JawaPos Radar

MUI akan Kaji Soal Fatwa Kunjungan ke Israel

16/06/2018, 17:05 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
MUI akan Kaji Soal Fatwa Kunjungan ke Israel
MUI akan kaji fatwa ke Israel (Nigerian Pilot)
Share this

JawaPos.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengkaji permintaan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah soal fatwa haram berkunjung ke Israel. Saat ini masih dipikirkan.

"Apakah harus dikeluarkan sebuah fatwa untuk mengatur tentang itu, jadi saya kira memang permintaan dari Pak Fahri Hamzah, ya perlu kami pelajari dan dalami terkait dengan konteks dan juga kontennya," ujar Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid Saadi saat ditemui di kediaman Ketua DPD Oesman Sapta di Kuningan, Jakarta, Sabtu, (16/6).

Namun, kata dia, untuk membuat fatwa ada beberapa ketentuan. Pertama apakah ada atau tidak permintaan dari masyarakat. Kedua, apakah itu masuk wilayah fatwa atau tidak.

MUI akan Kaji Soal Fatwa Kunjungan ke Israel
Peziarah Indonesia di Israel (Haaretz)

Biasanya yang masuk dalam wilayah fatwa itu katanya berkaitan dengan sebuah ketentuan hukum boleh atau tidak atau haram atau tidak. "Nah kalau berpergian, berkunjung ke sebuah negara apakah itu masuk dalam wilayah itu kan gitu, ini harus diteliti dari aspek apa kita memberikan hukum itu," tutur Zainut.

Di MUI sendiri katanya fatwa bisa berbentuk pendapat hukum dan pernyataan imbauan kepada masyarakat untuk tidak melakukan sesuatu. "Tapi tidak sampai ketentuan hukum. Ada yang namanya rekomendasi jadi ini harus kami pilah-pilah apakah masuk di fatwa atau tausiah atau rekomendasi," terang Zainut.

Dia menambahkan, pengkajian tersebut akan dilakukan pascalebaran. "Setelah lebaran Insya Allah, kami harus melakukan juga berdasarkan surat yang masuk ya," katanya.

Sejauh ini pihaknya pun belum menerima surat permohonan fatwa haram ke Israel. Namun setiap rapat dewan pimpinan harian, pihaknya selalu meneliti perkembangan yang ada di publik.

"Setiap perkembangan itu, kami akan memberikan pendapat atau sikap apakah perlu dikeluarkan tausiah atau rekomendasi atau sampai tingkat fatwa," tutur Zainut.

Sementara itu, pihaknya dipastikan tidak akan memanggil Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) yang juga Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf. Sebab kedatangan pria yang akrab disapa Gus Yahya ke Israel atas nama pribadi bukan mewakili lembaga Nahdlatul Ulama, masyarakat, atau negara Indonesia.

Zainut yakin Gus Yahya memiliki alasan tersendiri hadir di negara tersebut. "Yang penting harapan kami masalah ini tidak perlu dijadikan polemik, sudahlah diselesaikan biar tidak terlalu gaduh," pungkas Zainut

Gus Yahya bertolak ke Israel atas undangan Universitas Tel Aviv untuk menjadi pembicara dengan tema 'Shifting the Geopolitical Calculus; From Conflict to Cooperation'. Ia sempat berdialog dengan Forum Global Yahudi Amerika saat berkunjung ke Israel.

Dalam forum dialog dengan Direktur Hubungan Antaragama Rabi David Rosen, Yahya mengatakan bahwa kunjungannya ke Israel kali ini tak lepas dari melanjutkan pekerjaan mantan Presiden keempat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Di pertemuan itu, Gus Yahya menyampaikan sejumlah hal, mulai dari langkah yang telah dilakukan Gus Dur sebelumnya, hubungan Yahudi dan Islam, hingga tentang kasih sayang untuk menyelesaikan suatu konflik.

(dna/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up