JawaPos Radar

AS Klaim Target Rudalnya Tepat di Jantung Program Senjata Kimia Syria

17/04/2018, 11:05 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
AS Klaim Target Rudalnya Tepat di Jantung Program Senjata Kimia Syria
AS dan sekutu menghujani Syria dengan ratusan rudal (AP)
Share this image

JawaPos.com - Amerika Serikat (AS) dan sekutunya Inggris, Prancis menghujani Syria dengan rudal beberapa hari lalu. Ini dilakukan untuk membalas rezim Bashar Al Assad yang mereka tuding menggunakan senjata kimia kepada kelompok pemberontak di Douma, Syria hingga puluhan orang tewas.

Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley mengatakan, target yang dipilih untuk diserang berada tepat di jantung program senjata kimia ilegal rezim Syria. "Serangan tersebut direncanakan dengan hati-hati untuk meminimalkan korban jiwa warga sipil," katanya beberapa hari lalu.

Reaksi ini dapat dibenarkan, sah, dan proporsional. Amerika Serikat dan sekutunya telah melakukan semua hal yang bisa dilakukan untuk menggunakan cara diplomasi demi memusnahkan gudang senjata kimia milik Assad.

AS Klaim Target Rudalnya Tepat di Jantung Program Senjata Kimia Syria
AS dan sekutunya Inggris, Prancis menggempur Syria dengan rudal (Infografis: Kokoh Praba Wardani/JawaPos.com)

"Kami tidak hanya memberikan satu kesempatan diplomasi. Kami memberi kesempatan demi kesempatan untuk diplomasi."

Kesempatan yang diberikan, ujar Haley, sebanyak enam kali. Namun sebanyak itulah Rusia memveto resolusi Dewan Keamanan PBB untuk menangani senjata kimia di Syria.

"Bahkan kami mengupayakan lebih jauh lagi. Pada tahun 2013, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang mengharuskan rezim Assad untuk menghancurkan kepemilikan senjata kimianya."

Syria, terang dia, berkomitmen untuk tunduk pada Konvensi Senjata Kimia, yang berarti tidak bisa lagi memiliki senjata kimia di tanahnya. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, Rusia akan menjamin bahwa Syria mematuhi.

"Kami berharap cara diplomasi ini akan berhasil dalam mengakhiri horor serangan kimia di Syria. Tapi seperti yang kita lihat dari tahun lalu, hal tersebut tidak terwujud."

Assad memperhatikan tatkala Rusia sibuk melindungi rezim Syria. Rezim Syria tahu mereka bisa bertindak secara bebas dari hukuman, dan itu terjadi.

Pada bulan November, Rusia menggunakan hak vetonya untuk menghentikan Mekanisme Investigasi Gabungan, alat utama yang dimiliki untuk mencari tahu siapa yang menggunakan senjata kimia di Suriah. Sama seperti Rusia yang menggunakan hak vetonya ketika rezim Assad menggunakan gas sarin, yang menyebabkan puluhan korban luka-luka dan kehilangan nyawa.

Veto Rusia adalah lampu hijau bagi rezim Assad untuk menggunakan senjata paling biadab ini terhadap rakyat Syria, yang sepenuhnya melanggar hukum internasional. AS dan sekutu tidak akan membiarkan hal itu.

Senjata kimia, terang Haley, merupakan ancaman bagi kita semua. Merupakan ancaman yang unik, karena senjata ini begitu jahat sehingga komunitas internasional setuju bahwa harus dilarang.

Kita tidak dapat berdiam diri dan membiarkan Rusia mengotori setiap norma internasional yang kita perjuangkan, dan memungkinkan penggunaan senjata kimia tanpa tanggung jawab. "Sama seperti penggunaan senjata kimia rezim Syria akhir pekan lalu yang bukan merupakan insiden yang berdiri sendiri, reaksi kami adalah bagian dari jalur baru yang dipetakan tahun lalu untuk mencegah penggunaan senjata kimia di masa depan."

Dengan aksi militer kemarin, pesan AS sangat jelas. AS tidak akan mengizinkan rezim Assad terus menggunakan senjata kimia.

"Kami menghancurkan fasilitas penelitian utama yang digunakan untuk merakit senjata pemusnah masal. Saya sampaikan kepada Presiden dan dia mengatakan jika rezim di Syria masih menggunakan gas beracun lagi, maka AS akan terus melakukan serangan. Saat Presiden kami menggambar ‘garis merah’ terkait senjata kimia, Presiden akan menekankan ‘garis merah’ ini," ujar Haley.

Amerika Serikat mengucapkan terima kasih kepada Inggris dan Prancis yang telah menjadi bagian dari koalisi yang menentang penggunaan senjata kimia. "Kami mengepungnya, kami telah sepakat."

Dewan Keamanan PBB telah gagal memenuhi tanggung jawabnya mencegah penggunaan senjata kimia. Kegagalan ini sebagian besar akibat halangan dari Rusia. "Kami berharap Rusia bisa melihat situasi ini dan mengambil tanggung jawabnya sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan memperjuangkan prinsip PBB yang seharusnya dijunjung."

Menurut Haley, AS yakin telah melumpuhkan program senjata kimia Syria. "Kami bersiap untuk terus melakukan tekanan ini, bila rezim Syria berniat meneruskan misinya."

(ina/met/trz/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up