JawaPos Radar

Turki Kosongkan Penjara untuk Tahan Pelaku Kudeta

18/08/2016, 19:45 WIB | Editor: admin
Turki Kosongkan Penjara untuk Tahan Pelaku Kudeta
LANGSUNG DIPROSES: Mayor Sukru Seymen (tengah) dibawa ke pengadilan. Hingga kini Turki masih terus menangkapi mereka yang dituding terkait dengan kudeta gagal Juli lalu. (KENAN GURBUZ/REUTERS)
Share this

JawaPos.com – Sejak kudeta gagal 15 Juli lalu hingga sekarang, Turki terus menangkapi para pendukung gerakan makar tersebut. Artinya, penjara-penjara di republik Eurasia itu akan kian sesak. Tapi, pemerintahan Perdana Menteri (PM) Binali Yildirim punya cara untuk mengurangi kepadatan penjara. Yakni, membebaskan 38 ribu narapidana (napi) kriminal selain pelaku pembunuhan dan terorisme.

Kemarin (17/8) Kementerian Kehakiman mengumumkan rencana tersebut. ”Mereka yang akan bebas adalah yang melakukan kejahatan sebelum 1 Juli,” terang Menteri Kehakiman Bekir Bozdag. Tanggal 1 Juli ditetapkan sebagai batas untuk memastikan bahwa napi yang bebas bukanlah yang punya kaitan dengan kudeta.

”Ini bukan amnesti. Mereka tidak bebas karena mendapatkan ampunan, tapi bebas bersyarat,” tegas Bozdag. Lewat akun Twitter resminya, dia memaparkan rencana pemerintah itu dengan gamblang. Termasuk memberikan penjelasan bahwa hanya mereka yang benar-benar terbukti tidak terkait kudeta yang bisa bebas. Pemerintah juga tidak akan membebaskan para napi kasus pembunuhan dan terorisme.

Dengan membebaskan sekitar 38.000 napi, pemerintah Turki bisa menjebloskan lebih banyak orang yang diyakini terlibat kudeta ke penjara. Atau, setidaknya memberikan kenyamanan bagi mereka yang kini mendekam di penjara dan menantikan sidang terkait kudeta. Yang lebih penting lagi, pemerintah bisa mengakhiri pemberitaan miring tentang penjara Turki.

Sejak awal bulan, media Turki menyoroti kepadatan penjara. Karena terlalu bersemangat memenjarakan mereka yang diduga kuat terlibat kudeta, pemerintah tidak ingat bahwa kapasitas penjara Turki terbatas. Akhirnya, para tersangka kudeta harus tinggal berdesakan di dalam sel. Kondisi itu membuat lembaga-lembaga HAM internasional mengkritik Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Sejak kudeta gagal pada 15 Juli lalu, aparat Turki menangkap sedikitnya 35.000 orang. Sebagian besar berstatus tahanan dan sedang menantikan proses hukum lebih lanjut. Tapi, sebanyak 11.600 di antaranya sudah bebas. Sebab, mereka terbukti tidak terlibat kudeta setelah menjalani serangkaian interogasi.

Media Turki melaporkan bahwa pengurangan jumlah napi itu sengaja dilakukan karena pemerintah akan memenjarakan para pelaku kudeta. Mereka akan menghuni penjara dalam kurun waktu yang lama. Sebab, pemerintah merancang hukuman berat untuk memberikan efek jera kepada para pelaku kudeta yang sebagian besar serdadu tersebut. (AFP/Reuters/BBC/hep/c6/any)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up