alexametrics

Perawat di Australia Mogok Kerja, Minta Naik Gaji Akibat Kelelahan

15 Februari 2022, 16:03:14 WIB

JawaPos.com – Ribuan perawat di negara bagian terpadat Australia meninggalkan pekerjaannya pada Selasa (15/2). Itu untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade untuk memulai pemogokan selama 24 jam. Aksi itu menyusul kegagalan pembicaraan dengan pemerintah untuk mengatasi kekurangan staf dan menetapkan kenaikan gaji.

Perawat dan bidan di seluruh Negara Bagian New South Wales (NSW) melanggar perintah menit terakhir dari komisi hubungan industri negara bagian. Sebelumnya, para perawat diminta membatalkan pemogokan yang dikatakannya dapat membahayakan kesehatan masyarakat.

Para perawat berkumpul di depan gedung parlemen negara bagian di Sydney dan memegang plakat bertuliskan “Lelah, lelah, lelah dan lelah”, “Butuh lebih banyak perawat sekarang” dan “Berhenti menyuruh kami untuk mengatasinya”. Perawat telah menuntut kenaikan gaji lebih dari 2,5 persen dan rasio perawat-pasien yang lebih baik.

Pemogokan itu akan berlangsung sepanjang hari dan mencakup staf dari lebih dari 150 rumah sakit di seluruh negara bagian itu. Menteri Kesehatan negara bagian NSW, Brad Hazzard mengatakan aksi itu sangat disayangkan dan mengecewakan bahwa para perawat bersikeras dengan pemogokan.

Hazzard kepada stasiun radio 2GB mengatakan pemerintah sedang mencari solusi. Beberapa pihak menyarankan perubahan terhadap rasio perawat-pasien akan memakan biaya USD 1 miliar.

Kemunculan Omicron, varian yang cepat menular di Australia pada akhir November lalu memicu lonjakan infeksi Covid-19 dan membuat rumah sakit kewalahan. Tercatat sekitar 2,6 juta kasus terkonfirmasi secara keseluruhan di negara itu.

Jumlah kasus baru cenderung lebih rendah dalam beberapa hari terakhir. Hanya 23.000 kasus baru dilaporkan pada Selasa (15/2) siang, sementara kasus rawat inap turun ke sekitar 3.000 kasus dari puncaknya sebanyak 5.400 kasus tiga pekan lalu. Pejabat setempat mencatat 46 kematian baru, sehingga total selama pandemi menjadi sebanyak 4.664 kematian.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Antara

Saksikan video menarik berikut ini: