alexametrics

Lebih dari 97 Persen Pekerja Domestik Asing di Singapura Mengaku Puas

15 April 2019, 16:39:48 WIB

JawaPos.com – Ministry of Manpower Singapura merespons artikel Deutsche Welle (DW) yang berjudul Pekerja domestik asing di Singapura menderita akibat diekspolitasi dan disiksa merupakan kesalahan dalam menggambarkan kondisi pekerja domestik asing atau foreign domestic workers (FWDs) di Singapura. Selain pernyataan dalam berita itu hanya berlandaskan berbagai kasus pelecehan FWDs, artikel itu juga mengutip studi Ministry of Manpower (MOM) dengan cara yang salah.

Berdasarkan survei independen MOM 2015, lebih dari 97 persen pekerja domestik asing di Singapura mengaku sangat puas kerja di negara tersebut. Bahkan hampir 80 persen pekerja domestik asing ingin melanjutkan kerja lagi di Singapura.

Hukum dan peraturan Singapura yang dicek secara teratur menyediakan perlindungan komprehensif bagi para pekerja domestik asing. Aturan itu termasuk memastikan pekerja mendapatkan makanan, akomodasi, hari libur, gaji, dan keamanan kerja yang memadai.

Singapura juga punya rekor yang jelas bagaimana negara tersebut punya aturan ketat melarang pelecehan dan eksploitasi terhadap pekerja domestik asing. Singapura menanggapi secara serius kasus pelecehan terhadap pekerja domestik asing melalui investigasi secara menyeluruh semua komplain yang masuk.

Bagi siapa pun yang melakukan pelecehan terhadap pekerja domestik asing akan menghadapi 1,5 kali hukuman maksimal di bawah hukuman pidana dan dilarang mempekerjakan pekerja domestik asing di masa depan.

Seperti dilansir dalam siaran pers MOM, di Singapura MOM selalu memberikan edukasi kepada pekerja domestik asing tentang berbagai hak dan kewajiban mereka. Mereka juga diberi tahu saluran di mana mereka bisa mendapat bantuan.

Pekerja domestik asing wajib menjalani Settling In Programme saat pertama kali mereka mau kerja di Singapura. MOM juga melakukan wawancara pertama kali dengan pekerja domestik asing untuk memastikan mereka tinggal dengan kondisi baik di Singapura.

Situasi yang digambarkan DW dalam artikel pekerja domestik asing di Singapura menderita akibat diekspolitasi dan disiksa jauh dari kenyataan kehidupan pekerja domestik asing di Singapura.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia