alexametrics

Kisah Islam di Australia Bisa Disaksikan di Museum Sejarah Jakarta

16 April 2019, 04:53:26 WIB

JawaPos.com – Boundless Plains: The Australian Muslim Connection, sebuah pameran foto yang menceritakan kisah lengkap Islam di Australia, secara resmi dibuka di Museum Sejarah Jakarta kemarin.

Pameran ini memetakan sejarah panjang Islam di Australia, mulai dari pelaut Makassar yang berdagang dengan penduduk asli Yolngu di Australia Utara dan penunggang unta dari Asia Selatan yang membantu mengembangkan pedalaman Australia, hingga imigran dari seluruh dunia yang menjadikan Australia sebagai rumah mereka.

Dikembangkan oleh Islamic Museum of Australia, pameran ini akan dibuka untuk umum selama dua minggu ke depan dan memberikan informasi tentang bagaimana Islam telah berkembang di Australia selama lebih dari 200 tahun terakhir.

Didirikan pada 2010 sebagai museum komunitas nirlaba di Melbourne, Islamic Museum of Australia bertujuan untuk menampilkan warisan artistik yang kaya dan sumbangsih sejarah umat Muslim di Australia dan luar negeri.

CEO Islamic Museum of Australia, Ali Fahour akan menghadiri pembukaan pameran. Staf pendidikan dari museum juga akan berkunjung ke Jakarta untuk berbagi cerita tentang pameran ini dengan siswa sekolah setempat.

“Islam adalah agama besar di Australia dan berkembang pesat dengan laju sekitar 20 persen,” kata Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan.

“Pameran ini menyoroti Australia, sama seperti Indonesia, memperoleh banyak kekuatan dari masyarakat multi agama dan multikulturalnya. Lebih dari sebelumnya, kita perlu mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dan membangun hubungan antara komunitas-komunitas kita, dan terutama komunitas agama kita,” tambah Quinlan.

Kepala Unit Pengelola Museum Sejarah Jakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati mengatakan, Museum Sejarah Jakarta senang bisa ikut mengadakan pameran ini bersama Kedutaan Besar Australia. “Saya berharap pameran ini akan menciptakan peluang lebih lanjut untuk kemitraan budaya dan pariwisata antara dua negara kita.”

Pengunjung dapat menikmati pameran ini di Museum Sejarah Jakarta hingga Selasa 30 April.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia