alexametrics

Agenda Politik Pemimpin Hongkong Berantakan

Lagi, Pentolan CHRF Dikeroyok
18 Oktober 2019, 20:48:28 WIB

JawaPos.com – Chief Executive Hongkong Carrie Lam terpaksa kembali membatalkan agenda politiknya. Kamis (17/10) dia seharusnya menjawab pertanyaan anggota parlemen terkait dengan kebijakan-kebijakan yang dipaparkannya dalam pidato kenegaraan sehari sebelumnya. Namun, sama dengan pidato kenegaraan yang batal disampaikan langsung, sesi tanya jawab urung terjadi.

Penyebab batalnya sesi tanya jawab kebijakan pemerintah itu tetap sama. Kelompok legislator oposisi. Kemarin mereka kembali berulah. Poster Lam dengan dua telapak tangan berlumuran darah serta slogan-slogan prodemokrasi kembali menghiasi ruang sidang di gedung parlemen. Mereka meneriaki Lam dan mengklaim perempuan berkacamata itu tidak becus memimpin Hongkong. Beberapa legislator juga nekat naik meja dan terpaksa diseret petugas keamanan.

“Sebelas (legislator oposisi) dibawa ke luar ruangan,” kata sumber di parlemen kepada BBC. Untuk menghindari kericuhan berlanjut, Lam lantas meninggalkan gedung parlemen. Sesi tanya jawab batal.

Sementara itu, di jalanan utama Hongkong, massa terus berunjuk rasa. Mereka mengajukan lima tuntutan kepada Lam. Pertama adalah desakan agar pemerintah tidak menyebut demonstran sebagai perusuh. Dua tuntutan terpenting lainnya adalah amnesti untuk semua aktivis yang ditangkap dan penyelidikan independen atas kebrutalan polisi. Selain itu, massa menuntut pemerintah memberlakukan aturan universal terkait dengan hak pilih warga dan mencabut permanen RUU Ekstradisi.

Di tengah protes berembus kabar yang menyatakan bahwa Jimmy Sham, aktivis prodemokrasi, diserang dengan palu dan pisau. Serangan tersebut terjadi pada pukul 19.30 waktu setempat di Arran Lane, Tai Kok Tsui. Insiden Rabu malam (16/10) itu dilakukan sekelompok pria. Mereka mengeroyok Sham yang ketika itu menuju lokasi rapat Civil Human Rights Front (CHRF) di Mong Kok.

Akibat pengeroyokan tersebut, kepala Sham terluka. Darah segar mengucur dari sana saat dia dilarikan ke Kwong Wah Hospital dengan ambulans. Meski begitu, dia tak lantas bungkam. Sebaliknya, Sham malah makin lantang meneriakkan tuntutan. “Lima tuntutan tidak boleh kurang,” tegasnya.

Saat terjadi pengeroyokan, menurut Figo Chan, sebenarnya ada banyak orang yang melihat. “Tapi, mereka tidak berani menyelamatkan korban karena ancaman para pelaku,” terang rekan seideologi Sham tersebut.

Sebagai aktivis, Sham bukan baru kali ini menjadi sasaran aksi kekerasan. Pria yang menjabat ketua CHRF itu diserang dua pria berpenutup wajah pada 29 Agustus lalu. Kemarin kondisi Sham dilaporkan membaik. CHRF langsung menuding pemerintah sebagai dalang penyerangan.

Editor : Edy Pramana

Reporter : (sha/c14/hep)



Close Ads