alexametrics

Hongkongers Mulai Terbelah, Tak Semua Dukung Demonstran Prodemokrasi

18 November 2019, 17:01:30 WIB

JawaPos.com – ”Kami mendukungmu!” Teriakan itu meluncur dari bibir perempuan paro baya yang tengah lewat di depan University of Hong Kong. Hanya berselang sekitar semenit, seorang pria ikut berteriak. Hanya, kali ini merupakan pernyataan penolakan dukungan terhadap para mahasiswa yang berdemonstrasi.

Hongkong terbelah. Sebagian Hongkongers, sebutan penduduk Hongkong, tak lagi mendukung para demonstran yang didominasi mahasiswa itu. Meski, jumlah yang kontra tak banyak. Kerusuhan yang terjadi tanpa henti dan blokade di mana-mana memang menyulitkan penduduk. Dokter dan pasien kini sulit pergi ke rumah sakit. Pun demikian para pekerja. Karena kereta api tak lagi bisa digunakan, mereka harus berjalan kaki hingga 2 jam dari rumah ke kantor.

Baca juga: Bentrok Kembali Terjadi, Kampus Jadi Medan Perang

”Ketika kita mempertanyakan kapan polisi berhenti menggunakan kekerasan, bisakah kita juga bertanya kapan demonstran berhenti memakai kekerasan?” ujar warga yang menelepon stasiun radio beberapa hari lalu.

Polisi dan massa memang kian brutal. Tiada hari tanpa gas air mata. Satu demonstran juga sudah tertembus peluru panas polisi. Otoritas Bandara Hongkong menegaskan, demonstrasi telah menyebabkan traffic bandara sepanjang Oktober anjlok 13 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di pihak lain, sudah sepekan ini massa menggunakan kampus-kampus sebagai benteng untuk bertahan. Juga sebagai basis untuk menyerang polisi. Mereka memblokade jalan-jalan menuju kampus dan menyerang dengan ketapel besar serta anak panah.

KORBAN: Polisi terkena panah di dekat Hong Kong Polytechnic University di Hongkong, Minggu (17/11). (STRINGER/HONG KONG POLICE FORCE/AFP)

”Demonstran butuh pangkalan untuk meletakkan peralatan dan istirahat di malam hari sebelum kembali bertempur di pagi hari,” terang Kason, demonstran, seperti dikutip AFP.

Bentrokan panas terjadi di Hong Kong Polytechnic University (PolyU). Bagi para demonstran, kampus itu luar biasa strategis karena terletak di pusat kota. Mereka bisa memblokade jalan-jalan utama di sekelilingnya. Polisi menembakkan gas air mata dan air dari water cannon secara bergantian sepanjang hari kemarin (17/11). Demonstran membalas dengan ketapel besar dan anak panah.

Salah satu anak panah akhirnya mengenai seorang polisi Hongkong. Anak panah itu menancap di betisnya dan hampir tembus. Dia masih sadar ketika dibawa ke rumah sakit.

Baca juga: Unjuk Rasa di Hongkong Makin Brutal, Petugas Kebersihan jadi Korban

”Kami tidak takut. Jika kami tidak bertahan, bakal gagal. Jadi, mengapa tidak sekalian saja,” tegas Ah Long, mahasiswa tahun ketiga yang ikut aksi massa.

Karena bentrokan yang tak kunjung reda tersebut, pemerintah memastikan bahwa hari ini sekolah-sekolah masih diliburkan. Alasannya tentu saja faktor keamanan. Para aktivis dan demonstran juga sudah menegaskan bahwa hari ini pun mereka tidak akan mundur. Terlebih, banyak pegawai kantor yang ternyata mendukung mereka. Biasanya, para pegawai itu beraksi di jam makan siang.

Poster yang beredar di berbagai media sosial menyebutkan bahwa hari ini massa melakukan dawn action alias aksi dini hari. ”Bangun pagi, langsung menyasar rezim, peras perekonomian untuk meningkatkan tekanan,” bunyi poster itu.

PEKAN RUSUH DI HONGKONG
Pekan lalu demonstran Hongkong mengusung tema gerakan blossom everywhere alias mekar di mana-mana. Massa membuat kerusuhan di berbagai titik secara serentak.

11 November: Polisi menembak salah seorang demonstran dengan peluru tajam di Sai Wan Ho. Di Ma Oh Shan, salah seorang demonstran membakar penduduk yang pro-Beijing pasca-adu mulut.

12-13 November: Demonstran mulai menggunakan universitas sebagai tempat berlindung. Jalan dan terowongan diblokade. Jalur kereta api dan bus tak bisa digunakan. Sekolah, universitas, dan toko-toko tutup. Mahasiswa asing dan asal Tiongkok dievakuasi. Mereka dipulangkan.

14 November: Bentrokan kian panas. Mahasiswa asing dan asal Tiongkok dievakuasi. Mereka dipulangkan.

15 November: Demonstran mulai menggunakan panah dan anak panah dengan ujung api untuk mendesak mundur polisi.

16 November: Penduduk di berbagai titik turun ke jalan untuk bersih-bersih dan menyingkirkan batu-batu yang menghalangi jalan. Demo di kampus-kampus tetap panas.

17 November: Salah seorang polisi terkena panah di betis. Massa membakar mobil polisi.

Sumber: AFP, SCMP

Editor : Edy Pramana

Reporter : (sha/c11/sof)



Close Ads