JawaPos Radar

Tetangga yang Tak Peka

Oleh Teuku Rezasyah*

19/10/2018, 16:14 WIB | Editor: Ilham Safutra
Tetangga yang Tak Peka
Bendera Australia (Pixabay)
Share this

JawaPos.com - Ini kali Australia tidak peka. Prakarsa terbarunya yang ingin memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Jerusalem berbuah daftar kesalahan bagi Indonesia.

Di atas kertas, rencana itu akan menaikkan pamor Australia di dunia. Menjadi negara yang dekat dengan Israel sehingga dapat diandalkan membawa pesan damai ke Tel Aviv, yang selama ini hanya dijalankan oleh Amerika Serikat.

Juga, di dalam negerinya sendiri, Perdana Menteri Scott Morrison sadar bahwa kemenangan pemilu sela di wilayah pemilihan Wentworth di Negara Bagian New South Wales itu, yang seperdelapan penduduknya beridentitas Yahudi, merupakan kemenangan besar bagi Partai Liberal. Buntutnya, terdapat potensi mengundang masuk investasi kalangan Yahudi dari luar Australia. Terutama sekali di bidang jasa konstruksi, pendidikan, konsultasi, pertanian, dan peternakan.

Tak diduga Australia, rencana itu -yang belum jelas kapan jadinya- mendapat teguran halus dari tetangga terdekatnya, Indonesia. Teguran itu ternyata tidak dipahami sepenuhnya oleh pemerintah dan masyarakat Australia. Yang cenderung menganggap Indonesia mencampuri hubungan Australia dengan Israel.

Pertama, hasrat Australia itu dikemukakan kala Indonesia sedang menjalankan program Solidarity Week for Palestine di Jakarta dan Bandung, yang secara khusus dihadiri Menteri Luar Negeri Palestina Dr Riyad Al Maliki. Suara sumbang dari Australia tersebut berdampak pada kekhidmatan rangkaian acara yang sedang berjalan. Sehingga mengganggu kegiatan teknis yang sedang dibuat jajaran diplomatik Indonesia dan Palestina.

Kedua, sikap Australia tersebut juga mengecewakan Indonesia, yang sedang mempersiapkan diri menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB per 1 Januari 2019. Sebagai negara terbesar di ASEAN serta teladan di OKI dan GNB, tentunya Indonesia sudah terbiasa mengandalkan Australia sebagai kekuatan utama di Pasifik Selatan untuk bersama-sama menjaga stabilitas di kawasan Asia-Pasifik. Melalui kepaduan sikap dalam menghadapi isu-isu global seperti terorisme, pembangunan berkelanjutan, dan kejahatan lintas negara. Sejak hari nahas itu, rasa percaya Indonesia dalam membangun koalisi permanen di PBB semakin menjauh.

Ketiga, sikap Australia itu juga mengganggu rasa percaya diri pemerintah Indonesia di dalam negeri, terutama sekali sejak ditetapkannya Dr KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden, berpasangan dengan Joko Widodo. Dalam hal ini, isu kepindahan Kedutaan Besar Australia ke Jerusalem, selain menyinggung rasa keadilan masyarakat Indonesia, berpotensi menjadikan Australia sebagai negara yang tidak bersahabat bagi sebagian masyarakat Indonesia.

Secara teori, di tahun politik ini tidak tertutup kemungkinan masyarakat mendesak pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk mengevaluasi berbagai kerja sama yang telah terjalin dengan Australia. Ataupun menunda kesepakatan tersebut hingga selesainya pemilihan presiden. Tanpa sadar, Australia telah menciptakan sebuah risiko baru dalam keamanan dalam negeri Indonesia.

Keempat, sikap Australia itu tentu dicermati juga oleh negara-negara kecil di Kepulauan Pasifik Selatan, yang selama ini menjadikan Australia dan Selandia Baru sebagai rujukan pembangunan. Termasuk bagi perlindungan politik dan pertahanan mereka.

Secara sejarah, terdapat negara-negara yang selama ini mempermainkan status keanggotaan mereka di PBB untuk memindahkan dukungan dari Tiongkok ke Taiwan dan juga sebaliknya. Motif mereka sederhana sekali: bantuan keuangan jangka panjang.

Mengingat keunggulan ekonomi dan politik Israel di dunia, tentu tidaklah sulit bagi Israel menafkahi hasrat politik negara-negara tertentu itu.

Kelima, akan ada potensi krisis baru dalam hubungan Indonesia dengan negara-negara tertentu di Pasifik Selatan. Yang menjadikan Jerusalem sebagai lahan konflik baru dengan Indonesia, selain isu Papua yang selama ini dapat ditangani pemerintah Indonesia dengan baik. Bukankah selama ini bendera Israel sudah mulai terlihat di Papua dan Papua Barat kala terjadinya gejolak politik di sana?

Akhirulkata, Australia perlu mawas diri. Jerusalem ternyata memiliki banyak dimensi di Indonesia. Janganlah keuntungan jangka pendek membutakan mata Australia akan kepentingan tetangga terdekatnya sendiri.

*) Dosen pada Program Studi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran di Jatinangor

(*)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up