alexametrics

Hongkongers Tolak RUU Ekstradisi: Cabut! Jangan Cuma Ditangguhkan

16 Juni 2019, 12:15:35 WIB

Aksi massa besar-besaran yang dilakukan penduduk Hongkong membuahkan hasil. Pembahasan RUU ekstradisi dihentikan sementara. Tapi, perjuangan belum usai hingga RUU kontroversial itu dicabut sepenuhnya.

CARRIE Lam harus menyerah. Setidaknya untuk saat ini. Kemarin (15/6) chief executive Hongkong itu terpaksa mengubah sikap. Dalam sesi konferensi pers, Lam berkata bahwa pembahasan rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi akan dihentikan sementara. Padahal, sebelumnya dia kukuh melanjutkan pembahasan meski banyak yang menentang.

Pemimpin 62 tahun itu mengungkapkan bahwa pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk meminimalkan perbedaan. Kenyataannya, massa tetap turun ke jalan dengan jumlah massif. Itu adalah aksi terbesar sejak Hongkong diserahkan Inggris ke Tiongkok 1997 lalu. Kericuhan tak terelakkan sehingga banyak yang luka-luka, termasuk pekerja media.

“Saya sedih mengetahui kenyataan itu,” terang chief executive Hongkong ke-4 tersebut seperti dikutip Agence France-Presse.

Karena itulah, pemerintah akhirnya memutuskan untuk menangguhkan pembahasan RUU. Seharusnya pembahasan kedua di parlemen dijadwalkan bulan ini. Lam juga berjanji untuk berkomunikasi lagi dengan semua sektor masyarakat dan mendengar berbagai pandangan sebelum melanjutkan pembahasan.

“Kami tidak berniat menetapkan batas waktu untuk hal ini,” terangnya. Pemerintah akan melapor dan berkonsultasi dengan komite keamanan dewan legislatif lebih dulu sebelum mengambil langkah selanjutnya.

Informasi penangguhan pembahasan RUU itu pertama muncul di media-media Tiongkok seperti South China Morning Post, Now TV, TVB, dan RTHK. Semuanya mengutip sumber di pemerintahan Hongkong. Dilaporkan bahwa Lam menggelar rapat Jumat malam (14/6) dengan para penasihatnya. Di lain pihak, para pejabat di Tiongkok juga menggelar rapat serupa di Shenzhen untuk memetakan situasi.

Penangguhan pembahasan itu tak membuat demonstran dan para pendukungnya berhenti. Rencana aksi besar-besaran hari ini (16/6) tetap bakal dilangsungkan. Mereka tidak akan berhenti hingga Lam mencabut RUU tersebut, bukan sekadar menangguhkan. Lam kemarin dengan tegas menolak mencabut sepenuhnya. Menurut dia, itu akan membuat publik berpikir bahwa RUU tersebut diusulkan tanpa dasar.

“Menangguhkan artinya berhenti sementara dan akan dilanjutkan nanti. Yang kami inginkan adalah penarikan. Kami tidak terima,” tegas Minnie Li, dosen di Education University Hongkong.

Lam dan Dukungan yang Lenyap

CARRIE Lam memang harus menelan kembali kata-katanya yang sebelumnya menolak penangguhan. Sebab, orang-orang terdekatnya mulai berpaling darinya. Termasuk penasihatnya dan para legislator pro-Beijing. Para petinggi di Tiongkok juga dikabarkan tidak senang dengan keputusan Lam menangani situasi yang membuahkan cibiran dari berbagai penjuru dunia.

“Pemerintah pusat tidak memberikan instruksi atas amandemen (RUU ekstradisi),” tegas Duta Besar Tiongkok untuk Inggris Lu Xiaoming seperti dikutip BBC.

TETAP SIAGA: Polisi menjaga kompleks Dewan Legislatif Hongkong kemarin.
Mereka bersiap menyambut aksi massa yang dijadwalkan hari ini (16/6). (Hector Retamal/AFP)

Setelah kemarahan publik mencuat, Tiongkok memang berusaha cuci tangan. Terlebih, Jumat malam yang berang adalah ibu-ibu yang tak terima anaknya ditembaki dengan peluru karet dan gas air mata.

