alexametrics

Waspada Gelombang Kedua Penularan Virus Korona di Singapura

18 Februari 2020, 04:50:47 WIB

JawaPos.com – Kasus penularan wabah virus Korona asal Wuhan, Tiongkok, diklaim kini semakin menurun di pusat wabah itu sendiri. Artinya jumlah kasus baru atau terinfeksi jumlahnya menurun. Namun, jumlah kasus baru meningkat di Singapura.

Terakhir, pemerintah Singapura meningkatkan kewaspadaan atas virus yang kini bernama COVID-19 itu dengan zona oranye. Artinya semua orang di Singapura harus lebih waspada dan menghindari keramaian publik.

Indonesia belum memberlakukan larangan untuk terbang dan berkunjung ke Singapura. Akan tetapi imbauan untuk lebih meningkatkan kewaspadaan diri telah disampaikan.

“Singapura memang diwaspadai ada second wave virus ya. Di Tiongkok kan kasusnya turun. Makanya Singapura statusnya oranye kan. Ini bukan menakut-nakuti Indonesia. Ini early warning sistem ke masyarakat Singapura itu sendiri. Oranye itu untuk masyarakatnya supaya lebih hati-hati. Waspadai penularan,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto kepada wartawan, Senin (17/2).

Menurut Yurianto, protokol Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) jelas mengatur bahwa orang sakit tak akan diizinkan untuk pergi melintasi negara. Sehingga pengetatan pintu masuk dengan pengatur suhu (thermal scanner) dan mengukur satu persatu penumpang juga terus dilakukan.

“Makanya saat ada hoax 6 orang dari Singapura masuk lewat Batam dan diduga terinfeksi, kami enggak mau buat bantahan secara resmi. Makanya kami enggak bantah apapun. Nanti takutnya Singapura yang disalahkan WHO karena meloloskan orang yang sakit. Saat dicek, pasti enggak benar, hoax,” ungkap Yurianto.

Terkait pengetatan di pintu-pintu masuk pun juga harus dilakukan dengan hati-hati. Sebab itu menyangkut hubungan diplomatik kedua negara.

Pintu-Pintu “Tikus” di Batam Diperketat

Tak hanya jalur resmi lewat udara dan laut menuju dan dari Singapura, sudah jadi rahasia umum jika ke negara itu ada jalur-jalur “tikus” yang tidak resmi lewat Batam. Maka pengawasan orang bahkan dilakukan sampai ke jalur-jalur “tikus”.

“Justru warga dari Batam sendiri kok yang lebih berhati-hati. Mereka tak lakukan traveling. Terlihat turun drastis yang pergi ke Singapura atau datang melalui Batam dari darat dan laut. Bukan kita melarang, tapi penduduknya sendiri yang tahu itu batasan status oranye. Cegah tangkal juga diperkuat,” tegasnya.

“Dan, di Batam ini banyak pelabuhan jalur-jalur ‘tikus’ di pulau kecil-kecil. Tapi ini kan siaga darurat. Maka sudah melibatkan polisi, aparat teritorial semua dalam satu kesatuan. Harus kumpul di satu titik yang resmi. Enggak boleh lagi mendarat di tempat yang sebelumnya,” tambah Yurianto.

Berdasar itu, dia meminta masyarakat Indonesia tak perlu khawatir berlebihan. Dan, memang kebanyakan kasus yang terjadi di Singapura, kata dia, adalah karena pengaruh liburan Imlek, masyarakat Singapura pulang ke kampung halamannya di Wuhan.

“Karena banyak orang Singapura nenek moyangnya di Wuhan. Maka Imlek mereka ziarah, tapi masih bisa bergerak dalam inkubasi. Catatan WHO sebetulnya 1-10,5 hari. Tapi puncak inkubasi di 5-6 hari. Dan lebih safe lagi jika memberlakukan 14 hari,” tandasnya.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads