alexametrics

Boris Johnson Bangkang Putusan Parlemen

Yakin Dapatkan Kepercayaan Eropa
16 September 2019, 18:11:05 WIB

JawaPos.com – Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tetap pada pendiriannya. Menghadapi pertemuan penting Senin (16/9), kekasih Carrie Symonds itu bersikeras mempertahankan prinsip awalnya. Menurut dia, kabinet terbaru Inggris layaknya superhero yang tak akan mati. Seberapa pun kuatnya serangan lawan.

Pertemuannya di Brussel dengan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker dibarengi dengan berbagai tekanan. Dia harus meyakinkan Uni Eropa, rakyat Inggris, bahkan politisi Partai Konservatif sendiri, bahwa dirinya bisa membawa kesepakatan. Tapi, sikap Johnson tak melunak sedikit pun.

Menurut bocoran yang diperoleh The Guardian, Johnson sudah menyiapkan kisi-kisi skrip dalam pertemuannya. Salah satunya membenarkan rumor bahwa dia tak serius mencari kesepakatan. Johnson juga membenarkan bahwa dirinya tak akan menaati larangan parlemen terkait dengan opsi no deal Brexit alias perceraian dengan Uni Eropa (UE) tanpa kesepakatan.

“Kami akan pergi pada 31 Oktober apa pun yang terjadi. Jadi, ayo kita bekerja keras untuk mencapai kesepakatan dalam sisa wakt,” Begitu yang akan dikatakan Johnson saat bertemu dengan Juncker, menurut sumber tepercaya.

Dalam pertemuan makan siang tersebut, Johnson ditemani Menteri Brexit Inggris Stephen Barclay dan penasihat Brexit David Frost. Barclay dan Fros berbicara soal teknis dengan kepala negosiator UE Michel Barnier. Mereka bertiga sudah sepakat untuk tak mengungkit perpanjangan waktu.

Tentu saja, hal tersebut bakal disusul dengan gugatan hukum jika mereka terus membangkang. Namun, Johnson tak peduli. Dia percaya kubunya lebih kuat menghadapi semua tentangan. Itu ibarat Dr Bruce Banner yang berubah menjadi Hulk saat terus dibuat marah.

Perumpamaan tersebut datang dari mulut pria 55 tahun itu. Menurut dia, Inggris bakal lebih kuat jika terus ditekan. “Semakin marah, Hulk semakin kuat. Dan tak peduli seberapa ketat ikatan, dia bisa lolos,” tegasnya kepada BBC.

Johnson terus menegaskan bahwa pihaknya perlahan mendapat kepercayaan dari kubu Eropa. Tim yang dipimpin David Frost sudah mendapat kemajuan di Berlin, Paris, dan terutama Dublin. Mereka percaya Inggris bisa membawa alternatif backstop yang disetujui kubu UE.

“Semua tangan pemerintah berfokus untuk mendapatkan kesepakatan dan pergi pada 31 Oktober,” ujar Menteri Dalam Negeri Inggris Priti Patel.

Klaim dari kubu Johnson belum terbukti seluruhnya. Namun, ada satu yang sudah pasti. Tekanan pemerintah terus besar. Terutama dari dalam negeri.

Sabtu lalu (14/9) satu lagi anggota Konservatif yang membelot. Mantan Menteri Universitas Inggris Sam Gyimah mengumumkan perpindahannya ke Liberal Demokrat. Kehilangan tersebut cukup besar mengingat Gyimah merupakan salah seorang tokoh Konservatif yang sedang naik daun. Bahkan, dia pernah berebut kursi ketua Konservatif dengan Johnson Juni lalu.

David Cameron juga turut angkat bicara. Mantan perdana menteri Inggris itu menghilang untuk meluncurkan memoar di balik referendum 2016. Dalam buku tersebut, dia habis-habisan “memaki” kawan satu kampusnya.

“Dia mengambil risiko hanya karena merasa keputusannya akan membantu karir politiknya,” tulis Cameron dalam intisari memoar For the Record menurut AFP.

Pria 52 tahun itu tak sungkan mengungkap borok Johnson dalam bukunya. Menurut dia, Johnson sebenarnya tak yakin bahwa gerakan Leave yang dipimpin bisa berhasil. Dia bahkan sempat mengungkit kemungkinan referendum kedua jika memang Inggris memasuki tahap yang berbahaya.

Hubungan personal dengan Boris Johnson sampai merenggang gara-gara pengkhianatan tersebut. Namun, yang paling disayangkan adalah keputusan Michael Gove untuk ikut dalam kampanye Vote Leave. Menurut pria yang mengadakan referendum Brexit itu. Gove merupakan sahabat karibnya.

UJAR MEREKA
“Mereka (Johnson dan Gove) merusak pemerintah yang sebenarnya tempat mereka mengabdi. Saya sempat tak percaya dengan apa yang saya lihat.’’ DAVID CAMERON, Mantan Perdana Menteri Inggris

Editor : Edy Pramana

Reporter : (bil/c19/sof)



Close Ads