alexametrics

Sebagian Besar Perempuan Saudi Terpenjara di Rumah Mereka

18 Maret 2019, 20:16:21 WIB

JawaPos.com – Menjadi perempuan di Arab Saudi masih berat. Sistem perwalian diterapkan begitu ketat. Sebagian besar perempuan terpenjara di rumah-rumah mereka. Diperlakukan seperti benda. Mereka yang bersuara bakal berujung ke penjara.

Janji adalah utang. Harus dibayar lunas. Begitu juga janji Arab Saudi untuk menghapus sistem perwalian di negaranya. Rabu (13/3) Saudi membuat pernyataan tersebut di Dewan HAM PBB (UNHRC) di Jenewa, Swiss.

’’Ini adalah kali kedua dalam enam tahun terakhir Arab Saudi membuat janji semacam itu di hadapan UNHRC,’’ ujar legal officer di lembaga HAM MENA Taif Alkhudary seperti dikutip Al Jazeera. Tapi entah, kali ini akan ditepati atau tidak.

Pernyataan Saudi itu dibuat sebagai bagian dari Universal Periodic Review (UPR) pada November 2018. Dari 258 rekomendasi, Saudi menerima 182 di antaranya. Sebagian rekomendasi tersebut berisi penghentian pelanggaran HAM terhadap perempuan.

Janji yang dibuat negara yang dipimpin Raja Salman Bin Abdulaziz Al Saud itu kontras dengan apa yang terjadi di lapangan. Sebab, di hari yang sama, Saudi justru tengah mengadili sepuluh aktivis perempuan. Salah satunya adalah Loujain Al Hathloul.

Perempuan 29 tahun itu ditahan sejak Mei tahun lalu tanpa dakwaan apa pun. Rabu lalu proses dengar pendapat kasusnya akhirnya digelar. Loujain sendirian. Dia dan aktivis lainnya tak boleh didampingi pengacara.

Penangkapan dan kriminalisasi para aktivis perempuan tersebut berbanding terbalik dengan citra yang dibangun Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) bahwa dia adalah seorang reformis.

Sampai H-1 menjelang proses peradilan, Loujain dan para aktivis yang diadili, misalnya, Aziza Al Yousef, Eman Al Nafjan, dan Hatoon Al Fassi, bahkan tak diberi tahu bakal didakwa apa. Organisasi HAM Alqst akhirnya mengungkap Loujain didakwa melakukan kejahatan siber dan terancam hukuman lima tahun penjara.

Loujain memang dikenal sebagai pengacara dan aktivis kenamaan yang getol membela perempuan. Dia biasanya menyuarakan kekerasan domestik yang dialami kaum hawa di negaranya. Termasuk sistem perwalian dan larangan untuk menyetir. Laoujain ditangkap justru saat Saudi memperbolehkan perempuan menyetir sendiri. Ironis.

’’Bagaimana kita bisa mencapai kesetaraan gender jika kita membiarkan orang-orang yang mendukung hal tersebut meninggal di penjara?’’ tegas Walid Al Hathloul, kakak lelakinya.

Walid mengungkapkan bahwa selama ini dirinya tidak tahu bahwa banyak perempuan di Saudi yang diperlakukan buruk. Dulu dia berpikir bahwa para perempuan diperlakukan sama seperti keluarga Al Hathloul memperlakukan keluarga perempuan mereka. Diberi kebebasan dan dihormati keinginannya.

Semua pandangan itu berubah ketika dia mendengar paparan adiknya. Sebelum ditangkap, Laoujain bahkan berencana membuat shelter untuk para perempuan yang menjadi korban kekerasan domestik. Rencananya tempat perlindungan itu diberi nama Aminah. Artinya aman.

Walid mengungkapkan bahwa shelter itulah yang menjadi alasan utama saudarinya ditangkap. Kepada Walid dan kedua orang tuanya, Loujain menceritakan kengerian yang harus dihadapinya setiap hari selama di penjara.

Biasanya saat tengah malam Loujain bakal dibawa dari penjara Dhahban menuju tempat yang disebut hotel. Jaraknya hanya sekitar sepuluh menit dari penjara. Matanya ditutup dan dia dilempar masuk ke sebuah mobil untuk menuju tempat rahasia itu. Penyiksaan kerap dilakukan di area basemen.

’’Adik perempuan saya yang tercinta dicambuk, dipukul, disetrum, dan dilecehkan terus-menerus,’’ papar Walid. Fakta itu membuatnya begitu muak.

Menurut Walid, Saud Al Qahtani beberapa kali melihat adiknya disiksa secara langsung. Ajudan MBS itu tertawa ketika Loujain berteriak kesakitan. ’’Dia mengancam untuk memerkosa, membunuh, dan memotong tubuhnya kecil-kecil dan membuangnya ke selokan,’’ tegas Walid seperti dikutip Middle East Eye (MEE).

Kadang-kadang seorang pria bertopeng akan membangunkannya di tengah malam dan menebar ancaman. Siksaan fisik itu ditambah dengan tekanan mental saat interogasi berlangsung. Dia juga ditawari untuk bekerja sama dengan pemerintah dan menangkapi para perempuan yang melarikan diri dari negaranya.

Loujain tentu saja menolak semuanya. Karena itulah, siksaan untuknya kian berat. Setiap kali menceritakan siksaan yang dialaminya, tangannya bergetar tak terkendali. ’’Saya takut rasa sakit itu akan membekas selamanya,’’ ujar Walid.

Pria 31 tahun itu menegaskan bahwa perlakuan Saudi terhadap adiknya dan para aktivis lain seakan menyebar pesan kepada dunia. Yaitu, siapa pun yang buka suara akan bernasib sama. Para perempuan yang ciut nyali bakal langsung bungkam.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : (Siti Aisyah/c10/dos)

Copy Editor :

Sebagian Besar Perempuan Saudi Terpenjara di Rumah Mereka