JawaPos Radar

Pedagang Lintas Batas Takut Bawa Gula dan Elpiji Malaysia ke Nunukan

15/10/2018, 18:46 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
pedagang lintas batas, malaysia, indonesia,
Para pengusaha atau pedagang lintas batas yang telah akrab berbelanja barang di Tawau, Malaysia merasa takut membawa produk Malaysia masuk Nunukan (MYTWU)
Share this

JawaPos.com - Penangkapan yang dilakukan oleh lintas instansi terhadap produk asal Malaysia di perbatasan Nunukan akhir-akhir ini membuat gelisah pengusaha antar Indonesia-Malaysia. Para pengusaha atau pedagang lintas batas yang telah akrab berbelanja barang di Tawau, Malaysia merasa takut membawa produk Malaysia masuk Nunukan.

Seperti yang diungkapkan salah seorang pedagang lintas batas, Hasan. Sejak dilakukan beberapa kali penangkapan terhadap kapal yang mengangkut barang dari Tawau, para pengusaha mengurangi kegiatan mereka. “Pasti tidak ada yang ingin jadi korban, jadi saat ini lebih hati-hati saja membawa produk Malaysia ke Nunukan. Karena menjadi incaran aparat,” ujar Hasan seperti dilansir Prokal.co (Jawa Pos Grup), Minggu, (14/10).

Menurutnya, perdagangan lintas batas antara Indonesia-Malaysia sulit dihilangkan. Semakin sering dilakukan penangkapan, tentu yang dirugikan adalah para pedagang. Selama ini produk Malaysia yang dibawa masuk ke Nunukan memiliki legalitas, bukan masuk sebagai barang selundupan.

pedagang lintas batas, malaysia, indonesia,
Penangkapan yang dilakukan oleh lintas instansi terhadap produk asal Malaysia di perbatasan Nunukan akhir-akhir ini membuat gelisah pengusaha antar Indonesia-Malaysia (DNA India)

Hasan menilai penangkapan produk Malaysia semakin intens dilakukan beberapa bulan terakhir. Seperti produk Malaysia yang diamankan di Jembatan Bongkok, Sei Bolong, Kelurahan Nunukan Utara, serta penangkapan kapal sembako. Padahal aktivitas tersebut dilakukan sejak bertahun-tahun yang lalu.

“Jika memang dilarang, sekalian tutup saja pintu masuk dan keluar di daerah perbatasan. Agar masyarakat tidak ada yang mengonsumsi atau menggunakan produk Malaysia,” katanya kesal.

Sementara Ketua Himpunan Pedagang Lintas Batas (HPLB) Nunukan H. Andi Mutamir mengaku jika kegelisahan itu dialami rerata pedagang lintas batas. Menurutnya, indikasi paling jelas akhir-akhir ini, menurunnya stok barang-barang kebutuhan asal Malaysia. “Perubahannya sangat jelas. Baik barang-barang dari Sebatik maupun langsung ke Nunukan. Volume barangnya terbatas. Harga tinggi, karena langka,” kata ayah empat anak ini.

Menurut Andi, sejumlah kebutuhan pokok asal Malaysia masih sangat dibutuhkan masyarakat Nunukan. Utamanya gula pasir dan elpiji atau tong gas.

Menurut Mutamir, perdagangan lintas batas tidak cukup berkurang dibanding beberapa tahun lalu. “Pasti ketika stok cukup untuk konsumsi Nunukan, harganya turun. Dua saja yang paling kami butuhkan, khusus sembako. Lainnya mengikut saja. Pemda belum bisa menyanggupi ini. Menghadirkan elpiji dan gula pasir dengan harga terjangkau.”

Beberapa pedagang yang ditangkap harus mengembalikan barangnya ke Tawau. “Ada yang dikembalikan juga ke Tawau. Yang terbaru, pakan ayam, ditahan Balai Karantina Pertanian (BKP). Sampai sekarang kami tidak tahu. Membuat pedagang resah. Pakan ayam itu, untuk peternakan. Daging ayam naik juga nanti. Kalau enggak ada kearifan lokal, yah tunggu saja harga mahal semua,” kata Mutamir.

Ia mencontohkan, harga gula pasir yang biasa dijual di toko kelontong, paling mahal Rp 13 ribu/kg. Harga saat ini, lebih dari itu, hingga Rp 16 ribu/kg. Elpiji 14 kg menyentuh harga Rp 300 ribu.

“Hal yang paling ditunggu pedagang itu ada kejelasan dari pemda, bupati dan stakeholder terkait. Kearifan lokal seperti apa? Yang mana kearifan lokal antarnegara. Sebagai stakeholder, harus ada pertemuan atau coffee morning membahas ini. Kasihan masyarakat di bawah, yang berusaha. Bagaimana aturan mainnya. Walaupun itu dipahami tidak sesuai dengan UU, tetapi bagaimana kepala daerah bisa menjamin keberlangsungan usaha dan kebutuhan masyarakatnya. Bisa melaksanakan kegiatan seperti sediakala,” sarannya.

(met/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up