alexametrics

Gelombang Protes Anti Pemerintah yang Mengguncang Dunia

Muda, Bergairah, Tak Gampang Percaya
18 November 2019, 07:53:36 WIB

Unjuk rasa anti pemerintah terus bermunculan di berbagai negara. Beberapa aksi sudah mulai teredam. Sebagian besar lagi masih membara. Yang jelas, gelombang protes itu datang dari generasi muda yang sudah muak dengan situasi sekarang.

MOCHAMAD SALSABYL ADN, Jawa Pos

”ROUHANI, pergilah dari negara ini! Sendirian!” Teriakan itu terdengar dalam video yang beredar dan sampai di tangan Associated Press. Menurut rumor, adegan itu menunjukkan ketegangan di pom bensin Kota Sirjan. Mereka berusaha membakar tempat tersebut meski dapat dicegah aparat.

Di beberapa kota besar, mereka melakukan aksi damai untuk memprotes Presiden Hassan Rouhani. Mereka menganggap kenaikan harga BBM sebesar 50 persen sudah keterlaluan. Kini warga harus membayar 15 ribu riyal (Rp 5 ribu) per liter bensin. Kalau jatah 60 liter habis, mereka harus membayar dua kali lipat.

Harga tersebut cukup tinggi lantaran Iran punya cadangan minyak bumi 155 miliar barel. Sebelumnya, mereka hanya butuh membayar 10 ribu riyal alias Rp 3 ribu per liter. ”Di negara mana pun kenaikan BBM sudah pasti menggoyang kancah politik. Hal yang serupa terjadi pada pemerintahan Rouhani 2017 lalu,” ujar Henry Rome, analis Eurasia Group.

Iran boleh jadi masuk daftar negara yang baru-baru ini terguncang aksi unjuk rasa. Dewasa ini, rakyat di banyak negara sepertinya menunjukkan ketidakpuasan terhadap pemerintah. Mulai bangsa Amerika Latin, Timur Tengah, Eropa, hingga Asia ikut dalam gelombang demo anti pemerintah.

DEMI ASPIRASI: Tentara bentrok dengan massa pendukung mantan Presiden Evo Morales di Sacaba, Bolivia, Jumat (15/11) waktu setempat. Aparat mendukung pemerintahan anyar. (DICO SOLIS/AP)

Pemicunya berbeda-beda. Terkadang, kebijakan kecil pun bisa membuat rakyat mengamuk. Misalnya, pajak terhadap telepon WhatsApp di Lebanon dan kenaikan tarif kereta di Cile. Namun, ada satu yang sama. Kelompok pemuda yang sering dicap rezim pemerintah sebagai radikal.

”Pemudalah yang merasa muak. Mereka tak percaya terhadap elite politik dan ekonomi yang dipandang korup,” ujar Ali Soufan, kepala konsultan intelijen Soufan Group, kepada New York Times.

Pemicu demo skala besar, sering kali berdarah-darah, tersebut memang berbeda dan kadang terkesan remeh. Namun, itu hanya percikan terhadap kemarahan yang selama ini dipendam warga. Sebagian besar negara yang dilanda protes sudah lebih dulu dilanda isu ketimpangan sosial ekonomi, kemacetan demokrasi, dan kepercayaan bahwa semua bisa berubah.

Cile, misalnya. Negara yang dipimpin Sebastian Pinera itu merupakan negara terkaya di Amerika Latin. Namun, negara tersebut juga punya rasio ketimpangan yang luar biasa. Warga menengah ke bawah sudah lama frustrasi karena sulit bertahan di ibu kota Santiago.

”Data menunjukkan bahwa angka unjuk rasa hampir setara dengan periode 1960-an,” ujar Jacquelien van Stekelenburg, pakar di bidang perubahan sosial dan konflik di Vrije University Amsterdam, kepada The Guardian.

Sentimen negatif rakyat kecil terhadap kaum berada makin keras. Faktanya, 26 tokoh terkaya memiliki kekayaan setara dengan setengah populasi kaum miskin. Hal tersebut juga ditunjang era keterbukaan informasi. Mereka semakin melihat bagaimana orang lain hidup di negara lain. Itu menimbulkan acuan untuk mengetahui apakah kehidupan mereka memang layak.

”Pemuda dalam gerakan Arab Spring pasti tahu bagaimana penduduk di luar negeri hidup. Hal itu menciptakan rasa iri,” ujar Stekelenburg.

Zaman sudah berubah. Generasi muda pun mulai melek isu sosial politik. Mereka tak lagi puas dengan pemilu sebagai bukti demokrasi. Sebab, negara-negara yang sudah mengubah sistem penunjukan langsung menjadi pemilu pun tak memberikan kebebasan yang diinginkan.

Bahkan, beberapa negara sembunyi-sembunyi bergerak kembali ke rezim otoriter. Itu adalah hasil dari penelitian yang dilakukan Anna Lurhmann and Staffan Lindberg dari University of Gothenburg, Swedia. Banyak yang memanipulasi hasil pemilu, mengubah undang-undang, dan melumpuhkan oposisi untuk mempertahankan kekuasaan.

”Demokrasi dangkal seperti itu pasti menghadirkan unjuk rasa untuk menghilangkan monopoli politik mereka,” ujar Seva Gunistky, pakar politik dari University of Toronto.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/dos



Close Ads