JawaPos Radar | Iklan Jitu

Seribu Perempuan Melarikan Diri dari Saudi Per Tahun

17 Maret 2019, 19:59:47 WIB
Seribu Perempuan Melarikan Diri dari Saudi Per Tahun
Ilustrasi perempuan di Arab Saudi (Reuters)
Share this

JawaPos.com - Masih ingat kasus Dina Ali Lasloom dan Rahaf Mohammed yang kisah pelariannya diberitakan secara global? Dina gagal dan dijemput paksa untuk kembali ke Saudi oleh pamannya, sedangkan Rahaf berhasil mendapatkan kewarganegaraan Kanada.

Mereka tak sendiri. Berdasar laporan The Economist pada Mei 2017, setiap tahun setidaknya ada lebih dari seribu perempuan yang lari dari Arab Saudi. Data itu didapatkan dari Universitas Imam Muhammad ibn Saud, Riyadh.

Tak semua perempuan berhasil lari. Ada yang terus bersembunyi selama bertahun-tahun karena takut diburu keluarganya. Ada pula yang akhirnya memilih bunuh diri karena tak mau kembali ke Saudi.

Mayoritas lari karena tak tahan dengan sistem perwalian di Saudi. Sebagian lainnya merasa tak berguna lantaran pergerakan mereka terbatas. Lowongan pekerjaan untuk perempuan memang tak banyak. Ada pula yang merasa tak tahan karena perlakuan orang tuanya yang dianggap keji.

"Selama dua tahun terakhir, kami melihat peningkatan pelanggaran HAM yang signifikan di Arab Saudi," ujar Andrea Prasow dari lembaga HAM Human Rights Watch (HRW).

Saudi seakan memiliki dua wajah. Pada 2013 mereka menyatakan akan menghapus sistem perwalian dan mengakhiri diskriminasi. Janji yang sama dilontarkan tahun ini. Tapi, di saat yang bersamaan mereka juga terus menangkapi para aktivis dan orang-orang yang mengkritik kerajaan.

"Penganiayaan terhadap para aktivis jelas bakal bertentangan dengan semangat negara (Saudi) yang memproklamasikan reformasi baru," tegas Komisioner Tinggi PBB untuk HAM Veronica Michelle Bachelet Jeria seperti dikutip Reuters.

Di pihak lain, Saudi juga mulai memperbaiki diri meski luar biasa lambat. Berdasar paparan HRW, kini perempuan Saudi tidak perlu izin walinya untuk bekerja. Januari tahun lalu perempuan diperbolehkan melihat pertandingan olahraga di stadion dan pada Juni mereka boleh menyetir.

Namun, banyak perempuan yang merasa reformasi tersebut masih belum cukup. Sebab, masih banyak wali yang tetap memperlakukan perempuan seenaknya. Awal tahun ini ribuan perempuan dari berbagai penjuru dunia membuat tagar dalam bahasa Arab.
"Akhiri sistem perwalian atau kami semua akan bermigrasi." Demikian bunyi tagar tersebut. Tagar itu merupakan bentuk solidaritas perempuan di seluruh dunia agar perempuan Saudi tak lagi merana. 

Editor           : Ilham Safutra
Reporter      : (sha/c10/dos)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini