JawaPos Radar | Iklan Jitu

Ngeri, 8 Pengungsi di Libya Tewas dalam Kontainer Berisi 90 orang

18 Juli 2018, 05:54:18 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Ngeri, 8 Pengungsi di Libya Tewas dalam Kontainer Berisi 90 orang
Ilustrasi kondisi pengungsi di Libya yang mengenaskan (Al Jazeera)
Share this

JawaPos.com - Sebanyak delapan orang, termasuk enam anak tewas dalam satu kontainer yang dipenuhi 90 migran di Libya Barat. Dilansir Al Jazeera pada Selasa, (17/7), mereka tewas setelah kehabisan napas akibat asap bensin saat dikemas ke dalam kontainer truk di Pantai Barat Libya.

Puluhan migran lainnya yang baru turun dari kontainer pada hari Senin berada dalam kondisi kritis dan dibawa ke rumah sakit setempat untuk perawatan. Direktorat Keamanan di Kota Zuwarah mengatakan, Zuwarah adalah salah satu titik di sepanjang garis Pantai Barat Libya di mana penyelundup membawa migran sebelum menempatkan mereka di atas kapal untuk mencoba menyeberang ke Eropa.

Para migran berasal dari berbagai negara sub-Sahara Afrika dan Arab, serta Pakistan dan Bangladesh. Mereka telah dikunci di dalam sebuah wadah pendingin yang dirancang untuk mengangkut daging dan ikan yang ditemukan di luar Zuwarah, dekat dengan kompleks minyak dan gas Mellitah, sekitar 110 km dari Ibu Kota Tripoli.

Ngeri, 8 Pengungsi di Libya Tewas dalam Kontainer Berisi 90 orang
Direktorat Keamanan di Kota Zuwarah mengatakan, Zuwarah adalah salah satu titik di sepanjang garis Pantai Barat Libya di mana penyelundup membawa migran sebelum menempatkan mereka di atas kapal (Council on Foreign Relations)

"Sebagai akibat dari lamanya waktu mereka tercekik, mereka meninggal termasuk enam anak-anak, seorang perempuan, dan seorang pria muda," kata Direktorat Keamanan di Kota Zuwarah.

Suhu siang hari di barat laut Libya hingga 30 derajat Celsius dalam beberapa hari terakhir. Ini adalah tragedi migran terbaru di Libya, di mana perdagangan manusia dan pelanggaran hukum telah berkembang sejak pemberontakan 2011 yang menggulingkan dan menewaskan Presiden Libya Muammar Khadafi.

Pemerintahan saingan yang berbasis di Libya timur dan barat bergantung pada milisi untuk menjaga ketertiban. Namun, beberapa kelompok bersenjata telah terlibat dalam perdagangan manusia.

Libya terus menjadi titik tolak utama bagi pencari suaka yang berusaha menyeberangi Laut Tengah untuk mencari perlindungan di Eropa. Penyelundup mengambil keuntungan dari pelanggaran hukum Libya untuk mengirim ratusan ribu migran ke Italia selama empat tahun terakhir, meskipun arus telah melambat sejak musim panas lalu karena penumpasan penyelundup yang didukung Italia.

Bulan lalu, Juru Bicara Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Charlie Yaxley mencatat untuk tahun kelima berturut-turut ada 1.000 kematian migran di dataran Mediterania. Menurut laporan tahun 2018 oleh Human Rights Watch, kapal-kapal penuh migran dan pencari suaka yang mencoba menyeberangi laut telah dibawa kembali ke Libya setelah dicegat oleh penjaga pantai Libya, yang dilatih oleh UE dan Italia.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up