alexametrics

Pengunjuk Rasa Hongkong Kapok, Cari Strategi Aman

15 Agustus 2019, 18:27:02 WIB

JawaPos.com – Permintaan maaf yang disampaikan pengunjuk rasa Hongkong lantaran sudah membuat kekacauan dalam hal operasional bandara dinilai sebagai wujud jera. Dalam artian, mereka tak akan melakukan aksi serupa yang menyebabkan lumpuhnya salah satu denyut nadi ekonomi Hongkong. Hal tersebut seperti disampaikan oleh Samson Yuen, pakar ilmu politik Universitas Lingnan, Hongkong.

Seperti diketahui, usai mengakibatkan dibatalkannya ratusan jadwal penerbangan di Bandara Hongkong pada Senin (12/8) dan Selasa (13/8), sejumlah demonstran menyampaikan permintaan maaf yang ditujukan kepada penumpang. Mereka mmbentangkan poster bertuliskan permintaan maaf di terminal keberangkatan Bandara Hongkong.

Setelah ricuh di Bandara Hongkong pada Rabu (14/8) dini hari waktu setempat, sebagian besar pengunjuk rasa memilih beristirahat. Hanya segelintir yang kembali ke bandara, dan itu pun hanya sekadar membentangkan poster permintaan maaf.

Para pengunjuk rasa juga membanjiri Telegram dan media sosial lainnya dengan gambar-gambar minta maaf. Beredar gambar bertuliskan permintaan maaf “Kami meminta maaf atas perilaku kami, kami terlalu takut dengan yang terjadi”. Bunyi yang lain “Permintaan maaf yang tulus kepada para wisatawan yang terkena dampak. Kami meminta pengertian dan pengampunan Anda ketika orang-orang muda di Hongkong terus berjuang untuk kebebasan dan demokrasi”.

Di sisi lain, dikabarkan sejumlah pengunjuk rasa mulai membahas aturan dasar yang baru terkait pelaksanaan demonstrasi. Salah satunya tidak menghalangi pekerjaan jurnalis meski itu dicurigai sebagai mata-mata.

“Saya pikir pasti ada peningkatan untuk melakukan aksi yang lebih masif di pihak pengunjuk rasa. Tapi, saya pikir mereka menyadari bahwa melakukan penyanderaan telah merusak seluruh jalannya protes dan tentunya tujuan utama,” sebut Yuen seperti dilansir Al Jazeera.

“Sebenarnya unjuk rasa di bandara dimaksudkan untuk mendapatkan dukungan internasional. Tetapi peristiwa pada Selasa dan Rabu justru menjadi bumerang dan akhirnya pengunjuk rasa diasingkan komunitas internasional”, imbuh Yuen.

Yuen menambahkan, bahwa para pengunjuk rasa disebutnya telah menyadari kesalahan mereka. “Selain itu, sifat dari gerakan tanpa pemimpin berarti mereka akan mundur dan akan ada koreksi sebelum melakukan aksi selanjutnya,” kata Yuen.

Sementara itu, politisi pro demokrasi, Claudia Mo mengatakan bahwa kekacauan di bandara muncul akibat dari meningkatnya frustrasi dan kemarahan pengunjuk rasa lantaran tidak adanya respons dari pemerintah. Mo sendiri yakin demonstran akan berjuang dengan cara yang lebih aman dan tak akan mengulangi kericuhan yang telah terjadi.

“Saya cukup percaya diri. Tidak akan ada pengulangan dari apa yang terjadi dalam dua hari terakhir,” tegas Mo.

Meski ada kemarahan publik terkait insiden di bandara pada Senin dan Selasa kemarin, Mo tidak berpikir gerakan pro demokrasi akan kehilangan dukungan publik. “Para pengunjuk rasa mungkin telah kehilangan sedikit dukungan publik, tetapi itu tak terlalu banyak,” pungkas Mo.

Editor : Edy Pramana


Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads