alexametrics

Pemimpin Hongkong Batal Pidato Langsung

AS-Norwegia Dukung Hongkongers
17 Oktober 2019, 21:33:16 WIB

JawaPos.com – Seharusnya Chief Executive Hongkong Carrie Lam menyampaikan pidato kenegaraan, Rabu(16/10). Namun, perempuan berambut pendek itu tidak sempat. Tepatnya, tidak diberi kesempatan. Kubu oposisi di dalam gedung parlemen berulah saat Lam naik podium. Mereka juga terus berteriak-teriak dan mengolok-olok pemimpin 62 tahun tersebut.

”Kedua tangannya berlumuran darah. Dia tak pantas lagi menjadi pemimpin,” seru Tanya Chan, legislator oposisi, kepada BBC. Di dalam ruang sidang itu para legislator oposisi mengusung papan bertulisan prodemokrasi. Beberapa di antaranya sengaja memakai topeng wajah Presiden Tiongkok Xi Jinping. Mereka menyebut Lam sebagai antek Beijing karena merepresi demonstran yang mengupayakan tegaknya demokrasi.

Penolakan terhadap Lam muncul sejak dia memasuki ruang sidang di gedung parlemen. Selain mengacungkan poster dan papan yang mereka bawa, kelompok oposisi tidak berhenti mencemooh Lam. Malah ada yang sampai naik meja. Panitia sidang pun lantas menghentikan acara untuk sementara waktu.

Setelah suasana reda, panitia mempersilakan Lam ke podium. Tapi, kubu oposisi kembali berulah. Aksi mereka tidak bisa diredam. Akhirnya Lam mengalah. Dia meninggalkan ruang sidang dengan pengawalan ketat. Agenda penting untuk mengumumkan pencabutan RUU ekstradisi secara resmi pun batal.

Lantas, apakah Lam batal berpidato? Tidak. Gagal berpidato langsung, Lam menggunakan peranti audio visual sebagai sarana pidato. Dia memvideokan pidatonya, kemudian menyebarluaskannya lewat media. Dalam pidatonya, Lam mengingatkan warganya bahwa Hongkong adalah bagian dari Tiongkok. Dia juga berbicara tentang kebijakan one country, two systems. Karena itu, dia meminta masyarakat menghargai kedaulatan pemerintah. Dalam hal ini, Beijing.

”Segenap aksi yang mengacu pada kemerdekaan dan membahayakan keamanan tidak akan pernah kami toleransi,” ungkap Lam.

Sementara itu, aksi demonstran di jalanan Hongkong belum reda. Warga makin lantang memprotes pemerintah.

Unjuk rasa Hongkong yang sejauh ini sudah mencapai 400 kali memang menghadirkan polemik. Beberapa mengatakan bahwa mereka adalah perusuh yang melukai ekonomi Hongkong. Namun, lainnya menganggap bahwa mereka adalah agen demokrasi yang berjuang melawan penindasan.

Norwegia, misalnya. Guri Melby, politikus Partai Liberal, baru saja mengajukan nominasi Nobel Perdamaian untuk Hongkongers. Melby merasa bahwa aksi mereka tak hanya memengaruhi Hongkong. Tapi, juga seluruh dunia.

”Mereka rela membahayakan hidup dan keamanan untuk membela demokrasi dan kebebasan berbicara,” ungkap dia kepada Aftenposten.

Dukungan bagi rakyat Hongkong juga datang dari Amerika Serikat (AS). Selasa lalu House of Representatives menepati janji mereka kepada aktivis demokrasi Joshua Wong dan bintang kantopop Denise Ho. Washington meloloskan regulasi untuk mendukung gerakan demokrasi di Hongkong.

Undang-Undang HAM dan Demokrasi Hongkong bakal menghapus status khusus Hongkong dalam perdagangan bilateral dengan AS. ”Hari ini kami mendorong Presiden Tiongkok (Xi Jinping) dan Chief Executive Carrie Lam untuk menghormati janji mereka kepada rakyat,” ujar Chris Smith, politikus Partai Republik.

Editor : Edy Pramana

Reporter : (bil/c10/hep)



Close Ads