alexametrics

Keadilan Buldoser, Tren Pemerintah India Bungkam Para Aktivis

Rumah-Rumah Aktivis Dihancurkan
21 Juni 2022, 10:38:56 WIB

JawaPos.com – Buldoser Baba. Julukan itu melekat pada Kepala Menteri Uttar Pradesh Yogi Adityanath. Panggilan itu bukan karena Adityanath seorang kontraktor pemilik alat berat, tapi karena kebiasaannya yang menghancurkan rumah-rumah penduduk yang kritis kepada pemerintah dengan buldoser.

Kediaman Afreen Fatima salah satunya. Aktivis yang memprotes UU Amandemen Kependudukan (CAA) tersebut bahkan tidak diberi kesempatan sedetik pun untuk menyelamatkan barang-barangnya.

Fatima bukan korban pertama dan satu-satunya. Adityanath kerap menggunakan buldoser untuk menghancurkan usaha maupun permukiman penduduk yang menentangnya.

Para pemimpin negara bagian lain yang diusung partai berkuasa, Bharatiya Janata Party (BJP), melakukan hal serupa. Masing-masing akhirnya punya nama julukan serupa. Rata-rata diakhiri dengan kata buldoser.

Penghancuran rumah-rumah itu kian masif setelah komentar penghinaan terhadap Nabi Muhammad dan ajaran Islam yang dilakukan Juru Bicara BJP Nupur Sharma. BJP memang mencabut sementara status Sharma sebagai juru bicara. Namun, di pihak lain, mereka juga ”menghukum” orang-orang yang memprotes pernyataan Sharma. Caranya serupa: mengirim buldoser dan menghancurkan rumah para aktivis yang terlibat. Perdana Menteri India Narendra Modi memilih tak berkomentar, seakan tak melihat.

’’Pesan yang diberikan kepada umat Islam adalah bahwa konstitusi atau peradilan tidak akan menyelamatkan mereka, tak peduli apa pun tindakan yang dilakukan negara terhadap mereka,’’ ujar Asim Ali, seorang peneliti politik di Center for Policy Research.

Penduduk muslim India turun ke jalan beberapa hari terakhir memprotes kebijakan pemerintah yang menghancurkan rumah-rumah warga muslim. Di India, warga musim adalah minoritas dan jumlahnya hanya sekitar 14 persen dari seluruh populasi penduduk. Meski demikian, secara jumlah ia sangat besar. Penduduk muslim India merupakan yang terbanyak kedua di dunia setelah Indonesia.

Para aktivis menyindir tindakan pemerintah sebagai bulldozer justice alias keadilan buldoser. Saat menghancurkan rumah aktivis Javed Mohammad di Prayagraj, Uttar Pradesh, misalnya, pemerintah beralasan bahwa rumah itu dibangun secara ilegal. Padahal, rumah itu sudah berdiri bertahun-tahun. Keluarga Mohammad juga menampik tudingan pemerintah. Mohammad ditangkap sehari sebelum penghancuran rumahnya dan dituduh sebagai otak di balik aksi turun ke jalan menentang Sharma.

OPOSAN PEMERINTAH: Polisi menangkap aktivis dari Federasi Pemuda Demokratik India yang memprotes kebijakan pemerintah di Chennai kemarin (20/6). (AFP)

’’Pembongkaran tersebut merupakan pelanggaran berat terhadap norma dan etika konstitusional,’’ kata Nilanjan Mukhopadhyay, penulis biografi Modi, seperti dikutip Time.

Beberapa pengamat menyamakan tindakan pemerintah India seperti Israel yang menggunakan alat berat untuk menghancurkan properti warga Palestina. Beberapa hari lalu pengacara terkemuka dan mantan hakim menulis surat kepada hakim agung. Mereka menegaskan bahwa penggunaan buldoser adalah tindakan subversif yang tidak dapat diterima. Mereka mendesak pengadilan untuk bertindak melawan kekerasan dan penindasan yang selama ini terjadi di keluarga muslim.

Sejak Modi berkuasa, BJP memang berada di atas angin. Warga minoritas terus ditekan. Pemerintah bahkan mengatur agar tidak ada pernikahan antaragama, kebijakan soal jilbab, pemotongan hewan, dan berbagai hal lain.

“Buldoser tidak memiliki relevansi dengan struktur yang dibangun ilegal, tetapi memiliki relevansi dengan siapa saya dan apa yang saya perjuangkan,” ujar Kapil Sibal, mantan menteri federal.

Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi (AFP)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : sha/c19/ttg

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads