JawaPos Radar

Bagi Rakyat Turki, Ini Deklarasi Perang

Oleh BERNANDO J. SUJIBTO*

15/08/2018, 17:23 WIB | Editor: Ilham Safutra
Bagi Rakyat Turki, Ini Deklarasi Perang
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melambaikan tangan kepada pendukungnya. (TURKISH PRESIDENTIAL PRESS SERVICE/AFP)
Share this image

JawaPos.com - Dalam seminggu terakhir, mata uang Turki lira nyungsep di level terburuk sejak diredenominasi pada 2005 Tren pelemahan nilai tukar Turkish lira (TL) selama 2018 sejak Jumat sampai Minggu (10-12/8) ambles lebih dari 79 persen terhadap dolar.

Memburuknya lira dan ekonomi makro Turki secara umum terjadi setelah Turki tidak mengindahkan permintaan Wakil Presiden AS Mike Pence pada 26 Juli 2018 untuk melepaskan pendeta Amerika Andrew Craig Brunson yang ditangkap pada Oktober 2016. Brunson dituduh telah menjadi bagian komplotan dari rencana kudeta gagal tiga bulan sebelumnya. Yang diklaim rezim Recep Tayyip Erdogan diorkestrasi kelompok Fethullah Gulen.

Pence sebenarnya sudah menyampaikan akan ada sanksi di balik sikap Turki yang tidak kooperatif. Dan, itu terbukti sejak 1 Agustus. Kementerian Keuangan AS memberlakukan sanksi kepada dua orang dalam pemerintahan Erdogan yang terlibat dalam penangkapan Brunson: Meteri Keadilan Abdulhamit Gul dan Menteri Interior Suleyman Soylu.

Setelah ketegangan tersebut, citra negatif nilai tukar lira terhadap dolar terus meningkat. Puncaknya terjadi ketika Presiden AS Donald Trump secara sepihak menaikkan tarif untuk komoditas ekspor Turki berupa besi dan aluminium.

''Our relations with Turkey are not good at this time!" tulis Trump di akun Twitter pribadinya, @realDonaldTrump, pada 20 Agustus lalu.

Pernyataan terbuka Trump tersebut memunculkan kritik dan respons yang keras. Baik dari rakyat Turki maupun dunia. Sikap Trump dinilai tidak etis karena ditujukan kepada Turki yang sama-sama satu sekutu dalam NATO.

Tetapi, Trump tetaplah seorang Trump dengan setumpuk kebijakan luar negerinya yang membuat marah dan frustrasi publik internasional.

Lalu, siapa pemenang dari konflik ini? Rupanya, Trump tidak memahami struktur dan masyarakat Turki hari ini. Atau, seperti biasa telah menjadi gaya reaktif Trump, langkah terhadap Turki dijadikan shock therapy. Sekaligus mengetes kemampuan bertahan Turki dalam konteks ekonomi.

AS mungkin memang bisa melakukan apa saja terhadap negara-negara berkembang. Tapi, khusus kepada Turki di bawah Erdogan, Trump semestinya lebih berhati-hati. Sebab, kedua negara berada di dalam NATO. Yang artinya, mereka terikat dalam traktat dan kesepakatan yang saling menguntungkan. Di samping itu, Erdogan harus dilihat sebagai pemain aktif di kawasan sehingga Turki tidak bisa ditekan secara sembarangan.

Sementara itu, masyarakat Turki dari hari ke hari semakin menunjukkan sikap solider dan nasionalisme yang makin berkobar terhadap negeri mereka. Pelajaran kudeta 15 Juli lalu menjadi titik balik untuk melihat gelombang partisipasi aktif dan sikap solidaritas tinggi yang melampaui kepentingan ideologis di internal mereka.

Kondisi seperti itu, yang lebih banyak menyasar aspek emosi dan sekaligus memori kolektif, dikelola dengan sangat baik oleh pemimpin nomor satu mereka, Recep Tayyip Erdogan.

Dalam pandangan mayoritas rakyat Turki, sikap dan pernyataan Trump tidak lagi menyasar satu atau dua sosok dalam pemerintahan Erdogan, tapi ibarat mendeklarasikan ''perang" kepada negara dan bangsa yang efeknya berbeda secara populis.

Optimisme masyarakat Turki melawan tekanan Amerika bisa dilihat karena pemerintahan Erdogan dinilai mampu menyeberang dan membangun kerja sama baru dengan aktor-aktor lain di kawasan. Khususnya Rusia.

Artinya, kehilangan aliansi dengan Amerika, dan bahkan NATO, bukanlah kemunduran bagi Turki yang secara infrastruktur sudah siap untuk menjadi negara kuat.

Sementara itu, bagi oposisi, kondisi tersebut dinilai sebagai dampak dari salah urus ekonomi internal negara. Mereka menyuarakan sikap sinisnya dengan semboyan ayni gemede degiliz (kami bukan dari kapal yang sama) untuk mengkritik kondisi ekonomi di bawah Erdogan. Tetapi, secara mayoritas, Erdogan tetap mendapatkan kepercayaan penuh dari rakyat luas dan lembaga-lembaga bisnis seperti TUSIAD, TOBB, dan termasuk dari internal perbankan Turki.

Melihat sikap optimistis seperti itu, saya yakin Turki tidak akan terjatuh ke dalam krisis finansial tahun 1997-1998 seperti yang dikhawatirkan para ekonom Eropa.

Tetapi, keyakinan rakyat terhadap Erdogan harus dibayar dengan keberhasilan membawa Turki keluar dari jebakan ujian seperti ini. Jika sampai tidak berhasil, perang ekonomi ini akan menjadi catatan merah bagi sistem negara yang baru diubah Erdogan dari parlementer ke presidensial.

Selain itu, modal relasi dengan kekuatan selatan (south power) seperti negara-negara Teluk dimanfaatkan secara maksimal. Berat Albayrak selalu menteri ekonomi dan keuangan Turki bergerak cepat mengetuk pintu negara-negara seperti Qatar dan Kuwait. Negara-negara seperti Rusia, Iran, dan Pakistan juga sudah menyatakan siap membantu menyehatkan ekonomi Turki.

Sementara itu, negara tetangga di Eropa seperti Yunani, Italia, dan Jerman menunjukkan dukungannya kepada Turki. 

Penulis adalah peneliti dan analis sosial politik Turki, alumnus pascasarjana sosiologi di Selcuk University Turki

(*)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up