alexametrics

Kebijakan Turki Gencatan Tanpa Jeda Senjata

19 Oktober 2019, 14:04:48 WIB

JawaPos.com – Talk is cheap. Bicara memang mudah. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sempat sesumbar tidak akan menemui Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence. Namun, dua tokoh dunia itu akhirnya bertemu di Ankara. Mereka juga menyepakati gencatan senjata selama lima hari. Tujuannya adalah membebaskan perbatasan Turki-Syria itu dari kaum Kurdi.

”Paramiliter Kurdi sudah mulai meninggalkan perbatasan Syria. Tapi, pasukan kami tetap akan ada di sana untuk memastikan semuanya berjalan lancar,” terang Erdogan sebagaimana dilansir BBC, Jumat (18/10).

Kebijakan Turki itu memantik protes. Sebab, keberadaan pasukan Erdogan di perbatasan membuat ketegangan meningkat. Bahkan, kontak senjata terjadi di beberapa titik. Terutama di Kota Ras Al Ain di perbatasan dua negara.

”Serangan udara dan artileri menarget posisi pejuang (Kurdi), permukiman penduduk, dan rumah sakit di medan tempur perbatasan kota Ras Al Ain,” lapor Juru Bicara Militer Kurdi Mustefa Bali seperti dikutip Agence France-Presse. Aksi militer itu mengakibatkan korban jiwa.

Kepala Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) Rami Abdel Rahman menyatakan bahwa lima warga sipil tewas dalam serangan di Bab Al Kheir, sebuah desa di timur Ras Al Ain. Total 72 nyawa melayang sejak Turki menyerbu sisi utara Syria per 9 Oktober lalu.

Kepada Erdogan, Pence berjanji membantu penarikan paramiliter Kurdi dari wilayah yang oleh Turki akan dijadikan zona aman tersebut. Dulu AS adalah sekutu paramiliter Kurdi yang memerangi pasukan pemerintah Syria. Menanggapi janji AS itu, Komandan Kurdi Mazloum Kobani mengaku tidak akan reaktif. Dia akan mengamati gencatan senjata di Ras Al Ain dan Tal Abyad. ”Kami belum mendiskusikan nasib area lainnya,” tegasnya.

Serangan yang tak kunjung usai di perbatasan itu membuat penduduk waswas. Mereka tak bisa lagi lari ke Hassakeh karena jaraknya yang dekat dengan Ras Al Ain. Belakangan, mereka lari ke Iraq. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) menyatakan bahwa lebih dari 2.300 pengungsi Syria telah menyeberang ke Iraq. Mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.

Editor : Edy Pramana

Reporter : (sha/c10/hep)



Close Ads