JawaPos Radar

Kembali ke Fitrah

Imam Besar Italia: Idul Fitri Sarana Berterima Kasih kepada Allah SWT

15/06/2018, 04:00 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Imam Besar Italia: Idul Fitri Sarana Berterima Kasih kepada Allah SWT
Imam Italia (kiri) mengatakan, momen Idul fitri sebagai momen untuk berterima kasih kepada Allah SWT (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Pada Hari Raya Idul Fitri 1439 H, Imam Besar Italia Yahya Sergio Yahe Pallavicini akan menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman di Milan, Italia. Layaknya di Indonesia, umat Muslim di Italia juga menerima tamu maupun mendatangani tamu sesama Muslim yang merayakan.

Mereka juga datang ke masjid-masjid. Namun perbedaannya adalah Hari Raya Idul Fitri belum menjadi libur nasional di Italia. Setelah Salat Ied dan silaturahmi, semua Muslim kembali menjalankan aktivitas normal.

Menurut Sergio, Idul Fitri mengembalikan akar dan identitas keagamaan alami. Dia dan umat Muslim di Italia dapat merasakan emosi ini dan dengan tulus berterima kasih kepada Allah SWT.

Imam Besar Italia: Idul Fitri Sarana Berterima Kasih kepada Allah SWT
Idul Fitri, momen indah yang dinantikan Muslim dunia (Odyssesy)

"Jika kita melihat ke kutipan tentang Ramadan di Surat Al Baqarah, kita menemukan bahwa puasa dimulai sebagai kesempatan manusia untuk bertakwa, mempertebal kesalehan, dan berakhir sebagai kesempatan manusia untuk bersyukur atau berterima kasih," katanya saat dihubungi JawaPos.com, Kamis, (13/6).

Tak jarang Muslim di Italia mendapat tantangan sebagai minoritas. Seperti ketidaktahuan mengenai Muslim yang sebenarnya yang menyebabkan interpretasi negatif mengenai Islam.

Namun, menurut Imam Besar yang juga Presiden Komunitas Muslim atau Comunita Religiosa Islamica Italiana (COREIS), ia dan Muslim lainnya berusaha untuk menanggapinya dengan hati, dan membantu satu sama lain. Menurutnya, Allah selalu memberikan bantuan bagi mereka.

"Kita harus meghadapi situasi ini dengan pengetahuan dan budaya. Kita harus kritis tetapi konstruktif. Sabar tetapi bijaksana. Kembangkan disiplin intelektual tanpa kebencian. Kerukunan spiritual tanpa pelanggaran atau kekerasan. Memberikan pengetahuan dan bukan provokasi," ujarnya.

Ia juga bercerita sedikit tentang dirinya yang menjadi Muslim di Italia. Orangtua Sergio masuk Islam, Ayahnya adalah orang Italia dan ibunya adalah orang Jepang.

"Saya lahir sebagai Muslim pada 1965, ayah saya adalah Syaikh Abd Al Wahid meninggal tahun lalu pada November," katanya.

(iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up