alexametrics

Brexit Bikin Stres Pembuat Peta

15 April 2019, 23:54:00 WIB

JawaPos.com – Perjalanan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (UE) masih serba-tidak pasti. Inggris diberi waktu tambahan enam bulan untuk menentukan ingin Brexit atau batal bercerai. Situasi yang bikin beberapa kalangan kebingungan.

Mesin cetak milik perusahaan AEDIS di Desa Lempdes, Clermont-Ferrand, Prancis, tak lagi bekerja keras seperti dulu. Barang itu tak lagi memuntahkan ratusan lembar peta perjalanan. Waktu istirahat. Hitung-hitung mesin dan pegawainya tak bekerja keras bagai kuda.

Ini bukan kisah industri kertas yang tergeser platform digital. Perusahaan dengan 12 pegawai di pabrik percetakan peta dan buku panduan itu bukan tertekan karena industri yang lesu. Rilisan mereka masih laku di rest area pada jalan-jalan tol sepanjang Eropa.

Mereka tertekan karena debat kusir yang terjadi 880 kilometer dari pabrik mereka. Lebih tepatnya perdebatan politik yang terjadi di Istana Westminster, London, kantor parlemen Inggris. ”Kami benar-benar hilang arah,” ujar Manajer AEDIS Henri Medori kepada Agence France Presse.

Sekilas, seharusnya Medori dan kawan-kawan bisa memilih peduli setan terhadap nasib negara tetangga mereka. Namun, nafkah mereka terkait erat dengan status Inggris di Uni Eropa. Kalau mereka keluar, peta Uni Eropa versi mereka harus diubah. ”Kami punya 10 buku yang berisi peta Eropa. Masalahnya jadi rumit,” ujarnya.

Pada 2016, ketika pemerintah Inggris kali pertama mengumumkan Brexit, perusahaannya jadi salah satu yang mencuri start. Dia langsung mencetak peta versi EU27. Angka 27 menunjukkan jumlah negara di Uni Eropa minus Inggris. Itu dilakukan karena banyak pembeli peta yang melayangkan protes. ”Mereka bilang, peta kita tidak akurat karena masih mencantumkan Inggris,” katanya.

Beberapa bulan kemudian, surat elektronik datang dan memprotes versi terbaru mereka. Menurut mereka, AEDIS sudah keterlaluan karena mencoret Inggris dari Uni Eropa. Sebab, saat itu Inggris masih punya perwakilan di parlemen UE. Solusi terakhir, mereka harus mencantumkan kolom yang menjelaskan Brexit di peta mereka.

”Selama satu setengah tahun, kami menyerah untuk menjual produk-produk ini,” ujar Medori. Tidak ada panduan khusus dari lembaga EU untuk mengatasi masalah tersebut.

Menjelang 29 Maret, mereka bersiap untuk menjual versi EU 27. Versi tersebut cukup laku dan terjual 6 ribu eksemplar di sepanjang Eropa. Namun, tenggat itu ditangguhkan sampai 12 April. Kemudian, datang penangguhan yang lebih panjang hingga 31 Oktober. ”Sekarang kami kira lebih baik menunggu sampai masalah Brexit jelas,” katanya.

Penundaan jangka panjang tersebut memang membuat nasib Inggris kembali abu-abu. Semua pilihan terbuka. Termasuk membatalkan keputusan bercerai. Opsi itu terus didorong Partai Buruh.

Opsi yang sama didorong oleh sebagian besar negara Uni Eropa. Mereka tahu bahwa keluarnya Inggris dari organisasi regional itu bukan hal yang bagus. Terutama nelayan-nelayan asing.

”Sebanyak 50 persen tangkapan nelayan Belanda datang dari perairan Inggris. Jadi, bagi kami, Brexit adalah tragedi,” ungkap nakhoda kapal nelayan Cor Vonk.

 

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : (bil/c6/sof)