alexametrics

Penduduk Miskin Dunia Bertambah 60 Juta Jiwa

21 Mei 2020, 11:07:10 WIB

JawaPos.com – Prediksi ekonomi global tahun ini makin kelam akibat wabah Covid-19. Selasa lalu (19/5), World Bank memprediksi warga dunia yang terjerumus ke jurang kemiskinan bakal bertambah.

Presiden World Bank David Malpass mengatakan, penduduk dalam kategori sangat miskin bakal bertambah 60 juta jiwa tahun ini. Kategori sangat miskin merupakan individu yang hidup dengan pendapatan USD 1,9 atau Rp 27 ribu per hari. Pada 2015, warga dunia yang masuk kategori tersebut mencapai 734 juta jiwa atau 10 persen dari total populasi global.

’’Kondisi saat ini sudah menghancurkan upaya pemberdayaan ekonomi yang dilakukan dalam tiga tahun terakhir,’’ katanya seperti yang dilansir BBC.

Malpass mengungkapkan, situasi tersebut didasarkan perkiraan ekonomi global yang menyusut 5 persen. Yang paling tak siap adalah negara-negara berkembang.

Lembaga pemberi pinjaman internasional yang berbasis di Washington sudah menyiapkan dana USD 160 miliar (Rp 2.352 triliun). Dana tersebut bakal disalurkan ke 100 negara berkembang maupun miskin dalam bentuk pinjaman maupun hibah. Mayoritas dari 100 negara yang disasar berada di Benua Afrika, yakni 39 negara. Sepertiga negara tersebut merupakan area konflik seperti Afghanistan dan Haiti.

’’Meski kami sudah menyediakan dana dengan jumlah signifikan, hal itu tak akan cukup. Saya frustrasi melihat lembaga pemberi pinjaman swasta yang tak segera bergerak untuk menyelamatkan ekonomi,’’ papar Malpass.

Sementara itu, Chief Executive JP Morgan Jamie Dimon mengatakan, pandemi virus korona seharusnya menjadi pengingat bagi pemerintah untuk membangun tatanan masyarakat yang lebih adil. Menurut dia, ini adalah momentum untuk membangun ekonomi yang memberikan kesempatan ke lebih banyak orang. Terutama orang-orang yang terpinggirkan selama ini.

Dampak ekonomi tidak hanya menjadi sumber ketakutan bagi negara berkembang. Negara adidaya seperti AS juga sudah terburu-buru ingin memulihkan keadaan. Sebanyak 50 negara bagian sudah bergerak untuk membuka kegiatan ekonomi mereka.

Presiden AS Donald Trump pun tak pernah menyerah untuk mendorong semua jajaran pemerintah segera menggerakkan roda ekonomi. Meski, dorongan tersebut sering mendapatkan kritik.

Salah satu yang panas diperbincangkan adalah keputusannya untuk mengonsumsi hydroxychloroquine. Banyak pakar yang mengatakan bahwa obat tersebut belum aman untuk dikonsumsi karena belum dites. Namun, Trump mengklaim bahwa dokter pribadinya menyetujui keputusan itu.

Trump juga bersikeras tak mau menggunakan masker. Padahal, pemerintah sudah mengeluarkan imbauan untuk mengenakan masker.

Sebagian besar negara bagian pun tak ingin menuruti perintah Trump sepenuhnya. Gubernur Connecticut Ned Lamont mengungkapkan, pihaknya tak ingin terburu-buru membuka kegiatan bisnis. ’’Ini saatnya untuk perlahan membuka kembali pintu ekonomi,’’ ujar politikus Demokrat itu kepada CNN.

Tentu saja, beberapa negara bagian seperti Texas dan Georgia membuka ekonomi lebih cepat. Texas mengalami kenaikan dalam kasus baru. Gubernur Texas Greg Abbott mengatakan, hal tersebut disebabkan pengetesan besar-besaran beberapa hari terakhir.

Sementara itu, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, ramalan angka kemiskinan yang dipaparkan Bank Dunia tentu beralasan. ”Sangat masuk akal. Sebab, banyak tekanan PHK, pekerja dirumahkan tapi tidak digaji. Sangat mungkin angka kemiskinan naik,’’ ujarnya.

Untuk Indonesia, Bhima menyebutkan, angka kemiskinan di Indonesia akan melonjak ke angka 13 persen. Sebagaimana diketahui, hingga September 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan RI mencapai 9,22 persen. Jumlah itu setara dengan 24,79 juta orang. Jumlah tersebut tercatat turun jika dibandingkan dengan angka kemiskinan pada Maret 2019 yang mencapai 25,14 juta orang.

Jika dirunut, kemiskinan di Indonesia cenderung menurun dalam 21 tahun terakhir. Pada 1998, tingkat kemiskinan mencapai 24,2 persen. Kemudian, terus turun menjadi hanya satu digit pada 2019.

Bhima menyatakan, angka kemiskinan yang diramal makin melonjak harus dicermati. ’’Di Indonesia, ada 115 juta orang yang disebut aspiring middle class (rentan miskin). Jadi, kontribusi Indonesia dalam peningkatan kemiskinan di dunia bisa signifikan,’’ jelasnya.

Beberapa kebijakan bisa ditempuh pemerintah. Di antaranya, akselerasi bansos yang cepat dan tepat sasaran serta kenaikan jaring pengaman sosial. Bhima juga menyebut dua industri utama yang harus cepat pulih, yakni industri manufaktur dan pertanian. ’’Karena dua industri itu yang padat karya,’’ tegasnya.

Di sisi lain, kata dia, pemerintah juga harus mewaspadai rasio utang yang mungkin timbul akibat membengkaknya pinjaman. Sebab, pada saat yang sama, pemerintah telah melebarkan defisit anggaran menjadi 6,27 persen dari PDB atau sekitar Rp 1.028,5 triliun.

Implikasi defisit anggaran yang amat tinggi akan cukup berisiko, terutama dari sisi pembiayaan. ’’Jika defisit di atas 6 persen, rasio utang langsung melonjak 40−45 persen dari PDB,’’ tuturnya.

Per Maret 2020, rasio utang pemerintah mencapai 32,12 persen terhadap PDB. Level itu masih berada di bawah batas yang ditetapkan UU Keuangan Negara yang mencapai 60 persen. Bhima menyebutkan, pelebaran defisit anggaran yang membengkak akan berdampak pada APBN di masa mendatang. ’’Karena nanti yang menanggung biaya pemulihan ekonomi adalah APBN tahun berikutnya,’’ jelasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : bil/dee/c7/c6/dos/fal



Close Ads