JawaPos Radar | Iklan Jitu

Setengah Perokok di Dunia Ada di Asia

19 November 2018, 15:32:38 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
rokok, perokok, asia,
Lebih dari setengah perokok di dunia ada di Asia sehingga tidak dapat dipungkiri jika merokok merupakan isu utama dalam masalah kesehatan publik di Asia (Flickr)
Share this

JawaPos.com - Lebih dari setengah perokok di dunia ada di Asia sehingga tidak dapat dipungkiri jika merokok merupakan isu utama dalam masalah kesehatan publik di Asia. Meski sudah ada larangan pemerintah yang ketat, pengenaan pajak yang tinggi, dan beragam kampanye yang ditujukan untuk memicu kesadaran masyarakat atas bahaya rokok, mereka tetap merokok.

Oleh karena itu, pembuat kebijakan di setiap kawasan Asia sudah seharusnya mempertimbangkan pengadopsian pendekatan pengurangan bahaya tembakau dan menyediakan askes serta informasi yang akurat mengenai produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik, produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar, dan snus.

Hal tersebut merupakan pembahasan utama pada Asia Harm Reduction Forum (AHRF) ke-2 yang diadakan hari ini di Hotel Dusit Thani Manila, Makati, Filipina. Forum ini mengumpulkan para pakar ternama dari bidang ilmu pengetahuan, teknologi, kesehatan, kebijakan, dan advokasi konsumen dari seluruh Asia dan Pasifik.

Diselenggarakan oleh Harm Reduction Alliance of the Philippines (HARAP) dan Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik Indonesia (YPKP), forum dengan skala regional ini kembali digelar menyusul kesuksesan AHRF ke-1 yang dilaksanakan di Jakarta, Indonesia, tahun lalu.

Forum ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang pengurangan bahaya melalui produk alternatif yang lebih baik dan mempromosikan serta mengadvokasi solusi praktis yang dapat berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Selain itu, tujuan utama dari forum ini adalah untuk mengintegrasikan pengurangan bahaya sebagai strategi yang digunakan oleh legislator dan masyarakat untuk memastikan peningkatan kesehatan dan lingkungan yang lebih baik.

Anggota Kongres Anthony Bravo (Coop-NATTCO Party-list) yang juga merupakan advokat dalam hal pengurangan bahaya tembakau di Filipina, menyampaikan pidato utama ketika forum berlangsung. Di sesi pagi, panelis dari Indonesia, Singapura, Filipina, India, dan Swedia fokus mengidentifikasi cara untuk mengatur produk alternatif guna mendukung pengurangan bahaya tembakau.

“Banyak negara di Asia yang masih skeptis tentang pengurangan bahaya tembakau, dan beberapa negara bahkan melarang produk nikotin alternatif. Para pembuat kebijakan perlu memahami bahwa pengurangan bahaya tembakau memiliki potensi sebagai solusi yang paling efektif dalam mengatasi epidemi merokok di Asia, dan dapat melengkapi upaya pengendalian tembakau yang sudah berlaku,” ujar Ketua HARAP Profesor Ron Christian Sison, Senin, (19/11).

Saat ini, kata Sison,  semakin banyak bukti yang mendukung pengurangan bahaya tembakau sebagai manfaat bagi kesehatan masyarakat, khususnya dalam pengembangan sistem untuk mengonsumsi nikotin dengan bahaya yang lebih rendah. Public Health England dari Inggris dan Food and Drug Administration dari Amerika Serikat merupakan otoritas yang mengadopsi pengurangan bahaya tembakau untuk merumuskan kebijakan pengendalian tembakau mereka.

Mengingat saat ini Asia memiliki jumlah perokok terbanyak di dunia, Sison yakin, manfaat bagi kesehatan publik dari pengurangan bahaya tembakau di kawasan Asia sangat besar. “Asia Harm Reduction Forum menyediakan wadah bagi para ilmuwan, praktisi kesehatan, akademisi, pengamat kebijakan, serta konsumen untuk bertukar ide tentang cara terbaik untuk memajukan pengurangan bahaya tembakau di Asia."

Kami, ujar dia, percaya forum ini akan memberikan manfaat yang besar bagi sektor kesehatan publik dan khususnya perokok di Asia yang berhak mendapatkan akses lebih baik ke produk tembakau alternatif.

"Untuk beberapa perokok di Indonesia, pendekatan 'berhenti atau mati' tidaklah berhasil. Karena itu, sekarang waktunya untuk mempertimbangkan pendekatan 'berhenti atau mencoba', yaitu mencoba produk nikotin alternatif," jelas salah satu pendiri YPKP Dr. drg. Amaliya.

Amaliya mencatat, prevalensi merokok yang menurun drastis di beberapa negara seperti Inggris dan Jepang dapat terjadi ketika produk tembakau alternatif tersedia secara luas. Hari ini berkat inovasi dan pengembangan teknologi, produk tembakau alternatif tersedia untuk memberikan pilihan yang memuaskan dan lebih rendah risiko bagi perokok tanpa bahaya TAR. 

(met/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up