JawaPos Radar | Iklan Jitu

Pria India Tewas Usai Transplantasi Rambut

16 Maret 2019, 09:05:59 WIB
transplantasi rambut, rambut, india,
Dokter yang merawatnya mengatakan kepada polisi, ia meminta cangkok rambut tiga kali lebih banyak dari yang direkomendasikan (Shutterstock)
Share this

JawaPos.com - Seorang pria India telah meninggal usai dilaporkan menderita alergi selama transplantasi rambut. Dilansir Daily Mail pada Kamis (14/3), pria malang tersebut bernama Shrawan Kumar Choudhary yang menjalani prosedur di sebuah klinik swasta di Mumbai.

Pria berusia 43 tahun, yang mengelola sebuah perusahaan logistik, meninggal sehari setelah prosedur operasi yang dilakukan selama 12 jam. Choudhary yang diduga tidak memberitahu keluarganya tentang prosedur itu, membayar 500 ribu Rupee.

Dokter yang merawatnya mengatakan kepada polisi, ia meminta cangkok rambut tiga kali lebih banyak dari yang direkomendasikan. Saat ini tidak jelas apakah Dr Vikas Halwai, dokter kulit yang merawat Choudhary, menyetujui permintaan tersebut.

Namun Dr Halwai mengakui kepada polisi bahwa Choudhary memang merasakan efek komplikasinya selama tindakan. Transplantasi rambut dimulai Kamis malam lalu, setelah Choudhary menjalani pemeriksaan. Pada pukul 2.30 pagi pada hari Jumat, ia mulai menderita sakit leher. Dr Halwai mengklaim bahwa dia memberikan obat penghilang rasa sakit dan antibiotik.

Choudhary kemudian dibawa ke Rumah Sakit Global, Parel, ketika dia mulai mengalami kesulitan bernafas. Dia meninggal pada hari Sabtu di Rumah Sakit Hiranandani, setelah temannya membawanya ke sana pada hari Jumat.

Kematian Choudhary telah terdaftar sebagai kecelakaan oleh kepolisian setempat, namun penyelidikan tetap dilakukan. Belum ada penyebab kematian yang ditemukan. Namun, The Times of India mengklaim, dokter mengatakan, reaksi alergi parah yang dikenal sebagai syok anafilaksis adalah penjelasan yang paling mungkin.

Asosiasi Ahli Bedah Plastik Estetika di India mengklaim hanya sedikit pasien transplantasi rambut yang akan mengalami kesulitan bernapas. “Pasien sering mencoba menekan dokter untuk menutupi area yang luas dalam sekali pelayanan. Kami tidak merencanakan lebih dari 2.500-3.000 cangkok dalam satu kali pelayanan dan memastikan itu selesai dalam enam hingga delapan jam. Karena waktu yang lama dan anestesi yang lama dapat menambah masalah," ujarnya.

Editor           : Dyah Ratna Meta Novia
Reporter      : Dinda Lisna

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini