alexametrics

Lapar dan Haus, Demonstran Cari Jalan Keluar Lewat Gorong-Gorong

20 November 2019, 17:46:04 WIB

JawaPos.com – ”Ini satu-satunya jalan, saya sangat putus asa.” Pernyataan itu terlontar dari seorang demonstran Hongkong yang masih berusia 16 tahun. Sudah dua hari dia berusaha keluar dari Polytechnic University (PolyU), tapi gagal. Lapar dan dingin mengalahkan rasa takutnya untuk ditangkap. Selasa pagi (19/11) dia akhirnya memilih menyerah.

Gadis itu tak sendirian. Ada sekitar 200 remaja di bawah 18 tahun yang meninggalkan PolyU kemarin. Mereka didampingi beberapa kepala sekolah. Para remaja itu hanya dicatat identitasnya, lalu diperbolehkan pergi. Tapi tidak demikian dengan demonstran yang berusia 18 tahun ke atas. Mereka ditangkap dan diproses hukum.

Baca juga: Bentrok Kembali Terjadi, Kampus Jadi Medan Perang

Chief Executive Hongkong Carrie Lam mengungkap bahwa sekitar 600 demonstran sudah meninggalkan PolyU. Sebagian besar ditahan. Tapi di dalam universitas tertua di Hongkong tersebut masih ada 100–200 orang yang bertahan. Mereka masih berusaha untuk keluar tanpa tertangkap.

”Jika saya menyerah, bagaimana saya mampu menghadapi mereka yang telah berkorban?” tegas Wong, salah seorang demonstran yang bertahan di PolyU. Dia merujuk pada ratusan orang yang sudah ditangkap.

Wong sempat menangis. Dia kelelahan dan kakinya terluka. Keluarganya juga terus menghubunginya karena khawatir. Namun, untuk saat ini dia belum mau menyerah. Wong yakin ada jalan untuk keluar tanpa tertangkap.

Blokade polisi membuat demonstran yang tersisa tak mungkin keluar lewat jalan normal. Keluar baik-baik dan ditangkap jelas bukan pilihan. Sebab, mereka bisa dijerat dengan dakwaan sebagai perusuh dan bisa mendekam 10 tahun penjara.

Baca juga: Disambut Tembakan Peluru Karet, Demonstran Hongkong Kembali ke Kampus

Sebagian demonstran akhirnya mencoba masuk ke saluran pembuangan. Mereka memakai semacam jas hujan plastik, membalut tangan dan lututnya, serta membawa senter. Beberapa orang turun dan sempat merangkak menyusuri lorong-lorong saluran tersebut. Sebagian akhirnya keluar lagi karena takut dan tak tahu lorong itu akan ke mana.

Awal pekan lalu, PolyU seakan menjadi benteng gagah yang melindungi para demonstran. Namun, kini kampus yang terletak di tengah kota itu bak neraka. Persediaan makanan di dalam kampus sudah kian menipis dan tak ada obat yang memadai. Padahal, banyak yang menderita luka-luka.

Editor : Edy Pramana

Reporter : (sha/c25/dos)


Close Ads