Sebelum Lam memutuskan menangguhkan pembahasan tanpa batas waktu, para taipan Hongkong mulai memindahkan aset-aset pribadinya karena situasi yang terus memanas. Terutama mereka yang dimusuhi Beijing. Para pebisnis itu takut mereka bakal dicari kesalahannya, ditangkap, diekstradisi ke Tiongkok dan aset mereka akan disita. Singapura menjadi pilihan.

Pemindahan aset itu merugikan Hongkong. Karena itu, keputusan penangguhan pembahasan disambut baik oleh para pebisnis. Termasuk Chairman Kamar Dagang Umum Hongkong Aron Harilela. Menurut dia, penangguhan itu akan membuat semua pihak kembali berdebat secara rasional, bukan lewat aksi massa.

Memang ada kekurangan. RUU itu telah menyebabkan perpecahan di masyarakat. Namun, saya pikir, kami tidak berada dalam posisi untuk menariknya.” CARRIE LAM, Chief Executive Hongkong

Namun, hari ini massa akan berkumpul di Victoria Park pukul 14.30 waktu setempat. Mereka akan memakai baju hitam. Tuntutannya bukan hanya RUU ekstradisi dicabut sepenuhnya, melainkan juga Lam harus meletakkan jabatannya. Bagi massa, kredibilitas Lam sudah tercoreng. Dia dan jajaran pemerintahannya tak lagi layak untuk memimpin Hongkong.

Massa bersikukuh jika Lam tetap dengan keputusannya untuk tak menarik RUU ekstradisi, mereka juga tidak akan berubah sikap. Mereka menuntut semua demonstran yang ditangkap dibebaskan. Polisi juga diminta berhenti memburu orang-orang yang dianggap sebagai ketua aksi.

“Carrie Lam telah kehilangan kredibilitas di mata rakyat Hongkong. Dia harus turun,” tegas Claudia Mo Man-chin, salah seorang pemandu massa.

PUTAR BALIK FAKTA LEWAT MEDIA SOSIAL

– China Daily menulis bahwa 800 ribu orang yang turun ke jalan mendukung RUU ekstradisi, padahal kenyataannya menolak. Di Tiongkok, akses internet dibatasi sehingga sangat mungkin penduduk percaya.

– Foto aktivis Ka Yau Ho yang ditangkap dengan mengenakan baju putih tembus pandang tanpa bra disebar kelompok propolisi Hongkong di Facebook. Foto itu telah diedit untuk membentuk opini bahwa Ho ditangkap karena berperilaku tak senonoh. Hujatan untuknya mengalir deras. Dia dituduh sebagai pekerja seks. Anggota partai prodemokrasi Demosisto itu akhirnya mengunggah foto yang asli sebagai bentuk klarifikasi.

– Beredar video pasukan Tiongkok ditempatkan di perbatasan Hongkong. Namun, video yang viral di Twitter itu ternyata berlokasi di Longyan, Provinsi Fujian, yang berjarak 514 kilometer dari Hongkong.

– Penduduk sempat menyangka sebagian anggota polisi Hongkong adalah agen Tiongkok yang menyamar, padahal itu tidak benar.

– Tiongkok melakukan serangan cyber ke Telegram. Telegram adalah wadah bagi penduduk Hongkong untuk berkomunikasi dan berkoordinasi. CEO Telegram Pavel Durov memastikan bahwa serangan cyber itu, alamat IP-nya, memang berasal dari Tiongkok.

– Google salah menerjemahkan kata sedih menjadi senang. Salah seorang Hongkongers menulis bahwa dia sedih Hongkong menjadi bagian dari Tiongkok. Namun, oleh Google diterjemahkan menjadi dia senang.

– Polisi mengamati media sosial dan menangkapi para aktivis yang mengoordinasi aksi.

Sumber: The New York Times, The Guardian, China Daily, BuzzFedd, Hong Kong Free Press

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : Siti Aisyah/c10/dos