JawaPos Radar

Uzbekistan Mulai Terbuka Setelah Terisolasi Puluhan Tahun

15/10/2018, 13:05 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Uzbekistan, Uzbekistan  mulai terbuka,
Uzbekistan, yang selama ini dikenal sebagai negara tertutup dengan kebebasan individu yang terbatas, sekarang membuka dirinya (Silk Road Destinations)
Share this

JawaPos.com - Pada tanggal 25 September, staf ramah di Mahkamah Agung Uzbekistan menyambut hangat puluhan tamu, di antaranya wartawan, diplomat asing, dan anggota komunitas internasional, untuk mengambil foto-foto interior gedung yang mengesankan. Dilansir dari Al Jazeera pada Minggu, (14/10), momen tersebut adalah kali pertama Mahkamah Agung Uzbekistan terbuka untuk publikasi ke dunia internasional secara luas.

Dengan bantuan  United States Agency for International Development dan Program PBB, Mahkamah Agung Uzbekistan juga meluncurkan situs web baru yang menampilkan fitur-fitur lainnya. Memungkinkan publik untuk melihat pengadilan di seluruh negeri secara real time online. Sementara proyek percontohan melibatkan 12 pengadilan, secara bertahap akan diperluas ke seluruh negara.

Uzbekistan, yang selama ini dikenal sebagai negara tertutup dengan kebebasan individu yang terbatas, sekarang membuka dirinya. Sejak Presiden Shavkat Mirziyoyev mengambil alih kekuasaan pada bulan Desember 2016, setelah kematian Islam Karimov, yang memerintah Uzbek sejak 1991, Uzbekistan telah berada di jalur reformasi.

Uzbekistan, Uzbekistan  mulai terbuka,
Sejak Presiden Shavkat Mirziyoyev mengambil alih kekuasaan pada bulan Desember 2016, setelah kematian Islam Karimov, yang memerintah Uzbek sejak 1991, Uzbekistan telah berada di jalur reformasi (Times of India)

Mulai dari reformasi hukum, yang bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan aksesibilitas pengadilan yang diduga korup, telah menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan citra Uzbekistan.

Dihadapkan dengan ekonomi yang ambruk, isolasi internasional, dan meningkatnya jumlah pemuda yang menganggur, Uzbekistan harus membuka diri. "Agenda reformasi yang dilancarkan presiden pada Februari tahun lalu, Strategi Aksi, sangat selaras dengan apa yang sedang dikerjakan PBB secara global melalui Agenda 2030," kata Koordinator Residen PBB dan Perwakilan Penduduk UNDP di Uzbekistan Helena Fraser.

Menurutnya, agenda ini termasuk reformasi peradilan, reformasi administrasi publik, liberalisasi ekonomi, pendidikan, kesehatan dan reformasi perlindungan sosial, dan kemudian menarik, pilar kelima adalah tentang keamanan, toleransi dan kebijakan luar negeri yang konstruktif. Reformasi telah mencakup semua lingkup kehidupan sosial dan politik dari membebaskan mata uang negara untuk melakukan normalisasi hubungan dengan negara tetangganya.

Sementara itu, perubahan yang terjadi telah menjadi kejutan bagi semua orang, paling tidak bagi orang Uzbekistan sendiri. Bahkan, warga sekarang bisa mengadukan kritik mereka pada pemerintahan. Termasuk keluhan tentang pejabat lokal yang korup. Hal ini diharapkan membuat birokrat lebih bertanggung jawab dan tanggap terhadap publik.

Di negara yang tidak memiliki pengalaman demokratis, di mana hingga saat ini warga hanya memiliki sedikit hak dan ketakutan, orang-orang diharapkan dapat mendiskusikan masalah mereka secara terbuka. Media sosial telah menjadi platform yang dinamis bagi para aktivis, blogger, jurnalis dan warga negara untuk membahas masalah-masalah paling mendesak di negara ini.

Hal terpenting, Presiden Shavkat Mirziyoyev secara terbuka mengakui pelanggaran pemerintahan sebelumnya dan bersumpah untuk mengatasi catatan hak asasi manusia negara yang mengerikan. Dia telah membuktikan ini bukan hanya kata-kata.

Perkembangan paling menonjol tentang hak asasi manusia, dua tahun kepresidenan Mirziyoyev adalah pembebasan sekitar 30 atau lebih tahanan politik. "Kami telah melihat munculnya lingkungan media yang cukup dinamis dibandingkan dengan apa yang dulu," ujar Peneliti Human Rights Watch Central Asia Steve Swerdlow.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up