alexametrics

Aksinya Bikin Lumpuh Bandara Hongkong, Demonstran Minta Maaf

15 Agustus 2019, 17:07:24 WIB

JawaPos.com – Aktivitas penerbangan Hongkong bisa dibilang lumpuh pada Senin (12/8) dan Selasa (13/8). Itu akibat tindakan demonstran pro demokrasi yang menentang RUU Ekstradisi. Dengan berpakaian serbahitam, mereka menduduki terminal keberangkatan dalam dua hari tersebut. Akibatnya, otoritas bandara memutuskan membatalkan ratusan jadwal penerbangan dari Hongkong.

Atas kerugian yang ditimbulkan, usai dibubarkan paksa oleh aparat kepolisian, pengunjuk rasa menyampaikan permintaan maaf. Itu ditujukan kepada calon penumpang yang akhirnya batal terbang dan telah membuat kekacauan di bandara. Maklum saja, sempat terjadi bentrok ketika aparat kepolisian membubarkan pengunjuk rasa secara represif.

Selain meminta maaf, pengunjuk rasa tetap akan terus bergerak untuk mendapatkan dukungan internasional.

Sejatinya para demonstran berupaya membatasi potensi kerusakan dalam aksinya di Bandara Hongkong. Kerusakan memang bisa diminimalkan, namun operasional bandara tetap terganggu dan lumpuh. Itu yang membuat sejumlah calon penumpang merasa kesal.

Usai disterilkan pada Rabu (14/8), sejumlah pengunjuk rasa masih bertahan di bandara. Namun, mereka bukan melakukan aksi protes melainkan meminta maaf kepada para penumpang. Mereka menyapa penumpang yang datang ke bandara sambil membawa poster dan spanduk bertuliskan permintaan maaf.

“Maaf tentang apa yang terjadi kemarin,” bunyi salah satu spanduk yang dibawa pengunjuk rasa. “Kami putus asa. Mohon terima permintaan maaf kami,” bunyi poster yang lain.

Pengunjuk rasa Hongkongmenunjukkan poster permintaan maaf (Al Jazeera)

Aksi menduduki area keberangkatan Bandara Hongkong yang dilakukan demonstran telah membuat sekitar 180 jadwal penerbangan pada Senin (12/8) dibatalkan. Pada Selasa (13/8), demosntran kembali merangsek ke bandara dan membuat otoritas bandara membatalkan sekitar 400 jadwal penerbangan.

Pembubaran demontran sendiri berlangsung ricuh. Aparat kepolisian menggunakan semprotan merica untuk membubarkan pengunjuk rasa. Menurut Samson Yuen, pakar ilmu politik di Universitas Lingnan, memberikan dua alasan kenapa kerusuhan bisa terjadi.

Pertama, dia menyebut para pengunjuk rasa sangat paranoid terhadap polisi. Yuen mengatakan kepada Al Jazeera, hal itu merujuk pada insiden hari Minggu (11/8) saat polisi yang menyamar menyerang dan menangkap demonstran. “Sayau pikir itu bisa menjelaskan mengapa pengunjuk rasa tiba-tiba kehilangan kendali,” sebutnya.

Kedua, gerakan pro demokrasi adalah gerakan tanpa pemimpin. “Sangat mudah bagi gerakan tanpa pemimpin untuk melakukan kesalahan. Mereka mendorong untuk melewati batas kewenangan. Itu yang membuat mereka tak bisa menghindari kericuhan dengan aparat,” pungkas Yuen.

Editor : Edy Pramana


Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads