alexametrics

Perubahan Iklim Bisa Pengaruhi Masa Depan Vaksinasi

16 Februari 2019, 16:21:42 WIB

JawaPos.com – Gelombang panas dapat mengurangi respons kekebalan tubuh terhadap flu menurut penelitian baru pada tikus di Universitas Tokyo. Hasil penelitian itu memiliki implikasi untuk melihat bagaimana perubahan iklim dapat mempengaruhi masa depan vaksinasi dan nutrisi.

Perubahan iklim diperkirakan akan mengurangi hasil panen dan nilai gizi, serta memperluas jangkauan serangga yang menyebarkan penyakit. Namun, efek gelombang panas pada kekebalan terhadap influenza belum diteliti sebelumnya.

Profesor di University of Tokyo Associate Takeshi Ichinohe dan mahasiswa doktoral Miyu Moriyama menyelidiki bagaimana suhu tinggi mempengaruhi tikus yang terinfeksi virus influenza.

Flu dalam gelombang panas

“Flu adalah penyakit musim dingin. Saya pikir inilah sebabnya tidak ada orang lain yang mempelajari bagaimana suhu tinggi mempengaruhi flu,” kata Ichinohe seperti dilansir Science Daily. 

Virus influenza bertahan lebih baik di udara kering dan dingin, sehingga biasanya menginfeksi lebih banyak orang di musim dingin. Namun, Ichinohe tertarik pada bagaimana tubuh merespons setelah infeksi.

Para peneliti menempatkan tikus-tikus betina dewasa muda yang sehat pada suhu dingin lemari es (4 derajat Celcius), suhu kamar (22 C), atau suhu gelombang panas (36 C).

Ketika terinfeksi flu, sistem kekebalan tubuh tikus di ruang panas tidak merespons secara efektif. Selain itu, bakteri yang hidup di usus, yang semakin dianggap penting bagi kesehatan, tetap normal pada tikus yang tinggal di kamar panas.

Suhu dan nutrisi

Khususnya, tikus yang terpapar suhu tinggi makan lebih sedikit dan kehilangan 10 persen dari berat tubuhnya dalam waktu 24 jam pindah ke kamar panas. Berat badan mereka stabil pada hari kedua dan kemudian tikus terinfeksi dengan menghirup virus flu hidup pada hari kedelapan dari paparan panas.

Tikus yang hidup dalam suhu gelombang panas dapat meningkatkan respons imun normal jika para peneliti memberikan nutrisi tambahan sebelum dan setelah infeksi. Para peneliti memberi tikus glukosa atau asam lemak rantai pendek, bahan kimia yang diproduksi secara alami oleh bakteri usus.

Para peneliti sedang merencanakan proyek masa depan untuk lebih memahami efek suhu dan nutrisi pada sistem kekebalan tubuh, termasuk percobaan dengan tikus obesitas, penghambat kimiawi kematian sel, dan tingkat kelembaban yang berbeda.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : Verryana Novita Ningrum

Copy Editor :

Perubahan Iklim Bisa Pengaruhi Masa Depan Vaksinasi