alexametrics

Perjuangan Terjal Perempuan Iran Raih Kebebasan

20 Januari 2019, 17:58:23 WIB

JawaPos.com – Masih Alinejad telah membayar mahal perjuangannya untuk menanggalkan jilbabnya dan menjadi kritikus bagi negaranya, yaitu Iran. Dia dijatuhi hukuman penjara, melarikan diri dari Iran dan tidak dapat melihat keluarganya. Ia mengungkapkan impiannya agar perempuan Iran memiliki pilihan untuk mengenakan jilbab atau tidak.

Sejak remaja, Masih telah menjadi duri bagi para ayatullah yang memerintah Iran. Dia mengeluh dan memprotes berbagai aturan yang mengekang perempuan.

Ketika dia berusia 19 tahun, dia ditangkap karena aktivitas antipemerintah oleh polisi moral Iran, ditahan di penjara tanpa dakwaan. Masih adalah mimpi buruk bagi Pemerintah Iran. “Saya memiliki terlalu banyak rambut, terlalu banyak suara dan terlalu perempuan untuk mereka,” ujar Masih.

iran, perempuan arab, rahaf, masih,
Sejak remaja, Masih telah menjadi duri bagi para ayatullah yang memerintah Iran. Dia mengeluh dan memprotes berbagai aturan yang mengekang perempuan (AFP)

Dalam bukunya, The Wind in My Hair, Masih menjelaskan bahwa gadis-gadis di negaranya dibesarkan untuk menundukkan kepala, tidak banyak bicara, dan menjadi lemah lembut. Namun Masih tidak bisa seperti itu.

Masih dibesarkan dalam kemiskinan di pedesaan, di desa kecil Ghomikola di Mazandaran di Iran utara. Sifatnya yang suka kebebasan menjadikannya fenomenal.

Ayahnya adalah seorang pedagang di jalanan, ibunya orang yang tidak bisa membaca atau menulis. Mereka membesarkan enam anak di sebuah rumah dengan satu kamar yang berfungsi sebagai tempat tidur, makan, dan tempat tinggal.

Masih berusia dua tahun ketika revolusi 1979 terjadi. Shah digulingkan dan Ayatollah Khomeini kembali dari pengasingan untuk memimpin Iran.

Sejak saat itu, kata Masih, semuanya berbeda. “Melihat foto-foto keluarga saya sebelum revolusi, Anda melihat ibu saya mengenakan rok dan syal, dan ayah saya hanya memiliki sedikit janggut.

Tetapi setelah Khomeini kembali, pria dilarang mencukur sehingga janggut ayahnya tumbuh besar dan ibuku harus sepenuhnya ditutupi oleh cadar yang gelap. Semua orang tampak sengsara setelah revolusi, wajah-wajah segar dan bahagia seperti wajah ibuku sebelumnya harus ditutupi dan terlihat sedih.

Ironisnya, orangtua Masih adalah pendukung revolusi yang berdedikasi. Mereka miskin, mereka menginginkan pekerjaan yang lebih baik, mereka menginginkan peluang yang lebih besar untuk kesetaraan, dan mereka pikir revolusi akan membawa perubahan ini. Tetapi sebelum revolusi ada kebebasan sosial, perempuan diizinkan untuk berpartisipasi secara setara dalam banyak kehidupan. sebelum revolusi, mereka bisa berolahraga, bisa pergi ke gym, ada hakim perempuan.

Orang-orang yang mendukung revolusi menginginkan kebebasan politik, dan mereka tidak mendapatkan itu. Selain itu mereka malah kehilangan kebebasan sosial mereka.

Sejak usia tujuh tahun, hukum di Iran menyebutkan, perempuan harus mengenakan jilbab. Masih memprotes aturan itu dengan tidak menggunakannya.

Di sekolah dia terlibat dalam gerakan protes bawah tanah; segera setelah bertunangan, berusia 18 tahun, ia menikah dengan aktivis lain, keduanya ditangkap. “Itu adalah hal paling menakutkan yang pernah terjadi pada saya,” katanya.

Begitu menikah, Masih kemudian hamil.  Lalu dijebloskan ke penjara karena menjadi aktivis.

Akhirnya, Masih dijatuhi hukuman lima tahun penjara dan 74 cambukan. Hukumannya ditangguhkan selama tiga tahun. Ketika putranya Pouyan masih kecil, suami Masih, Reza memutuskan untuk menceraikannya.

“Di Iran, seorang pria dapat memilih untuk menceraikan istrinya tetapi seorang perempuan harus meminta izin suaminya untuk bercerai,” katanya. Menurutnya, dia adalah perempuan pertama di desanya yang bercerai.

Ayahnya sangat malu, ia bahkan sulit menunjukkan wajahnya di masjid. Ayahnya berusaha menemukan seorang pria baru untuk dinikahi, tapi Masih menolak.

Dia menemukan pekerjaan yang mengantarkan Masih menjadi seorang jurnalis dan menghabiskan beberapa tahun sebagai reporter parlemen. Dia diskors karena mengenakan sepatu merah. Beberapa tahun kemudian, Masih memutuskan pindah ke Inggris. Saat ia berusia 33 tahun, ia belajar di Universitas Oxford Brookes.

Dia melanjutkan perjuangannya dari Inggris, mewawancarai para pemimpin Iran melalui telepon dan menyiarkan tentang hak-hak perempuan.

Di Inggris, Masih merasakan kebebasannya yang sangat berharga. Di jalan yang dipenuhi bunga sakura, dia berlari dengan riang, tanpa alasan lain selain menikmati kemewahan belaian angin di rambutnya yang tak bisa diraih di Iran. Ia masih memperjuangkan hak-hak perempuan hingga saat ini.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : Dinda Lisna

Alur Cerita Berita

Perjuangan Terjal Perempuan Iran Raih Kebebasan