia mengajukan cerai dan satu-satunya alasan dia menikahi saya adalah untuk hamil," ujar Ahmad. Sejak saat diceraikan, Ahmad belum mendengar kabar dari istrinya, atau anaknya. Itu pengalaman yang menyakitkan.

"Saya tahu banyak pemuda Syria yang menikah dengan cara yang sama dengan saya. Tapi saya pikir nasib saya lebih buruk dari mereka. Tidak ada yang tahu rasanya dilarang melihat anak mereka seperti saya," kata Ahmad.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up