JawaPos Radar | Iklan Jitu

Akibat Shutdown, Banyak Pegawai AS Jual Barangnya Demi Bertahan Hidup

21 Januari 2019, 19:14:50 WIB
shutdown, trump, as, jual barangnya,
Ilustrasi: Sebagian pegawai di AS memilih menjual barang-barangnya untuk memenuhi kebutuhan dan ada pula yang mencari donasi (El Universal)
Share this

JawaPos.com – Presiden AS Donald Trump mencoba bersikap lunak. Sabtu (19/1) waktu setempat dia memberikan tawaran baru untuk mengakhiri shutdown atau penutupan operasi pemerintahan federal secara parsial yang telah berlangsung 29 hari. Tawaran berupa sejumlah perlindungan sementara terhadap imigran. Sebagai gantinya, Trump tetap ingin program pembangunan tembok baja di perbatasan AS-Meksiko mendapat anggaran.

”Kelompok radikal sayap kiri tidak akan pernah mengontrol perbatasan kita. Saya tidak akan membiarkannya terjadi,” papar Trump tentang pentingnya pembangunan tembok yang diinginkannya seperti dikutip CNN.

Trump menawarkan perlindungan hukum bagi Dreamers selama tiga tahun dan perpanjangan perlindungan untuk imigran program temporary protected status (TPS). Dreamers adalah sebutan untuk imigran ilegal yang datang saat masih anak-anak.

shutdown, trump, as, jual barangnya,
Shutdown yang belum tahu kapan berakhir tersebut membuat sekitar 800 ribu pegawai federal kelimpungan (New York)

Di masa kepemimpinan Barack Obama, mereka mendapat perlindungan dalam program deferred action for childhood arrivals (DACA). Trump mengakhiri program tersebut. Namun, gugatan pengadilan dan berbagai hal lainnya membuat Dreamers masih berada di tanah AS. Sementara itu, imigran yang masuk program TPS berasal dari negara-negara yang tengah mengalami konflik senjata maupun bencana alam.

Jika proposalnya disetujui, Trump akan menandatangani rancangan undang-undang (RUU) untuk mengakhiri shutdown parsial. ”Saya di sini untuk memecah kebuntuan dan memberi Kongres jalan untuk mengakhiri shutdown dan menyelesaikan krisis di sepanjang perbatasan sisi selatan,” katanya seperti dikutip Reuters.

Usulan Trump langsung didukung Pemimpin Kubu Mayoritas Senat Mitch McConnell. Politikus Republik tersebut menyatakan bahwa proposal Trump adalah solusi berani untuk membuka lagi pemerintahan, mengamankan perbatasan, dan mengambil langkah bipartisan untuk menyelesaikan masalah imigrasi.

Sayang, tawaran itu tak mampu meluluhkan Demokrat. Bahkan, sebelum Trump berpidato dan memaparkan proposalnya, Ketua House of Representatives Nancy Pelosi membuat pernyataan penolakan. Demokrat mendapatkan bocoran usulan Trump.

”Proposal tersebut tidak memasukkan solusi permanen untuk Dreamers dan penerima TPS,” ujar Pelosi.

Dia menegaskan bahwa usulan Trump itu bukanlah hal baru. Bagi Pelosi, pengajuan tersebut tak lebih hanya kompilasi dari proposal-proposal yang ditolak sebelumnya. Termasuk, usulan bipartisan Demokrat-Republik terkait para Dreamers yang juga pernah ditolak.

Usulan sebelumnya bahkan dinilai lebih baik karena ada jalan bagi para Dreamers tersebut untuk diakui sebagai warga negara. Sedangkan dalam usulan Trump, harapan itu tidak ada. Demokrat bersikukuh bahwa dialog tentang perbatasan akan dilakukan jika suami Melania itu mengakhiri shutdown lebih dulu.

Shutdown yang belum tahu kapan berakhir tersebut membuat sekitar 800 ribu pegawai federal kelimpungan. Sebagian memilih menjual barang-barangnya untuk memenuhi kebutuhan dan ada pula yang mencari donasi. Sejak shutdown, lebih dari 1.500 kampanye donasi di GoFundMe dibuka untuk para pegawai federal.

Sementara itu, acara tahunan Women’s March kembali digelar di 31 kota di seluruh dunia. Di AS, mereka berkumpul di Washington, New York, Philadelphia, dan berbagai kota besar lainnya. Para perempuan yang ikut dalam aksi tersebut membawa bermacam-macam spanduk yang mengusung berbagai isu. Termasuk tembok di perbatasan Meksiko dan shutdown. Legislator Demokrat Alexandria Ocasio-Cortez ikut dalam aksi di New York.

Editor           : Dyah Ratna Meta Novia
Reporter      : (sha/c10/sof)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up