JawaPos Radar

Mantan Jenderal Inggris Ragukan Senjata Kimia di Syria

15/04/2018, 10:40 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
serangan syria, rudal AS syria
Serangan rudal Amerika Serikat ke Syria (AP)
Share this image

JawaPos.com - Serangan senjata kimia di Douma, Syria, masih menjadi teka-teki kebenarannya. Salah seorang mantan jenderal dan ahli militer Inggris Jonathan Shaw rupanya meragukan adanya serangan senjata kimia tersebut.

Hal tersebut dikatakannya ketika dia menjadi pembicara di Sky News. Sayangnya, belum selesai menjelaskan keraguannya tentang serangan senjata kimia, pembawa acara Sky News tiba-tiba memotong pembicaraan Shaw.

Sebagaimana JawaPos.com lansir dari Sputnik, Shaw saat itu ditanya apakah parlemen Inggris harus menyetujui intervensi Inggris di Syria? "Apa motif dari Syria yang memicu mereka menggunakan senjata kimia saat ini," jawabnya.

serangan syria, rudal AS syria
mantan jenderal dan ahli militer Inggris Jonathan Shaw (kanan) saat diwawancarai pembawa berita Sky News. (Sputnik)

Menurut dia, pasukan Presiden Syria Bashar Assad memenangkan perang di Syria. Hal ini seharusnya tidak membuat Amerika Serikat (AS) dan sekutunya kembali melakukan serangan.

"Anda tahu, Syria menang! Kepala CENTCOM Jenderal Votel berkata kepada Kongres beberapa hari lalu bahwa Assad telah memenangkan perang ini dan mereka perlu menghadapi itu. Kemudian bukankah Anda mendengar pernyataan Trump pada minggu lalu bahwa Amerika telah selesai dengan ISIS dan mereka akan segera keluar dari perang Syria," kata Shaw.

Lalu Shaw melanjutkan dengan mengatakan, "dan kemudian Anda tiba-tiba mendapatkan..." tiba-tiba sang pembawa berita, Samantha memotong perkataan Shaw dan meminta maaf bahwa percakapan harus diakhiri.

Sementara itu, pada Jumat (13/4), juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov mengatakan, AS dan negara-negara Barat terus menerus melanjutkan tuduhan tidak berdasar mereka terhadap pemerintah Syria. Mereka terus menuduh dugaan penggunaan senjata kimia terhadap warga sipil di kota Douma, Syria.

"Namun, hampir satu minggu berlalu, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa telah gagal memberikan bukti," katanya.

Konashenkov mengecam dugaan serangan senjata kimia di Douma sebagai provokasi terencana yang dilancarkan oleh beberapa LSM oposisi Syria, termasuk White Helmets. Tujuannya untuk mendorong AS untuk melakukan serangan rudal ke Syria.

Serangan AS itu diluncurkan pada Sabtu (14/4) dini hari. Sedikitnya 110 rudal diluncurkan kapal perang AS di sasaran sipil dan militer Syria. Serangan itu juga didukung dengan jet tempur Inggris dan Perancis.

Sebagian besar rudal dihadang sistem pertahanan udara Syria. Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut serangan Syria sebagai tindakan agresi terhadap negara berdaulat.

(iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up