JawaPos Radar

Hilangnya Khashoggi Tunjukkan Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi

16/10/2018, 13:05 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Khashoggi, AS, arab saudi, trump, MBS,
Dipuji sebagai pembuat reformasi progresif Arab Saudi, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman (MBS) memiliki catatan hak asasi manusia yang tidak menyenangkan (AP)
Share this

JawaPos.com - Dipuji sebagai pembuat reformasi progresif Arab Saudi, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman (MBS) memiliki catatan hak asasi manusia yang tidak menyenangkan. Dilansir Al Jazeera pada Selasa, (16/10), hilangnya jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi semakin menyudutkan posisi MBS tersebut.

MBS dinilai telah mengalahkan saingannya untuk menjadi pemimpin de-facto Arab Saudi pada tahun 2015, pangeran berusia 33 tahun ini diliput dengan berbagai sisi positifnya di media. Ia menghiasi sampul majalah Time, juga duduk untuk wawancara dengan CBS 60 Menit dan Bloomberg.

Namun, kasus Khashoggi telah mengalihkan fokus ke sisi gelap MBS mencakup menahan para kritikusnya dan aktivis hak asasi manusia. Ribuan warga sipil di Yaman tewas akibat Perang Yaman, juga peningkatan pesat jumlah eksekusi sejak MBS naik ke tampuk kekuasaan.

Khashoggi, AS, arab saudi, trump, MBS,
Namun, kasus Khashoggi telah mengalihkan fokus ke sisi gelap MBS mencakup menahan para kritikusnya dan aktivis hak asasi manusia (Samarew)

Beberapa rapor merah MBS selama pemerintahannya antara lain mengenai perang di Yaman, penahanan pemimpin Lebanon, memenjarakan aktivis hak asasi manusia perempuan, hubungan yang memburuk dengan Kanada, membersihkan saingan politik, gagal melakukan reformasi ekonomi, hingga penghancuran Yaman via udara.

Organisasi-organisasi hak asasi manusia menuduh pasukan koalisi yang dipimpin Saudi membombardir warga sipil dan rumah sakit, sekolah dan infrastruktur lainnya di Yaman tanpa pandang bulu. Selain kampanye udara yang berkepanjangan, Arab Saudi dan UEA juga memblokade pelabuhan strategis Hodeidah, yang mereka lihat sebagai titik masuk utama senjata untuk Houthi, yang didukung oleh Iran, saingan Arab Saudi.

Sejak 2015, setidaknya 10.000 orang telah tewas dalam perang Yaman, ribuan lainnya telah meninggal akibat kelaparan akibat perang dan jutaan orang mengungsi. Berbicara kepada Time pada bulan April 2018, MBS membela intervensi yang dipimpin Saudi di Yaman. Ia mengatakan, kesalahan operasi militer itu biasa terjadi.

“Tentu saja kesalahan yang dibuat oleh Arab Saudi atau koalisi adalah kesalahan yang tidak disengaja. Kita tidak perlu memiliki Hizbullah baru di semenanjung Arab. Ini adalah garis merah tidak hanya untuk Arab Saudi tetapi untuk seluruh dunia," ujar MBS.

Ketika mantan perdana menteri Lebanon Saad Hariri pergi ke Ibu Kota Saudi pada November 2017, teleponnya disita pada saat kedatangan, dan sehari kemudian ia mengundurkan diri dari posnya di saluran televisi milik Saudi.

Hariri dipanggil untuk bertemu dengan Raja Salman dan Putra Mahkota MBS sehari setelah kedatangannya, tetapi akhirnya Hariri melakukan pidato pengunduran dirinya via televisi. Langkah itu memicu kemarahan di Lebanon karena dianggap penculikan perdana menterinya.

Hubungan Saudi-Lebanon tegang karena Presiden Michel Aoun menolak untuk menerima pengunduran diri Hariri dan meminta pihak berwenang di Riyadh untuk membebaskan perdana menteri yang ditahannya. Hariri, 47 tahun, akhirnya kembali ke Beirut beberapa minggu kemudian setelah upaya mediasi Presiden Perancis Emmanuel Macron yang sukses, dan menarik pengunduran dirinya.

Meskipun menolak semua tuduhan memaksa Hariri untuk mengundurkan diri, MBS dilihat sebagai salah satu pemain kunci di balik episode aneh tersebut. Hal yang tidak kalah menyedihkan adalah ulah MBS atas penahanan sejumlah aktivis hak-hak perempuan.

Human Rights Watch (HRW) mengritik penangkapan para aktivis perempuan itu, mengatakan, hal itu adalah upaya MBS untuk menunjukkan dia tidak akan menerima kritik terhadap pemerintahannya. "Kampanye reformasi Putra Mahkota MBS telah menjadi ketakutan besar bagi para reformis Saudi asli yang berani mengadvokasi hak asasi manusia atau pemberdayaan perempuan, " ujar Direktur Timur Tengah Human Rights Watch, Sarah Leah Whitson.

Dia menambahkan, pesannya jelas bahwa siapa pun yang mengungkapkan skeptisisme tentang agenda hak-hak penguasa akan menghadapi waktu di penjara.

Berbicara kepada Bloomberg awal bulan ini, MBS mengatakan, beberapa dari aktivis yang ditangkap memiliki hubungan dengan badan-badan intelijen asing dan mencoba untuk mencederai Arab Saudi. "Qatar adalah salah satu dari negara-negara yang merekrut sebagian dari orang-orang itu. Dan beberapa lembaga secara tidak langsung bekerja sama dengan Iran. Mereka adalah dua negara utama yang benar-benar merekrut orang-orang ini,” katanya.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up