alexametrics

Perjuangan Ralyn Satidtanasarn Bersihkan Thailand

Bolos Sekolah untuk Pungut Sampah
18 September 2019, 22:19:24 WIB

Ralyn Satidtanasarn resah. Dia merasa dikepung sampah. Tak mau berpangku tangan, gadis 12 tahun itu berkampanye untuk membersihkan lingkungan.

SITI AISYAH, Jawa Pos

JawaPos.com – Ralyn Satidtanasarn mendayung paddle board-nya pelan-pelan menyusuri sungai kecil di Bangkok, Thailand. Matanya memandang sekeliling. Begitu melihat sampah, dia langsung berhenti dan memungutnya. Gadis 12 tahun yang akrab disapa Lilly itu tak sendirian. Dia bersama beberapa temannya yang melakukan hal serupa.

”Saya adalah anak-anak di medan perang. Saya mencoba untuk tetap optimistis, tapi saya juga marah. Dunia kita menghilang,” tegasnya seperti dikutip Agence France-Presse.

Lilly bukanlah pemulung. Dia pelajar biasa. Namun, dia getol berkampanye untuk menyelamatkan bumi. Ini bukan pekerjaan baru baginya. Lilly memulainya sejak delapan tahun lalu secara tak sengaja. Kala itu, keluarganya rekreasi ke salah satu pantai di wilayah selatan Thailand dan di sana mereka melihat pantai yang tertutup sampah.

Alih-alih bersantai, dia dan keluarganya memilih untuk membersihkan pantai. Tapi, keesokan harinya sampah lain yang terseret ombak kembali mendarat. Sejak itulah, Lilly mulai getol mengampanyekan daur ulang, pengurangan penggunaan plastik, dan berbagai hal lainnya terkait lingkungan.

Alih-alih bersantai, dia dan keluarganya memilih untuk membersihkan pantai. Tapi, keesokan harinya sampah lain yang terseret ombak kembali mendarat. Sejak itulah, Lilly mulai getol mengampanyekan daur ulang, pengurangan penggunaan plastik, dan berbagai hal lainnya terkait lingkungan.

Ketika aktivis muda asal Swedia Greta Thunberg menjadi sorotan dunia, Lilly mengaku terinspirasi. Thunberg menjadi sorotan saat bolos sekolah dan beraksi di depan parlemen Swedia sendirian menuntut agar mereka bertindak lebih untuk mengatasi perubahan iklim. Aksinya diikuti pelajar lain di Swedia dengan mengusung nama Fridays for Future.

Ralyn memunguti sampah karet gelang di kawasan hutan dan pantai Khung Bang Kachao, Bangkok.(MLADEN ANTONOV/AFP)

Kini aksi tersebut bahkan diikuti pelajar dari berbagai belahan dunia. Remaja 16 tahun itu Senin (16/9) dianugerahi 2019 Ambassador of Conscience Award oleh Amnesty International AS.

”Greta Thunberg memberi saya kepercayaan diri. Ketika orang dewasa tidak melakukan apa pun, tugas kita sebagai anak-anak untuk bertindak,” terang gadis yang dijuluki Greta Thunberg-nya Thailand itu.

Dia mengungkapkan tak akan ikut aksi protes yang digagas Thunberg pada 20 September mendatang di New York, AS, sehari sebelum konferensi perubahan iklim PBB. Menurut dia, tugasnya adalah berjuang di Asia Tenggara. Dia bahkan menghabiskan waktu bermainnya dan ikut kegiatan kelompok Trash Hero untuk memungut sampah.

Baginya, kondisi Thailand memprihatinkan. Negara yang dikenal akan daya tarik pariwisatanya itu berada di urutan keenam sebagai kontributor global polusi laut.

Rata-rata setiap hari per orang menggunakan 8 kantong plastik sekali pakai. Artinya, per tahun satu orang menghabiskan sekitar 3 ribu kantong. Itu 12 kali lipat lebih banyak jika dibandingkan dengan yang digunakan orang di Uni Eropa.

Mencari sampah di sungai sudah menjadi bagian dari rutinitas Lilly. Dia juga berkali-kali berkampanye dan melobi pemerintah agar mengedukasi penduduk untuk mengurangi penggunaan plastik. Namun karena tak kunjung didengar, dia terjun langsung untuk memengaruhi supermarket dan toko-toko besar. Juni lalu dia berhasil membuat supermarket terbesar di Bangkok, Central, untuk berhenti memberikan plastik kepada pelanggan sekali dalam sepekan.

PROBLEM PLASTIK MENJERAT BUMI
– Separo dari seluruh plastik yang pernah diproduksi di dunia ini dibuat sepanjang 15 tahun terakhir.
– Pada 1950, produksi plastik hanya 2,3 juta ton. Tapi, pada 2015, angkanya sudah mencapai 448 juta ton. Diperkirakan produksi itu naik dua kali lipat pada 2050.
– Per tahun ada 8 juta ton sampah plastik yang masuk ke lautan. Sampah itu berasal dari negara-negara maritim.
– Bahan kimia dalam plastik membuatnya sulit terurai, terutama saat menjadi sampah. Satu kantong plastik butuh sekitar 400 tahun untuk terurai.
– Enam negara yang menyumbang sampah plastik terbesar ke lautan adalah Tiongkok, Indonesia, Filipina, Vietnam, Sri Lanka, dan Thailand.

Sumber: National Geographic, World Atlas

Editor : Edy Pramana

Reporter : (*/c6/dos)



Close Ads