alexametrics

Perang Dingin Tiongkok-AS Disebut Pakar Berbahaya dan Picu Ketakutan

17 Agustus 2020, 22:32:25 WIB

JawaPos.com – Tiongkok dan Amerika Serikat diharapkan bisa segera meredakan ketegangan yang muncul dimulai dari awal pandemi Covid-19. Hal itu lantaran hubungan Tiongkok dan AS disebut bisa menjadi kunci keharmonisan dan stabilitas perdamaian di dunia. Jika ‘Perang Dingin’ dilanjutkan, banyak yang menyebut bakal berbahaya.

Terkait istilah ‘Perang Dingin’ yang muncul di media Barat, Sonia Bressler, penulis dan ahli sinologi asal Prancis, memperingatkan bahwa penggunaan ungkapan tersebut bisa menimbulkan stres dan ketakutan yang umumnya disertai refleks penolakan. Kondisi ini memicu kekerasan verbal hingga agresi dan bisa bermuara pada perang.

Bressler percaya bahwa saling pengertian masih mungkin dilakukan. Dan, negara Eropa harus memainkan peran mediator. “Perang itu seperti api, jika berkepanjangan itu membahayakan mereka yang memprovokasi,” tegas Sonia kepada Xinhua.

“Stabilnya hubungan antara Tiongkok dan Amerika Serikat berdampak pada perdamaian, stabilitas, dan pembangunan di dunia,” imbuhnya.

“Hubungan antara Tiongkok dan Amerika Serikat adalah salah satu hubungan bilateral terpenting di dunia. Untuk menjaga dan menstabilkan hubungan Tiongkok-AS menyangkut kesejahteraan rakyat Tiongkok, Amerika serta rakyat di dunia. Ini juga berkaitan dengan perdamaian, stabilitas dan perkembangan di dunia,” kata Sonia mengutip artikel Yang Jiechi, anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis China (CPC) dan Direktur Kantor Komisi Urusan Luar Negeri dari Komite Sentral CPC.

Sejak pertemuan bersejarah antara Richard Nixon dan Mao Zedong pada 1972 dan terjalinnya hubungan diplomatik pada 1979, berkembanglah hubungan Tiongkok-AS. “Selama ini hubungan kedua negara telah membawa kemajuan besar di berbagai bidang dan pesatnya perkembangan ekonomi dunia,” katanya.

Menurut Sonia, kerja sama antara kedua negara diperlukan untuk kepentingan kedua negara dan dunia. Sebaliknya, menurutnya konfrontasi kedua negara akan menjadi bencana bagi kedua negara itu dan dunia.

“Tapi dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat semangat keras terhadap Tiongkok dari media Barat. Ketidakpercayaan ini memiliki konsekuensi ekonomi, politik dan kemanusiaan yang menghancurkan. Stabilitas (hubungan Tiongkok-AS) sekarang lebih penting daripada sebelumnya,” ungkap Sonia.

“Bagaimana menjaga stabilitas ini? Metode apa yang harus diterapkan untuk kembali ke tingkat tinggi sudut pandang strategis dan jangka panjang ini? Bagaimana tetap pragmatis, terutama ketika prisma media Barat menjadikan Tiongkok musuh di mata opini publik? Ini adalah pertanyaannya,” tambahnya.

Bagi Sonia, kebijakan unilateralisme dan proteksionisme AS telah menimbulkan kerugian parah pada hubungan internasional.
“Lebih mudah menunjuk musuh eksternal untuk menyelesaikan konflik internal khusus pada sistem ekonomi Barat,” pungkasnya.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani


Close Ads