alexametrics

Ada “Berkah” di Tengah Nestapa Wabah Virus Korona

Belanja Online Melonjak
21 Februari 2020, 18:05:33 WIB

Wabah Covid-19 membuat industri wisata dan penerbangan kelimpungan. Namun, di pihak lain, virus tersebut justru membawa berkah bagi usaha online dan persewaan kendaraan pribadi.

SITI AISYAH, Jawa Pos

JawaPos.com – Order makanan yang masuk ke telepon genggam Fadhil Hassan tak pernah sepi belakangan ini. Fadhil sudah bekerja sebagai pengemudi Grab selama dua tahun. Tapi, orderan sebelumnya tidak pernah sebanyak dua pekan belakangan ini. Banyaknya pesanan itu disebabkan penduduk malas keluar rumah karena takut tertular virus korona jenis Covid-19.

”Bagi kami para pengemudi, ini adalah pekerjaan kami. Kami bergantung pada pekerjaan ini untuk hidup,” terang pengemudi Grab yang bekerja di area Gombak dan Sri Petaling, Kuala Lumpur, Malaysia, tersebut.

Bekerja di luar ruangan membuat mereka rawan tertular virus. Karena itu, hampir semua restoran sudah bersiap. Mereka menyediakan cairan pembersih tangan. Para pengemudi biasanya memakainya lebih dulu sebelum mengambil pesanan. Mereka juga selalu memakai masker.

Peningkatan order online juga terjadi di negara-negara Asia lainnya seperti Singapura dan Korea Selatan (Korsel). Aplikasi pengiriman makanan terbesar kedua di Korsel Yogiyo Rabu (19/2) menyatakan bahwa pihaknya mengalami peningkatan order hingga 11 persen pada periode 1–16 Februari.

Aplikasi lainnya, Baedal Minjok (Baemin), mengaku naik 9 persen. Apa yang terjadi saat ini adalah anomali. Sebab, biasanya setelah libur tahun baru Imlek, pemesanan justru turun di kisaran 15 persen.

Jepang dan Korsel memang merupakan negara di luar Tiongkok yang memiliki kasus Covid-19 terbanyak. Kemarin (20/2) satu penderita Covid-19 di Korsel tewas dan ada 51 kasus baru yang mayoritas berasal dari Daegu. Total yang terinfeksi mencapai 104 orang. Penduduk Daegu disarankan tidak keluyuran ke luar rumah jika tidak perlu. Itu bakal membuat industri pengiriman barang bakal kian melonjak.

Sementara itu, di Tiongkok korban tewas karena Covid-19 mencapai 2.118 orang. Sebanyak 114 orang meninggal dalam sehari. Lebih dari 74 ribu orang sudah tertular. Jumlah korban tewas di luar Tiongkok sudah mencapai 11 orang. Dua di antaranya adalah penumpang kapal pesiar Diamond Princess. Tidak disebutkan asal korban, tapi keduanya sudah berusia di atas 80 tahun. Sehari sebelumnya dua warga Qom, Iran, juga meninggal akibat virus mematikan tersebut. Itu adalah kematian pertama di Timur Tengah.

Setali tiga uang, Singapura mengalami hal serupa. Pada 7 Februari lalu pemerintah menaikkan level disease outbreak response system condition dari kuning ke oranye. Kementerian Kesehatan meminta agar bisnis tetap berlanjut tapi disarankan para pegawainya bisa bekerja dari rumah. Kalaupun harus ke kantor, mereka dipisah-pisah berkelompok. Dengan begitu, jika ada yang tertular, persebarannya di satu kelompok itu saja.

Order layanan antar JD.com meningkat seiring enggannya orang keluar rumah (NG HAN GUAN/AP)

Kebijakan tersebut membuat bisnis di sektor transportasi, retail, dan wisata menurun. Tapi, bisnis penjualan barang online melonjak pesat. Layanan penjualan bahan makanan Redmart milik Lazada, misalnya. Order rata-rata mingguan di Redmart naik 300 persen. Lonjakan permintaan pengiriman saat ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Selain bahan makanan, pengiriman barang-barang keperluan kantor seperti kertas juga naik.

Hal serupa terjadi di Tiongkok. Terlebih, mereka adalah negara pusat persebaran Covid-19. Belanja online adalah pilihan utama penduduk Tiongkok saat ini. ”Tanpa layanan mereka, kami tidak akan bisa bertahan sama sekali,” ujar Wang Feng, warga Beijing, seperti dikutip Associated Press. Dia biasanya memesan kebutuhan dapurnya lewat JD.com.

Selain belanja, permintaan sewa jet pribadi naik. Mereka yang memiliki uang berlebih dan tidak mau satu pesawat dengan orang lain memilih menyewa jet pribadi. Harga tidak masalah asal kesehatan aman terjaga. Harga sewa juga naik lantaran banyaknya maskapai yang menghentikan rute penerbangan ke Tiongkok dan area terdampak lainnya. Mereka menyewa jet pribadi agar bisa pulang. Peningkatan permintaan sewa jet pribadi itu mencapai 50–80 persen.

”Tapi, kami sangat membatasi di area mana kami bisa terbang,” ujar CEO MyJet Asia Logan Ravishkansar. Sebab, jika tidak hati-hati, para kru bisa tertular.

Editor : Edy Pramana

Reporter : (*/c10/dos)



Close Ads