alexametrics

Nasib Tragis Partai Buruh dalam Pemilu Australia

Keajaiban yang Diyakini Morrison Terwujud
19 Mei 2019, 23:52:33 WIB

JawaPos.com – Meski menuding petahana melakukan kampanye kotor, pihak oposisi tetap mengakui kekalahan berdasar hasil sementara. Padahal, hingga jajak pendapat terakhir, Partai Buruh yang dimotori Bill Shorten masih unggul atas Partai Liberal yang dikomandani Scott Morrison.

HANYA beda beberapa jam. Tapi, betapa kontras pidato yang disampaikan Pemimpin Partai Buruh Australia Bill Shorten.

Kemarin pagi, dari Melbourne, sebelum warga Negeri Kanguru berbondong-bondong ke bilik suara, Shorten dengan lantang bicara tentang menghentikan kekacauan politik. Juga, bagaimana cara menanggulangi perubahan iklim.

”Kami siap beraksi mulai besok (hari ini),” katanya sebagaimana dikutip Agence France-Presse, mengindikasikan keyakinannya bakal memenangi pemilu federal yang berlangsung kemarin (18/5).

Maklum, dalam berbagai jajak pendapat di dua tahun terakhir, Partai Buruh selalu unggul. Dalam polling terakhir, mereka mencatat keunggulan 51 persen. Artinya, Shorten berpeluang ke singgasana perdana menteri (PM) Australia yang diduduki Scott Morrison.

Tapi, kepercayaan diri yang didasari keunggulan jajak pendapat dengan margin setipis itu rupanya terlalu prematur. Hasil dari bilik suara berkata lain.

Mengutip BBC, sampai pukul 22.00 WIB, dengan 70 persen suara sudah terhitung, koalisi Partai Liberal sudah merebut 74 kursi. Sedangkan koalisi Partai Buruh cuma 65 kursi.

Raihan sementara koalisi Liberal itu didapat dari Partai Liberal dengan 43 kursi, Partai Liberal Nasional 23 kursi, dan Partai Nasional 10 kursi. Total kursi yang diperebutkan di DPR atau majelis rendah adalah 151 kursi. Itu artinya, satu partai harus merebut setidaknya 76 kursi jika ingin membentuk pemerintahan mayoritas.

Meski hasil resmi belum diumumkan, Shorten sudah mengaku kalah. Tadi malam WIB dia telah menelepon Morrison untuk mengucapkan selamat. ”Saya juga tidak akan maju dalam pemilihan ketua Partai Buruh berikutnya,” kata Shorten dengan wajah sendu dalam pidato tadi malam sebagaimana dikutip BBC. Komisi Pemilu Australia baru akan mengumumkan hasil resmi pada 1 Juni.

Shorten memang menuding bahwa koalisi Partai Liberal yang merupakan petahana melakukan kampanye kotor untuk menghadang laju koalisi Partai Buruh sebagai oposisi. Namun, dia tetap mengakui hasil penghitungan sementara.

Salah satu kunci kemenangan Liberal kali ini adalah ”senjata makan tuan”. Buruh berjanji menaikkan pajak pendapatan terhadap kaum kaya dan mendongkrak gaji untuk kalangan menengah ke bawah. Selain itu, Buruh berencana mengubah sistem politik Australia menjadi republik.

Bisa jadi jualan Buruh itu terlalu agresif bagi banyak warga Australia yang lebih menaruh perhatian terhadap biaya hidup, lingkungan, dan kesehatan. Koalisi Liberal yang beraliran konservatif, tengah-kanan, memanfaatkannya.

Bekerja sama dengan Rupert Murdoch, taipan pemilik News Corps, perusahaan media yang sangat kanan, Morrison menyebut agenda politik lawan yang sangat ”kiri” itu bisa memakan banyak korban. Terutama kalangan warga senior dan berpunya.

Strategi itu berhasil. Wilayah andalan oposisi seperti Negara Bagian Queensland pun jatuh ke tangan petahana. ”Kemenangan ini milik rakyat Australia. Saya selalu percaya keajaiban akan terjadi,” ungkap Morrison sebagaimana dikutip BBC.

Bisa dibilang Morrison berjuang sendirian mengubah kekalahan di depan mata menjadi kemenangan di bilik suara. Dalam kurun 11 jam terakhir sebelum pemilihan, dia bisa meyakinkan warga Australia bahwa kalau mau negara mereka stabil, dialah sosok yang paling bisa dipercaya.

Kestabilan politik tersebut penting bagi Australia. Negeri jiran Indonesia itu menghelat pemilu tiap tiga tahun. Tapi, sejak 2007, tak ada satu pun PM yang bisa menjabat secara penuh.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c17/ttg)