alexametrics

Korban Tewas Aksi Unjuk Rasa Bertambah, Evo Morales Kecam Jeanine Anez

18 November 2019, 22:02:34 WIB

JawaPos.com – Mundurnya Evo Morales dari kursi presiden tak mengurangi tensi kerusuhan politik di Bolivia. Bahkan, semakin panas dan membara. Deklarasi yang dilakukan Jeanine Anez, senator konservatif, sebagai presiden sementara juga tak berarti banyak. Justru bentrokan antara pengunjuk rasa dengan aparat keamanan semakin masif.

Terkait hal itu, Morales yang kini berada di Meksiko, mengecam Anez. Seperti dilansir Anadolu Agency, kecaman tersebut dia sampaikan melalui akun resmi Twitter pribadinya.

Morales mengunggah di Twitter mengenai kerusuhan di negerinya, dan mengatakan sesungguhnya sudah 24, bukan 23, orang tewas dalam beberapa hari belakangan ini.

“Kami menuntut pemerintah de facto Anez mengidentifikasi pengarang intelektual dan material mengenai 24 kematian dalam lima hari penindasan militer dan polisi,” Morales mencuit pada Minggu (17/11). “Saya mencela kepada masyarakat internasional mengenai kejahatan terhadap manusia ini, yang tak boleh dibiarkan tanpa hukuman,” imbuhnya.

Kerusuhan di Bolivia meletus setelah Morales memenangi Pemilu pada Oktober lalu. Pengunjuk rasa turun ke jalan dan menyebut Pemilu pada 20 Oktober 2019 penuh kecurangan. Sejumlah unjuk rasa telah menimbulkan korban jiwa. Pada akhirnya, Morales memilih mundur dengan alasan tak ingin banyak korban jatuh lagi. Namun, dia mengatakan sejatinya telah terjadi kudeta militer sehingga Morales akhirnya memilih mengamankan diri ke Meksiko.

Semenjak Morales “mengungsi” ke Meksiko, barisan pendukungnya yang setia berganti melakukan unjuk rasa. Mereka kebanyakan dari desa yakni suku pribumi. Unjuk rasa dilakukan di Ibu Kota Bolivia, La Paz, dan kota-kota besar lain. Mereka mengatakan perubahan politik di Bolivia saat ini adalah kudeta.

Pada Jumat (15/11), pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah pendukung Morales di Kota Sacaba, Bolivia tengah hingga menewaskan delapan orang. Morales menyebut tindakan itu sebagai pembantaian. Seorang wartawan jaringan televisi Amerika Latin, teleSUR mengunggah video pada Minggu (17/11) di Twitter yang menuduh bahwa sebuah helikopter militer menembaki demonstran sipil pendukung Morales.

Baca juga: Evo Morales, Pemimpin Bolivia yang Didepak Rakyatnya

Sementara itu, Alberto Fernandez, seorang pengacara di Argentina, mengatakan di Twitter pada akhir pekan lalu bahwa pemerintah sementara Bolivia telah memberikan izin kepada militer untuk menggunakan kekuatan guna menegakkan kembali tatanan dalam negeri.

“Pemerintah de facto yang merebut kekuasaan di Bolivia telah melepaskan militer untuk bertindak tanpa harus bertanggung-jawab atas kejahatan mereka. Jumlah korban tewas bertambah,” cuit Fernandez.

Di lain sisi, PBB telah memperingatkan Bolivia untuk segera melakukan tindakan karena yang terjadi saat ini bisa tak terkendali. Sementara, sejumlah pengamat asing menduga kerusuhan di Bolivia akan berlangsung terus sampai Morales mengeluarkan kebijakan untuk pendukung setianya.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Antara


Close Ads