alexametrics

Serangan Teroris di Selandia Baru Didorong Supremasi Kulit Putih

16 Maret 2019, 10:50:31 WIB

JawaPos.com – Facebook dan Twitter terus menghapus halaman yang terhubung dengan teroris di Selandia Baru, Brenton Tarrant. Rekaman serangan masih dapat ditemukan di beberapa platform media sosial. Teroris di Selandia Baru tersebut berencana untuk membunuh lebih banyak orang-orang di sebuah masjid di Ashburton, jika dia bisa sampai di sana setelah menargetkan masjid Christchurch dan Linwood. Sang teroris meninggalkan manifestonya yang berisi seputar anti-Muslim dan antiimigran.

Sejauh ini, kekerasan akibat ideologi supremasi kulit putih meningkat di AS dengan beberapa penembakan masal yang terjadi di beberapa tempat pada 2018 lalu. Namun tragedi hari Jumat tidak biasa bagi Selandia Baru, sebuah negara dengan tingkat pembunuhan yang rendah dan populasi hanya di bawah 5 juta.

Menurut Southern Poverty Law Center, seperti diberitakan oleh Al Jazeera pada Sabtu (16/3), banyak plot supremasi kulit putih lainnya, termasuk beberapa yang berencana untuk membunuh sebanyak 30 ribu orang, telah digagalkan oleh penegak hukum di Amerika Serikat.

penembakan masal, penembakan di masjid, masjid selandia baru, selandia baru,
Jamaah masjid mencari tempat aman usai terjadinya penembakan di masjid (AP)

Bulan lalu, FBI menangkap Christopher Paul Hasson, seorang penganut supremasi kulit putih dan letnan penjaga pantai AS. Ia dituding merencanakan serangan teroris terhadap warga kulit hitam dan politisi liberal.

Meskipun media dan elit politik AS menghabiskan banyak waktu membahas teroris Islam, sebenarnya teroris supremasi kulit putih jauh lebih umum ditemukan. Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan, dua pertiga dari serangan teroris di AS dilakukan oleh individu dan kelompok sayap kanan yang berideologi supremasi kulit putih.

Menurut penelitian Southern Poverty Law Center, sebagian besar kekerasan sayap kanan terkait dengan supremasi kulit putih. Terlepas dari ancaman nyata dan terus-menerus dari terorisme supremasi kulit putih, masyarakat Barat masih bisa dibilang tidak menganggap bahaya seserius yang seharusnya.

Sebuah laporan New York Times baru-baru ini menunjukkan bahwa selama beberapa dekade strategi kontraterorisme domestik AS telah mengabaikan meningkatnya bahaya ekstremisme kanan. Menurut laporan itu, ektremisme kanan terkait dengan supremasi kulit putih.

Nasionalisme kulit putih telah berakar kuat di arus utama politik Eropa dan Amerika. Di Eropa, kaum nasionalis kulit putih telah mendapatkan daya tarik politik dan memengaruhi pemilihan umum dan referendum, termasuk pemungutan suara Brexit Inggris tahun 2016, sementara di AS, Presiden Donald Trump dan sejumlah politisi Republik telah dikaitkan dengan supremasi kulit putih.

Supremasi kulit putih tidak selalu keras, setidaknya tidak pada tingkat individu. Beberapa efek supremasi kulit putih lebih berbahaya, tetapi juga lebih luas dan umum. Studi ilmiah pada bias implisit menunjukkan bahwa orang kulit putih memandang orang kulit hitam secara intelektual lebih rendah dan lebih mengancam.

Satu analisis kuantitatif menunjukkan, tindakan terorisme yang dilakukan oleh Muslim menerima Lebih banyak perhatian berita 357 persen daripada tindakan terorisme yang dilakukan oleh non-Muslim. Selain itu, kata terorisme sering diabaikan dalam konteks kekerasan non-Muslim dan digunakan secara eksklusif dalam laporan berita yang menggambarkan kejahatan Muslim.

Elit politik dan liputan media, kemudian, adalah dua faktor yang membantu menjelaskan persepsi negatif sebagian besar Muslim, orang kulit hitam, imigran, dan minoritas lain dalam masyarakat Barat kontemporer.

Teroris di Selandia Baru tidak dilahirkan untuk membenci Muslim atau kelompok minoritas lainnya. Mereka dididik sama seperti semua teroris supremasi kulit putih lainnya diajarkan, melalui wacana fanatik yang telah mencapai status hegemonik di masyarakat barat.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : Dinda Lisna

Serangan Teroris di Selandia Baru Didorong Supremasi Kulit Putih