JawaPos Radar

Ketegangan AS-Turki Buat Lira Kembali Keok Terhadap Dollar

18/08/2018, 14:55 WIB | Editor: Mochamad Nur
Ketegangan AS-Turki Buat Lira Kembali Keok Terhadap Dollar
Mata uang Lira Turki (Istimewa)
Share this

JawaPos.com - Perseteruan panas antara Amerika Serikat (AS) dan Turki masih terus berlanjut. Hal itu dipicu karena pengadilan Turki enggan melepaskan pendeta asal AS, Andrew Brunson kembali ke negaranya.

Seperti dilansir dari The Guardian, mata uang Turki, Lira, kembali melemah 5 persen menjadi berada pada level 6,1 pada Jumat (17/8), waktu setempat. Lira bahkan sudah hampir mengalami pelemahan hingga 7 persen.

Kondisi itu memicu aksi jual dolar di negara tersebut. Kepanikan muncul dari bursa saham Turki yang mengalami penurunan.

Dalam beberapa waktu terakhir, lira mengalami gejolak yang mencekam. Untuk pertama kalinya, mata uang tersebut mengalami rekor terendahnya di level 7,2 terhadap dolar.

Hal itu hingga saat ini langsung menimbulkan dampak dan kepanikan ke sejumlah pasar keuangan negara-negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia. Mata uang rupiah turut melemah terhadap dolar akibat dampak tersebut.

Sebelumnya, lira sempat mengalami perbaikan pada perdagangan Selasa (14/8) yang mencatat terjadi penguatan sebesar 0,39 poin atau 6,10 persen menjadi 6,48 lira per dolar AS.

Hal itu dipicu karena komitmen bank sentral Turki yang memberikan kebijakan untuk menyediakan likuiditas kepada perbankan serta langkah-langkah makroprudensial lainnya. Selain itu, komitmen dari Qatar untuk memberikan pinjaman kepada Turki sebesar USD 15 miliar serta pernyataan dari menteri keuangan Turki untuk memperbaiki lira cukup memberi dampak.

Namun hal itu berubah saat pengadilan Turki menolak permohonan pendeta AS untuk dibebaskan, sehari setelah Amerika Serikat memperingatkan sanksi lebih lanjut.

Reuters melaporkan bahwa sebuah pengadilan di provinsi barat Izmir menolak banding untuk melepaskan sang pendeta. Mereka beralasan hika saat ini masih mengumpulkan bukti untuk dilakukan pembebasan.

(Hap/Hana)

(hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up